Senin, 27 Mei 2019

STORY MY WORD

DARI SEPTEMBER UNTUK AGUSTUS



Dari aku untuk seseorang yang kukagumi dengan caraku. Dari aku untuk seseorang yang sukses membuat cinta menjatuhkan hatiku atas namanya. Dari aku yang dianggap teman saja tidak, cuma dianggap fans. Dari aku yang yang selalu buang muka ketika papasan dijalan. Dari aku yang selalu berjuang menghindar untuk bertemu. Dari aku yang chatnya cuma dibalas hehehe, iyaaaa, hahaha, atau sebatas emotikon. Dari aku yang pernah diam-diam mencarimu, hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Dari aku yang selalu ambyar hati, pikiran dan benteng move on-nya setelah ditatap jarak jauh atau pun dekat olehmu. Dari aku yang selalu menyimpan rindu yang penuh hingga tak sanggup dan mengabadikannya lewat sebuah tulisan yang tak pernah kau pedulikan. Dari aku yang hanya mampu menjadikanmu bahan halusinasi bukan realisasi.
Teruntukmu, yang cuek. Teruntukmu, yang dikagumi banyak cewek. Teruntukmu, yang tak pernah punya atau menyajikan materi chat. Teruntukmu, dengan ilmu dunia dan ilmu agama yang kukagumi. Teruntukmu, dengan dunia organisasi dan musik yang kau gemari. Teruntukmu, yang hanya diam dengan tatapan sama dinyata atau mimpi. Teruntukmu, yang selalu saja dapat nada tinggi dariku. Teruntukmu, mahluk Allah yang sukses menjatuhkan hatiku tanpa permisi dan kompromi. Teruntukmu, yang masih sukes membuat hari-hariku sibuk dengan bayang dan pikiran akan dirimu. Teruntukmu, yang pernah menghancurkan setoran surah profesiku. Teruntukmu, yang tak pernah mampu aku pahami dan sukses menjelma menjadi halusinasi.
Dari September untuk Agustus. Dari dunia maya, mimpi, hingga nyata yang menimbulkan banyak tanya tanpa aku tahu cara menjawabnya. Dari semua yang tak mampu aku jelaskan dan jabarkan secara lisan bahkan tulisan. Dan semua yang tak mampu aku definisikan bahkan secara sederhana.
Dari september untuk Agustus yang panjang penuh kenang. Dimana disetiap titiknya penuh dengan kisah yang sebelumnya tak terbayang.
Dari September untuk agustus. Aku belajar cara menarasikan rindu. Aku belajar cara mendeskripsikan setiap gerakmu. Aku belajar berargumen tentang rasa. Hati dan otakku mendebatkanmu. Kau tranding utama dari setiap seminar dimana aku pembicara utamanya. Menghalusinasikan semua kemungkinan yang tak usah terjadi. Mengumpulkan harap yang berujung kecewa. Menampung setiap duga yang seharusnya tidak. Mendapat berita tentang ulah baik bahkan ulah burukmu. Memperhitungkan setiap prosedur dari cara menghindarimu. Dan semua yang tak perlu kau tahu dan kau pahami. Aku ada disudut itu, dari September untuk Agustus.
Dari September untuk Agustus, kau abadi pada larikan hitam diatas putihku. Dan kau adalah ahlinya dari segala ahli tentang hidupku. Tetap disitu, aku suka menatapmu dari jarak yang jauh dengan rindu yang penuh.

Jumat, 12 April 2019

STORY MY WORD

15 JAM


Asing di tempat favorit itu seperti aku, kamu. Iya seperti aku dan kamu. Pada jarak yang sedekat itu rasanya asing, tapi kau adalah tempat terfavorit yang aku punya. Tapi,, kenapa rasanya seasing itu? kau ada dititik mana? kenapa kita? Siapa yang salah? Siapa yang benar? Kau yang menghindar atau aku yang tak sadar?
Pada 15 jam waktu kita bersama. Aku bahagia, tapi tak seutuhnya. Ada kamu disana, tapi tak ada kita pada sistem tata surya yang sama.
15 jam yang kita lewati, berapa kata yang kita adu? Bukannya itu seharusnya bisa jadi kesempatan kita untuk berbicara panjang? atau memang tak ada ruang untuk kita?
Pada 15 jam itu aku ingin marah, tapi aku harus bahagia bukan? setidaknya selama itu aku bisa memastikanmu baik-baik saja. bisa memastikan hatiku baik-baik saja juga.
Hatiku memang baik-baik saja. Tak harus ada getar yang tak seharusnya. Aku bebas menikmati semua. Bahkan menatapmu sesuka hatiku. Tapi, ada satu hal yang tak bisa aku nikmati. Harapku tentang obrolan panjang dan intens antara kita berdua. Tak ada.
15 jam kita mengorbit pada tata surya yang sama dengan kebisuan yang nyata. seakan ku dimana dan kau dimana. Kita kenapa? atau lebih tepatnya, aku kenapa? kau kenapa?
Saat yang lain terlelap, kau tetap terjaga. Dan kau tahu, aku juga terjaga. Bukan tak percaya padamu lalu khawatir dengan kemampuanmu. Aku terjaga dengan segala pemikiran tentang kamu dan kita.
Aku percaya pada kemapuanmu, aku hanya tak percaya pada apa yang pernah kau lakukan. Mengapa 15 jam itu terasa asing? apa kabar tatap jauh penuh fokusmu? apa kabar dengan semua tingkah dibeberapa ratus hari yang lalu? Harus aku artikan apa semuanya?
Apa harapku yang terlalu tinggi? Apa semua hanya imajinasiku? dan dari sekian banyak pertanyaanku tak ada yang berhak aku lontarkan padamu.
Aku siapa? Mengapa rasanya asing ketika disekitarmu? dan atas semua ketidakberhakkanku padamu. Sungguh setelah beberapa hari berlalu, sekarang aku mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan kelulusanmu lebih tepatnya. Tertawakanlah, aku lucu emang kok.
Dan hebatnya kau kembali menghantuiku dalam mimpi. Tapi dalam waktu semalam kau hebat karena bukan cuma masuk kedalam mimpiku tapi juga mimpi temanku.
Suka banget si dipikirin, suka banget si nemplek diotak dan ga pergi-pergi. Baik-baiklah disistem tata suryamu. Duniaku akan baik-baik saja.
15 Jam yang luar biasa. Mau coba lagi? baiknya tidak.

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...