SELASA, RABU
(Part 4)
"Tak mungkin ku jelaskan rasaku, tak mungkin ku ceritakan rasaku jika akhirnya semua berujung paham yang berbeda"
Pagi yang melelahkan datang menghampiri, setelah semalam suntuk tak tidur berkualitas dan Diare. Ku putuskan bersiap menghadapi kenyataaan, tak mungkin aku menghindar terlebih untuk alasan yang tak masuka akal. Aku tak ingin jadi penakut terlebih pengecut, aku mungkin ahli lari dari kenyataan tapi kali ini yang berawal harus diakhiri, jika bukan hari ini pasti semua akan tetap sama atau lebih mengerikan dari resiko yang sudah ku perhitungkan semalaman suntuk.
Muka pucat yang bukan hasil modifikasi make up dan memang bukan dibuat-buat, muka suntuk dan mau tak mau tak mungkin bisa menyembunyikan rasa sakit dari Pohon. Terlebih tubuh letih dan lemah yang tak mau mengalah ini tak baik, benar-benar tak baik bisa ganti hari? ini bukan Selasaku yang selama semester ini begitu menyenangkan dan selalu membuatku sukses tersenyum dari pagi hingga sore hari. Kenapa minggu ini Selasanya begitu menyiksa?
Pagi harinya menunggu jam kuliah, kuhampiri perpustakaan dengan rasa yang sungguh sudah tak kuat menahan beban perasaan. Antara merasa terintimidasi, takut dan semua yang tak baru pernah aku rasakan. Kutaruh tas usangku pada rak tas yang disediakan pihak hutan, lalu kuhampiri Pohon yang asyk dengan buku didepannya.
"Hah capai, hari ini aku mau minta persetujuan dan minta tolong," kataku sembari duduk di kursi favorit Pohon.
"Apa kak?" tanyanya menghiraukan bukunya dan terfokus padaku.
"Hari ini aku mau minta maaf di depan kelas, ga peduli respon mereka apa gimana? terus kalau boleh nanti minta tolong untuk jagain pintu kelas, pokoknya jangan sampai ada yang keluar kelas sebelum aku selesai ngomong bisa?" kataku meminta.
"Ok, bisa Kak," katanya memantapkan hatiku.
Setengah hatiku tinggalkan hutan belantara menuju kelas. Masih ada rasa enggan yang sebetulnya lebih mencerminkan sikap cemen tapi semua harus dihadapi. Kalau bukan hari ini kapan lagi?
Sebelum jam kuliah dimulai ku putuskan menyambungkan koneksi wi-fi ku. Sebuah pesan dari Karang masuk.
"Hahaha," tulisnya tanpa spasi.
"Alhamdulillah Karang ketawa, Bahagia terus Karang, jangan pasang muka jutek + berangkat telat powl," ketikku pada layar smartphon lalu ku kirim.
Jam menunjukan pergantian mata kuliah, mau tak mau apa yang sudah terjadi kemarin membuat berat rasanya menghadapi hari ini. Tapi aku tak mungkin menghindar, aku tak punya alasan untuk menghindar dan aku tak mungkin menghindar untuk melukai perasaanku dan memperpanjang masalah lagi.
Respon mereka benar-benar luar bisa saat pertama bertemu denganku setelah kejadian itu. Ada yang memasang muka takut, salaman terus pergi. Ada yang saling pandang seperti memberi kode. Ada yang menghindar tak mau bersalaman pura-pura tak melihat. Si Paranormal yang terlihat berkomunikasi dengan dia. Dan dari semuanya aku tahu mereka takut padaku, bukan tapi pengikutku. Aku ditakuti? tidak dibenci itu lebih cenderung kemungkinan yang mari kita benarkan.
Dua mata kuliah beralalu, ku putuskan diam selama mengikuti perkuliahan. Tak ada guna berkata jika di mata mereka hanya ketakutan terhadap sosokku. Tak ada guna bergerak aktif jika pada nyatanya bukan karena menghargai namun melukai. Aku memilih diam selama pembelajaran dan terus menggambar emotikon tertawa sebanyak yang aku mampu. Yang pertama itu adalah caraku membuat aku bahagia, yang terakhir jelas itu caraku melarikan diri dari semua perasaan dan pikiran yang benar-benar membuatku tak fokus.
Perkuliahan selesai, ini perkuliahan hari terakhir. Anak-anak meminta sesi foto kepada bapak dosen. Aku beranjak dari bangkuku yang disusul Pohon, kami menuju pintu segera merealisasikan rencana permintaan maaf kami.
"Teman-teman minta waktunya sebentar boleh?" pintaku pada mereka yang masih ribut dengan foto-foto.
"Boleh," kata beberapa anak.
Sisanya yang lain merengek minta pulang, ada karena capai, karena suatu urusan dan karena emang hobby pulang.
"Untuk kejadian kemarin, aku minta maaf karena kesalahan yang aku perbuat jadi kejadian kemari ada, karena ketledoran dan betapa pecicilannya aku maka kemarin perkuliahan jam terakhir kita ga nyaman, belum lagi kalian harus menggunakan waktu kalian buat bahas aku di grup, maaf teman-teman, bukannya aku tak tahu apa yang kalian bahas dan siapa yang kalian bahas, tapi tolong bisa tidak hargai perasaanku? jujur dengan apa yang kalian bicarakan di grup aku merasa terdiskriminasi, aku cuma manusia biasa yang bahkan seorang penakut, kejadian ini hal baru untukku, besok kalau kalian bertemu murid yang tertimpa nasib yang sama denganku tolong dampingi dia jangan diskriminasi kelebihan yang lebih pada suatu hal yang tak diharapkan," kataku panjang.
Ruang kelas mendadak seperti suasana ESQ (Emosional, Spiritual, Iq). Aku sukses menarik perhatian mereka, mereka terdiam. Ku pandangi Paranormal dan calon Bu Nyai, aku cuma ingin tahu respon mereka. Aku cuma ingin lihat sosok dewasa yang menjadi panutan kaya calon Bu Nyai akan berlaku seperti apa. Lalu yang aku tahu Paranormal pasti paham perasaanku. Tapi nyatanya tidak, mereka sama saja pandangan mereka memang terlihat mengerti perasaanku namun nyatanya tidak, mereka sama seperti kebanyakan.
"Bukan seperti itu!" teriak Iwak yang tadinya konsen dengan hpnya.
"Maaf, tapi aku tak membuka forum diskusi, di sini aku cuma ingin minta maaf," kataku tak ingin mendengar pembelaan atau apapun tentang story dan percakapan mereka di grup tentang kejadian selasa kemarin.
"Ga bisa gitu dong mba kami juga ingin bicara!" kata si Polos yang biasanya bijak dan diam mendadak terllihat brutal, bukan menyeramkan lebih pada oh jadi ini aslinya dia.
"Udah! udah! udah!," teriak si Dora sembari mendebrak meja.
Kali ini ruang kelas berasa forum rapat DPR, kisruh penuh emosi dan panas. Aku? tetap tak ingin siapapun berkata-kata kecuali aku. Ini forumku dan aku cuma ingin minta maaf bukan meminta penjelasan atau dimintai maaf balik. Perkara mereka mau memaafkan atau tidak itu urusan mereka aku tak mau ambil pusing pun tak mau ambil untung.
Komting mendekatiku seakan melindungi. Yah kewajibannya mentertibkan kelas, mengurus dan mengelola kelas dengan baik. Udah kewajibannya yang seharusnya dia jalankan sedari tadi tapi nyatanya tadi dia itu:
"Kok kayak bau kembang ya?" tanya Komting kepada seorang teman saat akan melintas di hadapanku. Oh Tuhan, kuatkan hati yang lemah ini dan bekukan air mata yang cair ini aku tak mungkin menangis saat ini. Ini belum saatnya aku menangis, aku tak mungkin menggunakan air mataku untuk mencari iba dan aku tak butuh iba dari mereka aku cuma butuh maaf dari mereka.
Dan akhirnya suasana tenang kembali setelah Dora lebih mirip monyetnya yang ada di film kartun dibanding Dora sendiri di film kartun. Terlalu anarkis mereka, mungkin aktivis kampus saja tak seanarkis mereka (aku yakin kalau mereka baca tulisan ini mungkin mereka akan marah ulang padaku, tapi nyatanya aku benar-benar tak pernah berada pada situasi yang kalian pamerkan padaku wahai sesungguhnya gadis-gadis lembut, ramah nan baik hati, mari jaga sikap).
"Maaf sekali lagi, tapi aku disini ga mau buat forum, aku cuma mau minta maaf dan mau minta ijin keluar dari grup kelas, nanti kalau ada info tentang kelas tolong kabari lewat pesan pribadi lagi," kataku lalu kutoleh Pohon meminta persetujuan untuk menyudahi atau lanjut, Pohon mengode agar aku menyudahi saja "Baik sekali lagi mohon maaf," kataku sebelum akhirnya ku tinggalkan kelas dengan sejuta ekspresi dan omongan yang sudah tak kutahu lagi.
"Kenapa ga dari dulu saja!" teriak Uztadzah.
Entah teriakan ini untuk siapa? tapi keyakinanku ini untukku. Mendengar teriakan itu aku mengambil nafas panjang berjuang mati-matian seakan aku baik-baik saja walau nyatanya aku benar-benar terluka. Ajang minta maafku terasa semakin menyesakkan dada.
Ku putuskan untuk makan di warung makan sederhana favorit kami. Berharap ada Dancow, setidaknya dia mungkin bisa mengalihkan sedikit perhatianku dari masalah ini. Obrolan tentangnya selalu saja menarik, karena keunikan caranya dan mungkin karena kami tak pernah serius ngobrolin dia selalu berujung pada bercanda. Tapi nyatanya tak ku temukan dia pada sudut warung makan itu. Iya, dia sedang ada kuliah.
Aku terduduk di depan Pohon, aku benar-benar kesal. Kami bahas ekspresi satu-persatu dari teman-teman di kelas. Hingga hipotesis-hipotesis tentang teriakan ustadzah yang menjurus padaku. Aku benar-benar emosi, hingga Pohon mengingatkanku untuk mengontrol emosi dan jangan menangis, maka ku putuskan membuka hp. Ku aktifkan data yang sedari tadi off, kulihat sebuah story dari ustadzah, "hal yang memalukan" ini story untukku? ini story dibuat beberapa menit yang lalu? yang memalukan aku? jadi minta maafku memalukan? jadi usaha mengumpulkan nyali selama semalam suntuk ga ada harganya? cuma memalukan? berani minta maaf berarti memalukan? mengakui kesalahan hal yang memalukan?
Apa yang sebetulnya mereka pikirkan? apa yang sebetulnya terjadi dengan semua ini. Tolong seseorang jelaskan. Tolong kamu yang bukan dari bagianku ataupun bagaian mereka tolong jelaskan? tolong jelaskan? meminta maaf dengan mengumpulkan sejuta keberanian dinilia memalukan? jadi kita belajar kurikulum 2013 yang lebih mengedepankan aspek karakter kemana? lalu bagaimana dengan revolusi mental yang digadang Pak Jokowi kalau meminta maaf di depan kelas dinilai sebagai hal memalukan???
to be continue...
"Hah capai, hari ini aku mau minta persetujuan dan minta tolong," kataku sembari duduk di kursi favorit Pohon.
"Apa kak?" tanyanya menghiraukan bukunya dan terfokus padaku.
"Hari ini aku mau minta maaf di depan kelas, ga peduli respon mereka apa gimana? terus kalau boleh nanti minta tolong untuk jagain pintu kelas, pokoknya jangan sampai ada yang keluar kelas sebelum aku selesai ngomong bisa?" kataku meminta.
"Ok, bisa Kak," katanya memantapkan hatiku.
Setengah hatiku tinggalkan hutan belantara menuju kelas. Masih ada rasa enggan yang sebetulnya lebih mencerminkan sikap cemen tapi semua harus dihadapi. Kalau bukan hari ini kapan lagi?
Sebelum jam kuliah dimulai ku putuskan menyambungkan koneksi wi-fi ku. Sebuah pesan dari Karang masuk.
"Hahaha," tulisnya tanpa spasi.
"Alhamdulillah Karang ketawa, Bahagia terus Karang, jangan pasang muka jutek + berangkat telat powl," ketikku pada layar smartphon lalu ku kirim.
Jam menunjukan pergantian mata kuliah, mau tak mau apa yang sudah terjadi kemarin membuat berat rasanya menghadapi hari ini. Tapi aku tak mungkin menghindar, aku tak punya alasan untuk menghindar dan aku tak mungkin menghindar untuk melukai perasaanku dan memperpanjang masalah lagi.
Respon mereka benar-benar luar bisa saat pertama bertemu denganku setelah kejadian itu. Ada yang memasang muka takut, salaman terus pergi. Ada yang saling pandang seperti memberi kode. Ada yang menghindar tak mau bersalaman pura-pura tak melihat. Si Paranormal yang terlihat berkomunikasi dengan dia. Dan dari semuanya aku tahu mereka takut padaku, bukan tapi pengikutku. Aku ditakuti? tidak dibenci itu lebih cenderung kemungkinan yang mari kita benarkan.
Dua mata kuliah beralalu, ku putuskan diam selama mengikuti perkuliahan. Tak ada guna berkata jika di mata mereka hanya ketakutan terhadap sosokku. Tak ada guna bergerak aktif jika pada nyatanya bukan karena menghargai namun melukai. Aku memilih diam selama pembelajaran dan terus menggambar emotikon tertawa sebanyak yang aku mampu. Yang pertama itu adalah caraku membuat aku bahagia, yang terakhir jelas itu caraku melarikan diri dari semua perasaan dan pikiran yang benar-benar membuatku tak fokus.
Perkuliahan selesai, ini perkuliahan hari terakhir. Anak-anak meminta sesi foto kepada bapak dosen. Aku beranjak dari bangkuku yang disusul Pohon, kami menuju pintu segera merealisasikan rencana permintaan maaf kami.
"Teman-teman minta waktunya sebentar boleh?" pintaku pada mereka yang masih ribut dengan foto-foto.
"Boleh," kata beberapa anak.
Sisanya yang lain merengek minta pulang, ada karena capai, karena suatu urusan dan karena emang hobby pulang.
"Untuk kejadian kemarin, aku minta maaf karena kesalahan yang aku perbuat jadi kejadian kemari ada, karena ketledoran dan betapa pecicilannya aku maka kemarin perkuliahan jam terakhir kita ga nyaman, belum lagi kalian harus menggunakan waktu kalian buat bahas aku di grup, maaf teman-teman, bukannya aku tak tahu apa yang kalian bahas dan siapa yang kalian bahas, tapi tolong bisa tidak hargai perasaanku? jujur dengan apa yang kalian bicarakan di grup aku merasa terdiskriminasi, aku cuma manusia biasa yang bahkan seorang penakut, kejadian ini hal baru untukku, besok kalau kalian bertemu murid yang tertimpa nasib yang sama denganku tolong dampingi dia jangan diskriminasi kelebihan yang lebih pada suatu hal yang tak diharapkan," kataku panjang.
Ruang kelas mendadak seperti suasana ESQ (Emosional, Spiritual, Iq). Aku sukses menarik perhatian mereka, mereka terdiam. Ku pandangi Paranormal dan calon Bu Nyai, aku cuma ingin tahu respon mereka. Aku cuma ingin lihat sosok dewasa yang menjadi panutan kaya calon Bu Nyai akan berlaku seperti apa. Lalu yang aku tahu Paranormal pasti paham perasaanku. Tapi nyatanya tidak, mereka sama saja pandangan mereka memang terlihat mengerti perasaanku namun nyatanya tidak, mereka sama seperti kebanyakan.
"Bukan seperti itu!" teriak Iwak yang tadinya konsen dengan hpnya.
"Maaf, tapi aku tak membuka forum diskusi, di sini aku cuma ingin minta maaf," kataku tak ingin mendengar pembelaan atau apapun tentang story dan percakapan mereka di grup tentang kejadian selasa kemarin.
"Ga bisa gitu dong mba kami juga ingin bicara!" kata si Polos yang biasanya bijak dan diam mendadak terllihat brutal, bukan menyeramkan lebih pada oh jadi ini aslinya dia.
"Udah! udah! udah!," teriak si Dora sembari mendebrak meja.
Kali ini ruang kelas berasa forum rapat DPR, kisruh penuh emosi dan panas. Aku? tetap tak ingin siapapun berkata-kata kecuali aku. Ini forumku dan aku cuma ingin minta maaf bukan meminta penjelasan atau dimintai maaf balik. Perkara mereka mau memaafkan atau tidak itu urusan mereka aku tak mau ambil pusing pun tak mau ambil untung.
Komting mendekatiku seakan melindungi. Yah kewajibannya mentertibkan kelas, mengurus dan mengelola kelas dengan baik. Udah kewajibannya yang seharusnya dia jalankan sedari tadi tapi nyatanya tadi dia itu:
"Kok kayak bau kembang ya?" tanya Komting kepada seorang teman saat akan melintas di hadapanku. Oh Tuhan, kuatkan hati yang lemah ini dan bekukan air mata yang cair ini aku tak mungkin menangis saat ini. Ini belum saatnya aku menangis, aku tak mungkin menggunakan air mataku untuk mencari iba dan aku tak butuh iba dari mereka aku cuma butuh maaf dari mereka.
Dan akhirnya suasana tenang kembali setelah Dora lebih mirip monyetnya yang ada di film kartun dibanding Dora sendiri di film kartun. Terlalu anarkis mereka, mungkin aktivis kampus saja tak seanarkis mereka (aku yakin kalau mereka baca tulisan ini mungkin mereka akan marah ulang padaku, tapi nyatanya aku benar-benar tak pernah berada pada situasi yang kalian pamerkan padaku wahai sesungguhnya gadis-gadis lembut, ramah nan baik hati, mari jaga sikap).
"Maaf sekali lagi, tapi aku disini ga mau buat forum, aku cuma mau minta maaf dan mau minta ijin keluar dari grup kelas, nanti kalau ada info tentang kelas tolong kabari lewat pesan pribadi lagi," kataku lalu kutoleh Pohon meminta persetujuan untuk menyudahi atau lanjut, Pohon mengode agar aku menyudahi saja "Baik sekali lagi mohon maaf," kataku sebelum akhirnya ku tinggalkan kelas dengan sejuta ekspresi dan omongan yang sudah tak kutahu lagi.
"Kenapa ga dari dulu saja!" teriak Uztadzah.
Entah teriakan ini untuk siapa? tapi keyakinanku ini untukku. Mendengar teriakan itu aku mengambil nafas panjang berjuang mati-matian seakan aku baik-baik saja walau nyatanya aku benar-benar terluka. Ajang minta maafku terasa semakin menyesakkan dada.
Ku putuskan untuk makan di warung makan sederhana favorit kami. Berharap ada Dancow, setidaknya dia mungkin bisa mengalihkan sedikit perhatianku dari masalah ini. Obrolan tentangnya selalu saja menarik, karena keunikan caranya dan mungkin karena kami tak pernah serius ngobrolin dia selalu berujung pada bercanda. Tapi nyatanya tak ku temukan dia pada sudut warung makan itu. Iya, dia sedang ada kuliah.
Aku terduduk di depan Pohon, aku benar-benar kesal. Kami bahas ekspresi satu-persatu dari teman-teman di kelas. Hingga hipotesis-hipotesis tentang teriakan ustadzah yang menjurus padaku. Aku benar-benar emosi, hingga Pohon mengingatkanku untuk mengontrol emosi dan jangan menangis, maka ku putuskan membuka hp. Ku aktifkan data yang sedari tadi off, kulihat sebuah story dari ustadzah, "hal yang memalukan" ini story untukku? ini story dibuat beberapa menit yang lalu? yang memalukan aku? jadi minta maafku memalukan? jadi usaha mengumpulkan nyali selama semalam suntuk ga ada harganya? cuma memalukan? berani minta maaf berarti memalukan? mengakui kesalahan hal yang memalukan?
Apa yang sebetulnya mereka pikirkan? apa yang sebetulnya terjadi dengan semua ini. Tolong seseorang jelaskan. Tolong kamu yang bukan dari bagianku ataupun bagaian mereka tolong jelaskan? tolong jelaskan? meminta maaf dengan mengumpulkan sejuta keberanian dinilia memalukan? jadi kita belajar kurikulum 2013 yang lebih mengedepankan aspek karakter kemana? lalu bagaimana dengan revolusi mental yang digadang Pak Jokowi kalau meminta maaf di depan kelas dinilai sebagai hal memalukan???
to be continue...