Jumat, 19 Januari 2018

STORY MY WORD

SELASA, RABU
(Part 4)

"Tak mungkin ku jelaskan rasaku, tak mungkin ku ceritakan rasaku jika akhirnya semua berujung paham yang berbeda"


Pagi yang melelahkan datang menghampiri, setelah semalam suntuk tak tidur berkualitas dan Diare. Ku putuskan bersiap menghadapi kenyataaan, tak mungkin aku menghindar terlebih untuk alasan yang tak masuka akal. Aku tak ingin jadi penakut terlebih pengecut, aku mungkin ahli lari dari kenyataan tapi kali ini yang berawal harus diakhiri, jika bukan hari ini pasti semua akan tetap sama atau lebih mengerikan dari resiko yang sudah ku perhitungkan semalaman suntuk.
Muka pucat yang bukan hasil modifikasi make up dan memang bukan dibuat-buat, muka suntuk dan mau tak mau tak mungkin bisa menyembunyikan rasa sakit dari Pohon. Terlebih tubuh letih dan lemah yang tak mau mengalah ini tak baik, benar-benar tak baik bisa ganti hari? ini bukan Selasaku yang selama semester ini begitu menyenangkan dan selalu membuatku sukses tersenyum dari pagi hingga sore hari. Kenapa minggu ini Selasanya begitu menyiksa?
Pagi harinya menunggu jam kuliah, kuhampiri perpustakaan dengan rasa yang sungguh sudah tak kuat menahan beban perasaan. Antara merasa terintimidasi, takut dan semua yang tak baru pernah aku rasakan. Kutaruh tas usangku pada rak tas yang disediakan pihak hutan, lalu kuhampiri Pohon yang asyk dengan buku didepannya.
"Hah capai, hari ini aku mau minta persetujuan dan minta tolong," kataku sembari duduk di kursi favorit Pohon.
"Apa kak?" tanyanya menghiraukan bukunya dan terfokus padaku.
"Hari ini aku mau minta maaf di depan kelas, ga peduli respon mereka apa gimana? terus kalau boleh nanti minta tolong untuk jagain pintu kelas, pokoknya jangan sampai ada yang keluar kelas sebelum aku selesai ngomong bisa?" kataku meminta.
"Ok, bisa Kak," katanya memantapkan hatiku.
Setengah hatiku tinggalkan hutan belantara menuju kelas. Masih ada rasa enggan yang sebetulnya lebih mencerminkan sikap cemen tapi semua harus dihadapi. Kalau bukan hari ini kapan lagi?
Sebelum jam kuliah dimulai ku putuskan menyambungkan koneksi wi-fi ku. Sebuah pesan dari Karang masuk.
"Hahaha," tulisnya tanpa spasi.
"Alhamdulillah Karang ketawa, Bahagia terus Karang, jangan pasang muka jutek + berangkat telat powl," ketikku pada layar smartphon lalu ku kirim.
Jam menunjukan pergantian mata kuliah, mau tak mau apa yang sudah terjadi kemarin membuat berat rasanya menghadapi hari ini. Tapi aku tak mungkin menghindar, aku tak punya alasan untuk menghindar dan aku tak mungkin menghindar untuk melukai perasaanku dan memperpanjang masalah lagi.
Respon mereka benar-benar luar bisa saat pertama bertemu denganku setelah kejadian itu. Ada yang memasang muka takut, salaman terus pergi. Ada yang saling pandang seperti memberi kode. Ada yang menghindar tak mau bersalaman pura-pura tak melihat. Si Paranormal yang terlihat berkomunikasi dengan dia. Dan dari semuanya aku tahu mereka takut padaku, bukan tapi pengikutku. Aku ditakuti? tidak dibenci itu lebih cenderung kemungkinan yang mari kita benarkan.
Dua mata kuliah beralalu, ku putuskan diam selama mengikuti perkuliahan. Tak ada guna berkata jika di mata mereka hanya ketakutan terhadap sosokku. Tak ada guna bergerak aktif jika pada nyatanya bukan karena menghargai namun melukai. Aku memilih diam selama pembelajaran dan terus menggambar emotikon tertawa sebanyak yang aku mampu. Yang pertama itu adalah caraku membuat aku bahagia, yang terakhir jelas itu caraku melarikan diri dari semua perasaan dan pikiran yang benar-benar membuatku tak fokus.
Perkuliahan selesai, ini perkuliahan hari terakhir. Anak-anak meminta sesi foto kepada bapak dosen. Aku beranjak dari bangkuku yang disusul Pohon, kami menuju pintu segera merealisasikan rencana permintaan maaf kami.
"Teman-teman minta waktunya sebentar boleh?" pintaku pada mereka yang masih ribut dengan foto-foto.
"Boleh," kata beberapa anak.
Sisanya yang lain merengek minta pulang, ada karena capai, karena suatu urusan dan karena emang hobby pulang.
"Untuk kejadian kemarin, aku minta maaf karena kesalahan yang aku perbuat jadi kejadian kemari ada, karena ketledoran dan betapa pecicilannya aku maka kemarin perkuliahan jam terakhir kita ga nyaman, belum lagi kalian harus menggunakan waktu kalian buat bahas aku di grup, maaf teman-teman, bukannya aku tak tahu apa yang kalian bahas dan siapa yang kalian bahas, tapi tolong bisa tidak hargai perasaanku? jujur dengan apa yang kalian bicarakan di grup aku merasa terdiskriminasi, aku cuma manusia biasa yang bahkan seorang penakut, kejadian ini hal baru untukku, besok kalau kalian bertemu murid yang tertimpa nasib yang sama denganku tolong dampingi dia jangan diskriminasi kelebihan yang lebih pada suatu hal yang tak diharapkan," kataku panjang.
Ruang kelas mendadak seperti suasana ESQ (Emosional, Spiritual, Iq). Aku sukses menarik perhatian mereka, mereka terdiam. Ku pandangi Paranormal dan calon Bu Nyai, aku cuma ingin tahu respon mereka. Aku cuma ingin lihat sosok dewasa yang menjadi panutan kaya calon Bu Nyai akan berlaku seperti apa. Lalu yang aku tahu Paranormal pasti paham perasaanku. Tapi nyatanya tidak, mereka sama saja pandangan mereka memang terlihat mengerti perasaanku namun nyatanya  tidak, mereka sama seperti kebanyakan.
"Bukan seperti itu!" teriak Iwak yang tadinya  konsen dengan hpnya.
"Maaf, tapi aku tak membuka forum diskusi, di sini aku cuma ingin minta maaf," kataku tak ingin mendengar pembelaan atau apapun tentang  story dan percakapan mereka di grup tentang kejadian selasa kemarin.
"Ga bisa gitu dong mba kami juga ingin bicara!" kata si Polos yang biasanya bijak dan diam mendadak terllihat brutal, bukan menyeramkan lebih pada oh jadi ini aslinya dia.
"Udah! udah! udah!," teriak si Dora sembari mendebrak meja.
Kali ini ruang kelas berasa forum rapat DPR, kisruh penuh emosi dan panas. Aku? tetap tak ingin siapapun berkata-kata kecuali aku. Ini forumku dan aku cuma ingin minta maaf bukan meminta penjelasan atau dimintai maaf balik. Perkara mereka mau memaafkan atau tidak itu urusan mereka aku tak mau ambil pusing pun tak mau ambil untung.
Komting mendekatiku seakan melindungi. Yah kewajibannya mentertibkan kelas, mengurus dan mengelola kelas dengan baik. Udah kewajibannya yang seharusnya dia jalankan sedari tadi tapi nyatanya tadi dia itu:
"Kok kayak bau kembang ya?" tanya Komting kepada seorang teman saat akan melintas di hadapanku. Oh Tuhan, kuatkan hati yang lemah ini dan bekukan air mata yang cair ini aku tak mungkin menangis saat ini. Ini belum saatnya aku menangis, aku tak mungkin menggunakan air mataku untuk mencari iba dan aku tak butuh iba dari mereka aku cuma butuh maaf dari mereka.
Dan akhirnya suasana tenang kembali setelah Dora lebih mirip monyetnya yang ada di film kartun dibanding Dora sendiri di film kartun. Terlalu anarkis mereka, mungkin aktivis kampus saja tak seanarkis mereka (aku yakin kalau mereka baca tulisan ini mungkin mereka akan marah ulang padaku, tapi nyatanya aku benar-benar tak pernah berada pada situasi yang kalian pamerkan padaku wahai sesungguhnya gadis-gadis lembut, ramah nan baik hati, mari jaga sikap).
"Maaf sekali lagi, tapi aku disini ga mau buat  forum, aku cuma mau minta maaf dan mau minta ijin keluar dari grup kelas, nanti kalau ada info tentang kelas tolong kabari lewat pesan pribadi lagi," kataku lalu kutoleh Pohon meminta persetujuan untuk menyudahi atau lanjut, Pohon mengode agar aku menyudahi saja "Baik sekali lagi mohon maaf," kataku sebelum akhirnya ku tinggalkan kelas dengan sejuta ekspresi dan omongan yang sudah tak kutahu lagi.
"Kenapa ga dari dulu saja!" teriak Uztadzah.
Entah teriakan ini untuk siapa? tapi keyakinanku ini untukku. Mendengar teriakan itu aku mengambil nafas panjang berjuang mati-matian seakan aku baik-baik saja walau nyatanya aku benar-benar terluka. Ajang minta maafku terasa semakin menyesakkan dada.
Ku putuskan untuk makan di warung makan sederhana favorit kami. Berharap ada Dancow, setidaknya dia mungkin bisa mengalihkan sedikit perhatianku dari masalah ini. Obrolan tentangnya selalu saja menarik, karena keunikan caranya dan mungkin karena kami tak pernah serius ngobrolin dia selalu berujung pada bercanda. Tapi nyatanya tak ku temukan dia pada sudut warung makan itu. Iya, dia sedang ada kuliah.
Aku terduduk di depan Pohon, aku benar-benar kesal. Kami bahas ekspresi satu-persatu dari teman-teman di kelas. Hingga hipotesis-hipotesis tentang teriakan ustadzah yang menjurus padaku. Aku benar-benar emosi, hingga Pohon mengingatkanku untuk mengontrol emosi dan jangan menangis, maka ku putuskan membuka hp. Ku aktifkan data yang sedari tadi off, kulihat sebuah story dari ustadzah, "hal yang memalukan" ini story untukku? ini story dibuat beberapa menit yang lalu? yang memalukan aku? jadi minta maafku memalukan? jadi usaha mengumpulkan nyali selama semalam suntuk ga ada harganya? cuma memalukan? berani minta maaf berarti memalukan? mengakui kesalahan hal yang memalukan?
Apa yang sebetulnya mereka pikirkan? apa yang sebetulnya terjadi dengan semua ini. Tolong seseorang jelaskan. Tolong kamu yang bukan dari bagianku ataupun bagaian mereka tolong jelaskan? tolong jelaskan? meminta maaf dengan mengumpulkan sejuta keberanian dinilia memalukan? jadi kita belajar kurikulum 2013 yang lebih mengedepankan aspek karakter kemana? lalu bagaimana dengan revolusi mental yang digadang Pak Jokowi kalau meminta maaf di depan kelas dinilai sebagai hal memalukan???
to be continue...

STORY MY WORD

SELASA, RABU
(Part 3)

"Aku tak mungkin meminta kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu merasakan apa rasaku. Dan aku tak mungkin menjelaskan pemahamanku pada kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu banuyak karena aku hanya punya satu mulut. Jadi kuputuskan diam dan menutup mata seakan semua yang tertulis dalam maya itu bukan aku. Tapi maaf aku tak sanggup otakku terlalu liar untuk tak menyangka dan hatiku terlalu rapuh tuk tak terluka"

 Hari sudah sore tak mungkin kupaksa Pohon bertahan denganku dan tak mungkin aku bertahan di kampus sedang aku sendiri punya kewajiban yang lain. Aku tak punya banyak pilihan tapi aku punya ketentuan. Hidupku tak sebebas burung diluaran sana, tapi aku punya peraturan yang harus aku laksanakan dan aku punya kewajiban yang merupakan pilihan.
Kami Pulang ke tempat berteduh masing-masing. Pohon mengantarku karena teman-temanku sudah berlalu pulang. Aku tak tahu kucoba ukir senyum walau gundah itu masih jelas terasa di hatiku. Bukan suatu hal biasa dan lumrah yang aku alami, ini terlalu luar biasa untukku.
Sebuah pesan masuk di Hpku. Aku lihat notifnya, yah dari salah satu mereka yang berada di ruang 102 tadi. Luar biasa cewek secuek dia mengirimiku sebuah pesan. Yah tak perlu banyak berprasangka jelas ini karena kejadian tadi diang mau apa lagi coba, dia yang tergolong mereka akan ada ketika mereka butuh jika tidak butuh aku tak terlihat, tak terhiraukan itulah saya.
"Hayoh," pesannya dengan dua buah emotikon berbentuk hantu.
Yah mari kita panggil dia Karang, bukan karena dia sekuat karang tak terpecahkan hanya saja dia terlihat keras tak terlunakan dengan wajah yang tak ramahnya.
"Apa sie?" tanyaku polos seakan tak tahu apapun, "Hayoh apa sie? ga diabsen sama Dosen? yah udah resiko bolos kuliahkan?"
"Hihi," balasnya masih dengan emotikon hantu duanya.
Yang saya sayangkan adalah kenapa hanya dua emotikon hantu, seharusanya tiga aja biar ganjil gitu, Allah suka yang ganjil dan sayangnya dia ga tahu kalau aku suka tiga. Cuma dua itu emotikon kayak pacaran saja berdua mulu ga nambah-nambah.
"Apa si?"
"Rapapa kok wkwkw."
"Aku kira ada apa."
"Hahaha."
Sudah malam ku putuskan mematikan hpku karena hp yang sudah lebih dari satu tahun ini conectornya bermasalah. Harus dimatikan terlebih dahulu baru bisa masuk dayanya.
Sebelumnya ku buka grup terlebih dahulu yang ternyata sedari tadi sibuk membahas kejadian 102 tadi siang. Grup powl ramainya bahkan bahasan tentang tugas terlihat tak terhiraukan semua terfokus pada kejadian tadi siang.
"Walah itu perlu di Alfatehahi ya?" tanya Ustadzah kelas.
"Tadi itu namanya Ije," kata Penderek Ustadzah kelas menyebutkan nama sosok kecil yang mengikutiku.
"Hahaha," ketawa Paranormal mengomentari pembicaraan penghuni kelas "Hooh jenenge Ije."
"Ok, terimakasih Paranormal," sambung Penderek Ustadzah kelas.
"Eyu ndak?" Kata Mba Iwak menambahi.
Eyu yang dia maksud cantik atau ayu dengan bahasa Alay.
"Hooh dy ayulah," jawab Paranormal yang nyatanya dia yang bisa lihat.
"Cantikan mana sama kamu?" tanya Mba Iyu yang akhirnya muncul di percakapan kelas.
"Apa-apaan si, mesti kalau aku bolos ada saja kejadian di kelas," kata Ustadzah kelas menyesali ketidakberangkatannya.
Susah untuk mengenyampingkan percakapan dan ketakutan mereka terhadap kejadian di 102. Aku berjuang menarik nagas melegakan rasa namun rasa itu masih berat. Sesak rasanya, rasa yang tak terdefinisi berat tak mudah untuk di tanggung. Ingin ku hiraukan kejadian 102 tapi itu suatu hal yang tak mudah rasanya benar-benar sungguh berat. Kenapa sedari tadi mereka membicarakanku seakan aku tak ada? aku tahu mereka menganggapku tak tahu bahwa yang mereka bicarakan aku, tapi tolong aku ada disitu. Aku tahu percakapan kalian, aku tahu maksud kalian, tolong hargai aku, aku paham dan rasanya hati ini mulai tergores. Oh sudahlah hati jangan terluka, sudahlah otak jangan berfikir semua baik-baik saja besok.
Aku mencoba mengalihkan pikirku, ku chat Pohon. berharap pikirku beralih namun nyatanya aku gagal. Fokusku masih sama pada 102 dan pada percakapan mereka di grup yang menganggapku seakan tak ada. Belum usai dengan percakapan-percakapan itu, mereka pasti juga membicarakanku dibelakang itu, belum lagi story WA yang mereka buat menyesakkan, sungguh menyesakan.
Lalu pada akhirnya tersebab pikirku maka mata ini sungguh tak mampu terkalahkan oleh lelah badan setelah aktvitas seharian. Sungguh mataku menolak tertutup padahal lelah ini begitu menyiksa. Belum lagi ketakuatanku dengan sosok yang mengikutiku, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasa nyaman berada pada lingkungan itu terasa mengikis ditambah lagi dengan kejadian ini? ah aku bahkan tak ingin berjuang untuk paham dengan kejadian ini atau berjuang untuk mengerti. Aku yang biasa tertidur di dipanku sendiri, malam ini memutuskan berpindah ke dipan sahabatku.
Saat pikiran dan rasaku tak mendukung, mendadak aku diare. Yang  biasanya malam-malam berani ke kamar mandi sendirian mendadak jadi penakut. Lalu mata yang tak mampu terpejam ini membuat otak bekerja dengan sejuta pemikiran-pemikirannya.

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...