Jumat, 19 Januari 2018

STORY MY WORD

SELASA, RABU
(Part 3)

"Aku tak mungkin meminta kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu merasakan apa rasaku. Dan aku tak mungkin menjelaskan pemahamanku pada kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu banuyak karena aku hanya punya satu mulut. Jadi kuputuskan diam dan menutup mata seakan semua yang tertulis dalam maya itu bukan aku. Tapi maaf aku tak sanggup otakku terlalu liar untuk tak menyangka dan hatiku terlalu rapuh tuk tak terluka"

 Hari sudah sore tak mungkin kupaksa Pohon bertahan denganku dan tak mungkin aku bertahan di kampus sedang aku sendiri punya kewajiban yang lain. Aku tak punya banyak pilihan tapi aku punya ketentuan. Hidupku tak sebebas burung diluaran sana, tapi aku punya peraturan yang harus aku laksanakan dan aku punya kewajiban yang merupakan pilihan.
Kami Pulang ke tempat berteduh masing-masing. Pohon mengantarku karena teman-temanku sudah berlalu pulang. Aku tak tahu kucoba ukir senyum walau gundah itu masih jelas terasa di hatiku. Bukan suatu hal biasa dan lumrah yang aku alami, ini terlalu luar biasa untukku.
Sebuah pesan masuk di Hpku. Aku lihat notifnya, yah dari salah satu mereka yang berada di ruang 102 tadi. Luar biasa cewek secuek dia mengirimiku sebuah pesan. Yah tak perlu banyak berprasangka jelas ini karena kejadian tadi diang mau apa lagi coba, dia yang tergolong mereka akan ada ketika mereka butuh jika tidak butuh aku tak terlihat, tak terhiraukan itulah saya.
"Hayoh," pesannya dengan dua buah emotikon berbentuk hantu.
Yah mari kita panggil dia Karang, bukan karena dia sekuat karang tak terpecahkan hanya saja dia terlihat keras tak terlunakan dengan wajah yang tak ramahnya.
"Apa sie?" tanyaku polos seakan tak tahu apapun, "Hayoh apa sie? ga diabsen sama Dosen? yah udah resiko bolos kuliahkan?"
"Hihi," balasnya masih dengan emotikon hantu duanya.
Yang saya sayangkan adalah kenapa hanya dua emotikon hantu, seharusanya tiga aja biar ganjil gitu, Allah suka yang ganjil dan sayangnya dia ga tahu kalau aku suka tiga. Cuma dua itu emotikon kayak pacaran saja berdua mulu ga nambah-nambah.
"Apa si?"
"Rapapa kok wkwkw."
"Aku kira ada apa."
"Hahaha."
Sudah malam ku putuskan mematikan hpku karena hp yang sudah lebih dari satu tahun ini conectornya bermasalah. Harus dimatikan terlebih dahulu baru bisa masuk dayanya.
Sebelumnya ku buka grup terlebih dahulu yang ternyata sedari tadi sibuk membahas kejadian 102 tadi siang. Grup powl ramainya bahkan bahasan tentang tugas terlihat tak terhiraukan semua terfokus pada kejadian tadi siang.
"Walah itu perlu di Alfatehahi ya?" tanya Ustadzah kelas.
"Tadi itu namanya Ije," kata Penderek Ustadzah kelas menyebutkan nama sosok kecil yang mengikutiku.
"Hahaha," ketawa Paranormal mengomentari pembicaraan penghuni kelas "Hooh jenenge Ije."
"Ok, terimakasih Paranormal," sambung Penderek Ustadzah kelas.
"Eyu ndak?" Kata Mba Iwak menambahi.
Eyu yang dia maksud cantik atau ayu dengan bahasa Alay.
"Hooh dy ayulah," jawab Paranormal yang nyatanya dia yang bisa lihat.
"Cantikan mana sama kamu?" tanya Mba Iyu yang akhirnya muncul di percakapan kelas.
"Apa-apaan si, mesti kalau aku bolos ada saja kejadian di kelas," kata Ustadzah kelas menyesali ketidakberangkatannya.
Susah untuk mengenyampingkan percakapan dan ketakutan mereka terhadap kejadian di 102. Aku berjuang menarik nagas melegakan rasa namun rasa itu masih berat. Sesak rasanya, rasa yang tak terdefinisi berat tak mudah untuk di tanggung. Ingin ku hiraukan kejadian 102 tapi itu suatu hal yang tak mudah rasanya benar-benar sungguh berat. Kenapa sedari tadi mereka membicarakanku seakan aku tak ada? aku tahu mereka menganggapku tak tahu bahwa yang mereka bicarakan aku, tapi tolong aku ada disitu. Aku tahu percakapan kalian, aku tahu maksud kalian, tolong hargai aku, aku paham dan rasanya hati ini mulai tergores. Oh sudahlah hati jangan terluka, sudahlah otak jangan berfikir semua baik-baik saja besok.
Aku mencoba mengalihkan pikirku, ku chat Pohon. berharap pikirku beralih namun nyatanya aku gagal. Fokusku masih sama pada 102 dan pada percakapan mereka di grup yang menganggapku seakan tak ada. Belum usai dengan percakapan-percakapan itu, mereka pasti juga membicarakanku dibelakang itu, belum lagi story WA yang mereka buat menyesakkan, sungguh menyesakan.
Lalu pada akhirnya tersebab pikirku maka mata ini sungguh tak mampu terkalahkan oleh lelah badan setelah aktvitas seharian. Sungguh mataku menolak tertutup padahal lelah ini begitu menyiksa. Belum lagi ketakuatanku dengan sosok yang mengikutiku, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasa nyaman berada pada lingkungan itu terasa mengikis ditambah lagi dengan kejadian ini? ah aku bahkan tak ingin berjuang untuk paham dengan kejadian ini atau berjuang untuk mengerti. Aku yang biasa tertidur di dipanku sendiri, malam ini memutuskan berpindah ke dipan sahabatku.
Saat pikiran dan rasaku tak mendukung, mendadak aku diare. Yang  biasanya malam-malam berani ke kamar mandi sendirian mendadak jadi penakut. Lalu mata yang tak mampu terpejam ini membuat otak bekerja dengan sejuta pemikiran-pemikirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...