TERKONEKSI
“Bayaran yang mahal
untuk kesalahan yang aku perbuat. Dampak berat yang harus aku tanggung dari
salah yang ku ukir”
Kita terpisah jarak
yang berbeda. Tak boleh ada rasa yang bersemyam di lubuk hati yang terdalam
bahkan yang terdasar. Aku boleh saja pernah mencintaimu atau menyalahkan cinta
yang pernah menjatuhkan hatiku atas namamu. Tapi, bukannya semua juga atas
kehendak salahku?
Aku harus selalu
membayar mahal setiap kesalahan yang aku perbuat. Mahal-semahal mungkin. Bahkan
untuk kesalahan kali ini.
Tak seharusnya kita
kembali terkoneksi dalam maya. Tak seharusnya kita kembali terkoneksi dalam
baris kata lagi. Tidak!!! Sebesar apapun rindu yang menyapa untuk bersarang.
Aku tak ada pada
prioritas atau bahkan apapun yang kau tahu. Aku bahkan tak ada pada seonggok
pedulimu. Aku siapa? kau siapa? mungkin selama ini benar-benar takdir yang
menyapa kita. Mungkin selama ini kebetulan yang lebih memihakku. Mungkin selama
in aku dipermainkan oleh apa yang aku rasakan.
Aku dipermainkan apa
yang seharusnya tak kau yang ada disana. Entahlah, aku tak pernah paham. Setiap
komunikasi atau apapun yang menyebab pada dirimu aku tak sanggup menerka walau
sejuta burukmu mulai terkuak.
Kau tak seindah pandang
pada jarak yang serupa dan seumpama. Kau terlalu jauh dari galaxy yang aku
idamkan. Kau terlalu jauh dari jarak yang tak seharusnya tercipta. Kau bukan
wujud mimpiku, bukan wujud harap dari berpuluh tahun yang ku bangun.
Kau hanya apa yang tak
pernah aku pahami untuk tidak aku pedulikan, seharusnya. Kau melesat jauh dari
antariksa yang tak seharusnya ada. Ah, tidak tentangmu bukannya selalu terlihat
berkesan diawal berujung mengecewakan. Karena harapku terlalu tinggi?
Mari kita hitung
sepersekian detik dan jalan yang harus kita temui. Mari kita hitung seberapa dalam
luka yang tertoreh dari setiap kata yang kita mainkan.
Mau kau atau aku yang
menyudahi? Aku tak berani terluka terlalu jauh. Tapi, aku tak berani melepas
semua sementara. Bahagia coba tak ku raih. Ku tinggalkan begitu saja pada
tempatnya. Berharap, semua akan sejajar pada semesta yang sama.
Jangan berhenti dari
setiap kata yang kumainkan. Mari kita cari tema pembicaraan hingga kita lupa
waktu. Tapi, aku takut terluka. Ujungnya juga aku tahu, kau mengakhiri semua
dengan tema yang usai.
Planet pada garis
edarmu terlalu banyak. Aku kalah tatap dari jajaran pandang yang kau mainkan.
Aku kalah tema dan kalah menarik. Aku juga tak ingin berjuang ada. Yang aku
perjuangkan adalah menghapus semua dari kisah yang tak semestinya.
Apapun niat awalku.
Jika kau yang disana? Kecewa yang lebih membayangku. Luka yang lebih mengekor
mengikutiku.
Aku sudah siap untuk
terdiam membisu dengan kecewa yang membayang. Baiklah aku akan mencoba berdamai
pada keadaan. Aku akan berdamai pada rasaku. Aku akan berdamai pada egoku. Dan
aku akan berdamai pada nyata tak seindah harap sosokmu.
Akan aku dengarkan
kisahmu. Akan aku baca setiap larikan dari kata yang kau mainkan. Setidaknya,
aku punya banyak pembaca dari kisahku. Jadi, aku akan belajar menjadi pembaca
dari kisahmu.
Tidak lebih dan tak
boleh lebih. Aku hanya seorang pembaca bukan pendengar dari kisahmu. Aku tak
akan berjuang menciptakan rasa nyaman atau kebiasaan pada dirimu. Aku juga tak
berjuang tahu tentang dirimu. Aku hanya ada seperti ada untuk teman-temanku
yang lain.
Bagaimanapun juga aku
masih tahu diri. Aku masih menunggu seseorang yang siap menjadi bagian dari
dunia dan akheratku. Sosok yang dia belum di jawa. Dia masih penempatan di luar
jawa. Maka kami belum dipertemukan. Sosok amanah bapak. Mahluk Allah yang indah
dunia bahkan akheratnya. Bukan hanya seorang ksatria negara tapi seorang
ksatria surga. Bukan hanya sekedar bertameng atas nama besar sosok malaikat tak
bersayap tapi karena memang pantas untuk diperjuangkan.