Sabtu, 18 Agustus 2018

STORY OF MY WORD


TERKONEKSI

“Bayaran yang mahal untuk kesalahan yang aku perbuat. Dampak berat yang harus aku tanggung dari salah yang ku ukir”


Kita terpisah jarak yang berbeda. Tak boleh ada rasa yang bersemyam di lubuk hati yang terdalam bahkan yang terdasar. Aku boleh saja pernah mencintaimu atau menyalahkan cinta yang pernah menjatuhkan hatiku atas namamu. Tapi, bukannya semua juga atas kehendak salahku?
Aku harus selalu membayar mahal setiap kesalahan yang aku perbuat. Mahal-semahal mungkin. Bahkan untuk kesalahan kali ini.
Tak seharusnya kita kembali terkoneksi dalam maya. Tak seharusnya kita kembali terkoneksi dalam baris kata lagi. Tidak!!! Sebesar apapun rindu yang menyapa untuk bersarang.
Aku tak ada pada prioritas atau bahkan apapun yang kau tahu. Aku bahkan tak ada pada seonggok pedulimu. Aku siapa? kau siapa? mungkin selama ini benar-benar takdir yang menyapa kita. Mungkin selama ini kebetulan yang lebih memihakku. Mungkin selama in aku dipermainkan oleh apa yang aku rasakan.
Aku dipermainkan apa yang seharusnya tak kau yang ada disana. Entahlah, aku tak pernah paham. Setiap komunikasi atau apapun yang menyebab pada dirimu aku tak sanggup menerka walau sejuta burukmu mulai terkuak.
Kau tak seindah pandang pada jarak yang serupa dan seumpama. Kau terlalu jauh dari galaxy yang aku idamkan. Kau terlalu jauh dari jarak yang tak seharusnya tercipta. Kau bukan wujud mimpiku, bukan wujud harap dari berpuluh tahun yang ku bangun.
Kau hanya apa yang tak pernah aku pahami untuk tidak aku pedulikan, seharusnya. Kau melesat jauh dari antariksa yang tak seharusnya ada. Ah, tidak tentangmu bukannya selalu terlihat berkesan diawal berujung mengecewakan. Karena harapku terlalu tinggi?
Mari kita hitung sepersekian detik dan jalan yang harus kita temui. Mari kita hitung seberapa dalam luka yang tertoreh dari setiap kata yang kita mainkan.
Mau kau atau aku yang menyudahi? Aku tak berani terluka terlalu jauh. Tapi, aku tak berani melepas semua sementara. Bahagia coba tak ku raih. Ku tinggalkan begitu saja pada tempatnya. Berharap, semua akan sejajar pada semesta yang sama.
Jangan berhenti dari setiap kata yang kumainkan. Mari kita cari tema pembicaraan hingga kita lupa waktu. Tapi, aku takut terluka. Ujungnya juga aku tahu, kau mengakhiri semua dengan tema yang usai.
Planet pada garis edarmu terlalu banyak. Aku kalah tatap dari jajaran pandang yang kau mainkan. Aku kalah tema dan kalah menarik. Aku juga tak ingin berjuang ada. Yang aku perjuangkan adalah menghapus semua dari kisah yang tak semestinya.
Apapun niat awalku. Jika kau yang disana? Kecewa yang lebih membayangku. Luka yang lebih mengekor mengikutiku.
Aku sudah siap untuk terdiam membisu dengan kecewa yang membayang. Baiklah aku akan mencoba berdamai pada keadaan. Aku akan berdamai pada rasaku. Aku akan berdamai pada egoku. Dan aku akan berdamai pada nyata tak seindah harap sosokmu.
Akan aku dengarkan kisahmu. Akan aku baca setiap larikan dari kata yang kau mainkan. Setidaknya, aku punya banyak pembaca dari kisahku. Jadi, aku akan belajar menjadi pembaca dari kisahmu.
Tidak lebih dan tak boleh lebih. Aku hanya seorang pembaca bukan pendengar dari kisahmu. Aku tak akan berjuang menciptakan rasa nyaman atau kebiasaan pada dirimu. Aku juga tak berjuang tahu tentang dirimu. Aku hanya ada seperti ada untuk teman-temanku yang lain.
Bagaimanapun juga aku masih tahu diri. Aku masih menunggu seseorang yang siap menjadi bagian dari dunia dan akheratku. Sosok yang dia belum di jawa. Dia masih penempatan di luar jawa. Maka kami belum dipertemukan. Sosok amanah bapak. Mahluk Allah yang indah dunia bahkan akheratnya. Bukan hanya seorang ksatria negara tapi seorang ksatria surga. Bukan hanya sekedar bertameng atas nama besar sosok malaikat tak bersayap tapi karena memang pantas untuk diperjuangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...