Rabu, 27 Desember 2017

STORY MY WORD



SELASA, RABU
(Part 2)

            Kuliah dipercepat oleh dosen, entah karena materi yang memang sudah selesai atau karena beliau sudah bosan atau mungkin karena sosok kehadiarannya yang mengganggu. Sejujurnya aku tak peduli.
            Setelah dosen keluar, aku memutuskan keluar. Waktu masih menunjukan pukul 15.00 WIB perpustakaan masih buka.
“Ayo Kak kelua,” Ajak Pohon.
Kami berdua keluar, dengan muka penasaran ku kejar langkah kaki Pohon agar sejajar.
“Yang tadi itu bener? Dia ngikutin?” tanyaku tanpa peduli anak kelas lain. Bahkan sosok cowok yang sering kami bilang pengeran mimpi sedang terduduk di kursi panjang bersama temannya.
            Pohon tidak menjawab dia hanya melihat kearah sekelilingnya yang ramai lalu melanjutkan perjalanan. Kami disapa anak-anak cewek kelas pengeran mimpi yang diantaranya disitu ada Kak Ros dengan teman-temannya. Kami basa-basi sebentar lalu mengenalkan gantungan boneka kecil ditas kami masing-masing. Di tasku bernama Miachan sedangkan di tas Pohon bernama komeng. Lalu akhirnya kami pergi menuju ke perpustakaan, namun dilorong lantai satu aku terus mencari jawabku tentang tanya yang belum terjawab.
“Tadi beneran dia ngikutin?” tanyaku lagi.
“Iya dia ngikutin kakak!” bentak pohon.
Entah reflek apa yang kualami, tak ingin marah Pohon terlihat kalangan banyak atau apa namun yang kulakukan adalah menarik tangan Pohon untuk masuk kearah kelas BQ 105 untuk meminta penjelasan sedetail mungkin.
“Beneran?” tanyaku meminta penjelasan.
“Iya! Dan kenapa kakak ngajakin dia main!” kata Pohon dengan nada tinggi.
“Aku ngga ngajakin dia main,” kataku menjelaskan.
“Watermelon, watermelon segala,” kata Pohon dengan muka marah yang rasanya baru pernah ditujukan padaku.
“Itu reflek,” iya itu reflek aku punya alasan, aku benar-benar merasa bosan berada di kelas dan tak mendapat respon dari orang yang berada disebelahku itu menyebalkan.
“Kalau mau ngajakin main mending sama Pohon saja,” kata Pohon menanggapi responku.
Pohon keluar dari kelas, aku mengikuti langkahnya. Entah pikiranku melayang, kenapa bisa dia mengikutiku? Karena apa? Apa sepesialku? Pikiranku kacau hingga kami melihat sosok Abang. Abang adalah teman sekelas kami yang seusia dengan Pohon.Sosok cowok pintar rekan pohon memojokanku, rekan curhat yang lebih suka menceramahiku.
“Abang,” panggil Pohon seakan tak ada apapun yang terjadi.
Abang menoleh dengan muka yang tak biasanya, mukanya benar-benar segar berbumbu senyum mengembang. Muka kantuknya tadi di kelas benar-benar telah lenyap dan tak tersisa. Muka yang aku pikir jikalaupun dia berangkat pagi dan berambut klimis bukan muka ini yang dia punya. Atau mukanya sesegar itu dikarenakan mukaku yang kusut sebab ku tekuk dengan pertanyaan yang mendadak memenuhi rongga-rongga otakku.
“Dia yang tadi di aula seminar?” tanyaku pada Pohon sepanjang perjalanan menuju perpustakaan.
“Aku ga terlalu bisa melihat dan peka merasakan tapi itu iya Kak,” kata Pohon.
Otakku semakin meringsek jauh dengan apa yang ku pikirkan. Awalnya bukan takut yang ku dapat, aku terkesan tak peduli. Terserah dia mau mengikutiku atau apalah, toh sesame mahluk hidup berhak hidup di dunia ini.
Kami sampai di perpustakaan, ku ambil modem yang ku jadikan eksternal memory semacam flasdish. Lalu ku ambil tabletku kumatikan datanya ku ganti dengan wifi gratis perpustakaan, kami memasuki perpustakaan. Seperti biasa Pohon dengan setumpuk buku ditangannya dan sebuah smart phone baru. Aku memilih menyelesaikan tugasku, aku tak mau terfokus dengan sosok yang mengikutiku. Aku tak mau terlalu memperdulikan dia yang aku yakin tak akan menetap. Untuk sosok nyata aja belum tentu betah apalagi dia sosok yang tak kasat mata, jangan betah ya.
Pohon terduduk di kursi favoritku, karena kursi favoritnya telah penuh dengan segerombolan anak yang terlihat sibuk sedang berdiskusi. Aku menemukan computer yang bisa ku gunakan untuk mengerjakan tugas, harap maklum komputerku lagi sakit, dia kena virus. Lalu ku mulai dari RPP yang beberapa minggu lalu aku download, lalu selanjutnya lai ke silabus bagaimanapun juga buat RPP harus pakai silabus. Harap maklum, aku belum secanggih teman-temanku, biarpun hasil copy paste harus tetap pakai silabus.
Belum lama, baru beberapa menit. Pohon datang dengan buku ditangannya. Ku lihat notifikasi Whats up yang ramai oleh grup kelas. Terlihat mereka membahas tentang kasus tadi di BQ 102. Aku belum bergeming tuk mencari tahu, ku putuskan keluar mengikuti langkah kaki Pohon.
“Kita kemana?” tanyaku sembari membuka grup Whats Up kelas yang ramai.
“Nyari orang ketiga, kalau Cuma berdua kurang asyk kak,” kata Pohon.
Beberapa hari yang lalu Farah memang meminta kami membantu dia mengerjakan tugas tentang kebudayaan. Dia harus membuat video tentang kebudayaan di Indonesia, kebetulan kami didapuk sebagai bintang dari video itu, ehm… artis FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra).
“Lalu mau siapa? Anggota kerajaan? Mereka kan lagi kuliah,” kataku mengingatkan.
“Ya kalau adanya mereka ga apa Kak, kita cari mba Unyu,” kata Pohon.
Mba Unyu adalah anak semester 7 yang bisa bersama kami. Sosok mba-mba yang juga sama pecicilannya dengan kami. Sosok yang dia banget dengan segudang stok senyum dan PeDe yang over sebetulnya, tapi kami suka dia.
“Lagi dibahas di grup,” kataku pada Pohon.
“Iyakah kak?” tanya Pohon yang keluar dari grup seminggu yang lalu tanpa alasan.
“Heeh, katanya ada yang ngikutin, tapi mereka ga sebut nama,” kataku memastikan.
Kami sampai di fakultas Pendidikan yang sudah mulai sepi, yang di luar kelas tinggal nampak anak-anak PAI E. Sosok mba Unyu yang kebetulan ikut kelas itupun tak nampak, kami tak mungkin menghampiri ke kelas itu, jadi kami putuskan duduk di pos satpam yang sepi.
“Nunggu disini saja ya Kak,” kata Pohon.
“Iya, grupnya benar-benar ramai, mereka terus-terusan bahas kejadian tadi siang,” kataku ke Pohon.
“Iya po? Ga usah takutkan dia sementara kok, sedang sosok yang mengikutiku? Dia ga bisa pergi,” kata Pohon yang memang diikuti dan tak mungkin lepas dari sosok mba-mba cantik kasat mata teman dekatnya.
“Katanya, sosok itu anak-anak,” kataku membaca sebuah postingan teman sekelas yang bisa berkomunikasi.
Lalu selanjutnya, dia memberi tahu nama sosok yang mengikutiku dan mengomando anak-anak sekelas untuk mengirimkan al fatehah nanti sehabis magrib. Lalu selanjutnya mereka membahas agar tidak berangkat terlalu pagi ke kampus, apa hubungannya? Aku kan ga pernah kepagian ke kampus. Kalau aku kepagian ke kampus yang dinyanyiin lagu “Bukti” – virgoun sama raja Negeri Dongeng bukan Pohon tapi aku. Nah ini yang selalu kepagian nongkrongin BQ 107 atau kalau ga samping toilet juga Pohon kenapa yang kena aku coba? Lalu pada selanjutnya katanya karena aku ngajak sosok tak kasat mata itu main. Aku ga pernah ngajak main loh ya, salah paham berarti dia.
Mulai dari sini, aku semakin menekuk mukaku. Tak berhenti terdiam terus membacakan komen-komen di grup kelas pada Pohon. sesekali mencari sosok Mba Unyu menenangkan perasaan. Tapi tetap saja gagal.
“Kak perasaanku ga enak, asli ini itu seperti perasaanku ketika aku mau ditinggal kakekku,” kata Pohon mengalihkan perhatianku. Aku tahu kali ini bukan karena kepanikanku yang semakin bertambah apalagi setelah banyaknya komentar di grup tentang kejadian tadi.
“Ga dia ga akan kenapa-kenapa, dia baik-baik saja,” kataku memastikan hatiku tenang dengan kondisi Farah yang terlihat semakin melemah.
“Tapi Kak lihat saja mukanya pucat,” kata Pohon menambahi.
“Sejujurnya aku juga takut kalau dia Cuma ingin video ini selesai, kalau dia ingin segera pergi, apalagi kalimat di pesan-pesannya seakan dia sudah lelah menghadapi hidup,” kataku mengingat pesan-pesan dalam bentuk syair yang dia kirimkan padaku.
Aku tak tahu kemana harus ku tuju pikirku. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan aku tak mungkin menghentikan pikirku tentang Farah. Mau tak mau aku khawati dengan kondisinya, mau tak mau pikirku juga menuju sosok yang mengikutiku. Bagaimana kalau ini video terakhir Farah? Bagaimana kalau setelah selesai dengan video ini dia pergi meninggalkan kami? Bagaimana kalau kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi? Lalu dilain sisi pikirku melayang pada sosok yang mengikutiku. Bagaimana kalau teman-temanku jadi takut? Bagaimana kalau dia tak mau lepas dariku? Bagaimana kalau ini tak akan berakhir?
Belum usai dengan semua pikiran burukku, mereka yang di grup terus membahas tentangku seakan aku tak ada. Bukan bahasa yang serius lebih dengan bahasa bercanda. Pikiranku semakin tak jelas, aku masih terus membacakan keramaian di grup nampak Pohon mengalihkan duniaku dia mencari berbagai bahasan walau sebetulnya pikirannyapun kalut tak tak jelas bingung dengan semua yang abu-abu yang mewarnai otaknya.
Mba iwak membuat story yang bahkan benar-benar  sulit aku lupakan. Katanya makanya jangan pecicilan, ah tidak ini adalah kata-kata yang menyakitkan. Ini yang membuat Rabu ku bulat dan Rabu ku marah. Lalu pada selanjutnya katanya dia sudah tanyakan tentang kejadian di BQ 102 kepada kakeknya itu memang betul ulah mahluk halus. Mereka terus membahas tentang kejadian mistis itu digrup tanpa peduli ada aku. Tanpa mau salah satu dari mereka mengechat pribadi dan bilang apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya pura-pura bodoh seakan aku tak tahu apapun yang terjadi.
Ku temukan Kak Ros berjalan menuju kelasnya, dia sedang menunggu dosen statistic.
“Kak Ros?” teriakku yang membuat dia menghampiri kami.
“Upin, Ipin,” katanya dengan senyumnya.
“Kak ada mab Unyu? Panggilin dong penting gitu,” kami menitipkan pesan berharap Mba Unyu memang di kelas.
Tak butuh waktu lama, Mba Unyu datang. Kami meminta nomer lalu janjian untuk ketemu besok Rabu. Mba Unyu pergi untuk mengikuti perkuliahan statistic, kami memutuskan pergi mencari ice cream, jujur otakku sudah panas ini benar-benar menyesakkan. Aku tak tahu kemana pikiranku harus difokuskan, ke dia sosok kasat mata yang begitu menarik dibicarakan anak-anak kelas di grup WA? Atau sosok teman bersyair yang pernah ku buat pinsan di perpustakaan?
Ohhhhh…. Teman-teman sekelasku yang ku hormati dan kusayangi setengah hati, tahukah kalian? Sosok orang yang biasanya bermain syair, ku kasih tahu tentang curhatan hidupku, sosok yang ku anggap adik saja pernah aku buat pinsan. Tolong jangan macam-macam dan buat hatiku tak jelas dan tak karuan, berhenti membicarakannya. Aku benar-benar tertekan, kenapa kalian seakan menyalahkanku? Kenapa? Aku salahkah?
To be continue…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...