SELASA, RABU
(Part 5)
"Pada lisan yang tak terkehendaki, pada lelah yang menyerah amarah. Dan ketika rasa menyerah ingin berkata sudah. Lalu sekenario tulisan berbentuk pesan yang terus membayang"
Hari lalu mungkin usai dan akupun percaya jika hari ini akan usai. Lelahku akan tersudahi, sakit hati dan fisikku akan ku sudahi. Aku harus usai, tak mungkin terjebak dalam pikiranku sendiri, terlalu melelahkan. Aku tak mungkin terus menjadi yang bukan aku, terjebak dan terjelembab dalam luka yang bahkan aku tak tahu obatnya.
Jangan kira semua sudah berakhir. Bukan cuma perang mulut yang hampir membawa perang fisik di dalam kelas, tapi juga mungkin akan ada perang status jika aku tak menahan egoku. Jika aku hanya berfikir detik ini, jika aku hanya berfikir cara melampiaskan emosiku. Aku tak berhak, aku tak mungkin membalas story itu. Jalan satu-satunya aku diam dan melanjutkan hariku.
Seakan menjadi sebuah pulau yang baru saja terkena stunami, aku harus mampu memungut sisa-sisa reruntuhan yang mungkin masih bisa aku pertahankan. Aku juga mungkin masih bisa memungut serpihan-serpihan barang berharga yang lebih berharga dari apa yang aku punya Senin kemarin.
Aku melanjutkan aktivitasku sesuai dengan kebiasaanku, habis makan lalu shalat di kosan Pohon. Tapi masih terlalu berat, aku tak sanggup menahan air mataku.
"Ya Allah berat sekali ini, Ya Allah kenapa respon mereka seperti itu? Ya Allah kenapa harus aku? Aku lelah, Aku lelah," ucapku tak sanggup menahan air mataku yang tak beku. "Allah bekukan air mata yang cair ini, kuatkan hati yang lemah ini, hamba tak sanggup, tapi Engkau yang akan menyanggupkan hamba," Kataku sembari sesenggukan di kamar kosan Pohon, sementara itu Pohon masih mengambil air wudhu.
Aku tak sanggup menahan air mataku, yang tadi rencananya mau ditahan jangan sampai ketahuan Pohonpun gagal. Pohon mengedar pandangan dengan penuh iba, aku hanya mampu sesenggukan dan mencoba membuat senyum, walau aku gagal.
Hingga akhirnya sebuah kontak di WA-ku membuat tabletku bergetar. Aku membuka, ternyata sebuah pesan dari Karang.
"Maafin ya Bumi, barangkali aku nyinggung kamu," tulisnya pada pesan itu.
"Ga papa menghibur kok, tapi dy jangan dibercandain kasian."
"iyaa ok, maaf juga karna aku ga melihat dan merasakan, tapi mau tidak mau aku harus percaya kan keberadaan dia, ya semoga dari kejadian ini aku dan semunya bisa belajar untuk menghargai."
"Malah jangan sampai melihat dan merasakan he he he," jawabku dengan nada bercanda, seakan aku baik-baik saja tak marah sedikitpun.
"Hahaha cukup kamu aja ya," katanya ditambah dua emotikon orang botak melet.
Aku hanya membalas emotikon tertawa lebar, berharap percakapan ini berakhir. Lalu aku sampaikan pada Pohon mengenai pesan-pesan yang aku peroleh dari Karang. Pohon hanya tersenyum dan mengijinkanku untuk tetap membalasnya.
Aku pikir, karang sudah selesai dengan tugasnya. Aku dan pohon berhipotesis jika dia sedang jadi perantara untuk melihat kondisiku sekarang. Aku tak paham, tapi aku berharap kalau setelah dua emotikon tertawa lebarku dia akan berhenti menghubungiku.
"Saya mau minta maaf karena tadi bersikap seperti itu dan tidak sepantasnyaq, tapi niat saya cuma nggak ingin ada pertengkaran karna semua ikut bicara, maaf mbak Bumi," sebuah pesan dari Miss Calm yang membuat tablet sunyiku kembali bergetar.
Saya meminta pendapat Pohon, lalu setelah mendapat ijin membalas WA dari Miss Calm maka ku putuskan mulai menyusun kata. Bukan apa-apa, dalam kondisi amarah keputusan apapun akan salah, aku butuh pohon sebagai penasihat agar keputusan yang aku ambil bukan berdasar amarah tapi dari kenetralan.
"Dan mengapa saya ga bukak kesempatan yang lain bicara karena pada dasarnya saya ngga mau muter-muter terlalu jauh, terlalu menyita perhatian kalian terlalu banya, menyita waktu kalian terlalu banyak, (karena habis statistik itu lape, "Yang namanya laper emosinya mesti naik masalah kecil saja mendadak jadi besar," jare mae aku) he he he," kataku tak lupa tiga emotikon tertawa terbahak-bahak. "Ga usah minta maaf, dari kemarin tak cari yang salah ujungnya jatuh yang salah aku kok, yang tadi minta maaf banget buat semuanya, selasa besok ketemukan? tenang bakal biasa aja kok, tapi kalau ada yang pengin duduknya berjarak efek karena ada dy ngomong ga papa, atau ada keluahan apapun tentang saya ngomong aja ga papa kok," tulisanku panjang lebar, sok bijak dalam hati nyesek.
Aku mulai berfikir jika para perantara yang disuruh nanyain aku, mungkin wujud peduli mereka padaku. Atau pikiran dan perasaanku yang benar, kalau hasil wawancara via pesan WA sedang mereka publikasikan pada grup tanpa aku itu?
Aku tak mendapat balasan dari Miss Calm, dia centang satu. Entah mungkin
dia sedang sibuk dengan urusannya atau mungkin sedang sibuk ikut
berdiskusi digrup masih dengan topik pembahasan aku.
Akhirnya pesan Karang kembali memaskui tabletku.
"Unik," katanya dilengkapi dengan sebuah senyum emotikon.
"Aku tak paham dengan begituan, yang jelas aku nyaman jadi aku," kataku sedikit menyerah dengan keadaan.
"Hehe iya, ya bener lah, harus jadi diri sendiri juga, yang kadang bagi yang lain bertentangan," Katanya lagi.
Ah aku tak paham, apa kepribadianku bertentangan dengan kepribadian mereka? apa maksudmu Karang? Aku tak paham, aku tak mau tahu, aku terlalu lelah menghadapi nyata yang nyatanya tak berpihak padaku sedikitpun.
Yah akhirnya aku membuka tablet yang telah lama aku matikan. Aku isi daya dan akhirnya kembali aku nyalakan. Sekitar tengah malam aku membalas pesan dari Miss Calm yang aku yakin selarut ini pasti sudah berlayar di dunia mimpi.
"Iya mbak maaf banget tadi sampai nggedor meja padahal mejanya ga salah kasian, tapi beneran niatnya ga becara semua soale suasana ngga enak, saranku tapi mbak, jangan berfikiran kalau kita ngehindar dari mba dan Pohon. kita ga pernah ngehindar," katanya.
Kalian ga ngehindar dari kami, kamipun sebetulnya tak ingin menghindar dari kalian. Tapi kami ingin lebih memperjuangkan kenyamanan kalian tanpa kebrisikan kami. Kami hanya ingin beberapa dari kalian tenang tanpa suara dari kami, itu saja bukan karena kami menghindar dari kalian.
"Iya ga papa, habis statistik pantesnya spaneng, yah salah waktu juga, tapi ga mungkin ditunda rasane powl ngerasa bersalah ga nyaman sama keadaan dibandingkan cuma jadi secret reader yang aslinya adalah tokoh yang dibicarakan mending keluar saja dari grup, terus miki lagi, kalau keluar dari grup ga ijin nanti jadi pertanyaan," kataku merangkai kata dalam hati kalut tak karuan, "Eh bukan secret reader tapi silent reader, tolong bantu doanya semoga besok aku sama seperti kalian, jadi biasa tanpa sosok berbeda, jadi Bumi yang sama sebelum selasa, yang hanya Bumi tanpa dia, aamiin," tulisku memohon doa dari mereka.