Rabu, 04 April 2018

SALAH TAFSIR

DAN KAU LAGI

"Tolong jelaskan sedikit padaku, aku tak tahu langkah apa yang harus aku tempuh. Aku dengan tuntutan otakku yang memaksaku membahagia kedua orang tuaku. Dan kau hadir setelah rasa itu usai, untuk apa?"


Aku tak mau tahu apa urusanmu, karena jelas aku sudah berhenti dan rasaku kemarin sudah mati. Aku tak mau peduli dengan caramu, karena pada setiap langkahmu itu bukan aku. Aku berhenti pada titik aku dimana semesta kita tak seharunya kembali sama.
Kenapa kau kembali mengedar pada titik aku? Ah tidak, kau juga punya rasa tak nyaman sehingga ada kamu pada titik itu. Ah, rasanya aku masih ingin tidak percaya, tapi itu pasti nyatanya. Maka seperti itu kenyataannya, aku akan tetap jadi aku yang ku rencanakan diawal semester dan kau harus tahu rasa yang usai itu adalah wujud penguat dari otakku untuk menyakinkan hatiku. Kau sama sekali tak sedikitpun pantas untuk aku perjuangkan.
Aku tak boleh teralihkan atas sosokmu, aku harus tetap memegang juangku. Bahwa nyatanya harus ada cita Ayahku yang harus ku wujud. Aku harus membahagiakan kedua orang tuaku, mereka prioritasku sekarang. Aku tak boleh kembali terjatuh atas namamu atau apapun tentangmu. Kau sudah mulai belajar mengerdar pada titiknya, maka lanjutkan juangmu. Seperti semester-semester yang lalu aku akan tetap menjadi aku yang memilih menonton setiap sekenario yang terangkai berperan utama dirimu.
Aku hanya masih terkejut dengan kenyataan tentangmu. Walau dugaku merangkai dengan rangkai yang benar. Aku rasa kau lebih berguna pada tempatmu sekarang dan aku akan tetap tenang berdiri kokoh pada opsiku dengan senang. Percayalah, kau tak perlu memastikan nyatanya aku baik-baik saja tanpa cerita kita.
Aku yang memilih melangkah mundur dari cerita kita. Aku yang akhirnya dihempas kecewa dari kisah kita. Dan aku adalah sosok yang dikejar cita Ayahku, aku harus temukan sosok yang membuat Ayah dan Ibuku bahagia, sosok yang dapat dipercaya kalau semua akan baik-baik saja. Sosok cita-cita Ayah. Menantu idaman Ayah, yang bahkan aku tak tahu cara menemukannya.
Dan sosok idaman Ayahku itu jelas bukan kamu. Dia sosok yang "Coba saja anak Ayah cowok pasti sudah Ayah perjuangkan menjadi prajurit negara, membela negara dan menjaga negara tanpa melupa agama," kata Ayahku suatu sore. Jelas kata Ayahku lebih sederhana dari itu, tapi maknanya sama. Dan pasti kau tahu, aku terlahir menjadi seorang perempuan, yah perempuan yang untuk masuk kemiliteran dipertanyakan, bukan apa tapi karena fisikku yang tak sekuat mimpi-mimpiku.
Aku rasa buntu untuk hal itu, aku lebih mendamba anak teknik yang melogika dengan caranya. Tapi nyatanya garis edarku ada pada titik-titik edar yang kau sebrangi. Itu terlalu melalahkan bukan? Dan nyatanya aku harus sadar bahwa semua yang terangkai jelas adanya, bukan suatu kebetulan tapi semua punya penghubung yang menghubungkan yang memang seperti itu bukan sekedar imaji atau bahkan tersebab aku. he he he aku tertawa dan memutuskan terhenti pada titik aku, mengusai jalan cerita yang pernah kita rangkai.
Dan kau lagi, tak usah sukses membuat cinta menjatuhkanku. Tetaplah jadi kau yang harus bediri pada titikmu. Aku tak akan jadi seperti kemarin yang pernah kau temui, aku akan jadi aku dengan caraku. Jadi mari kita tetap berteman, tapi tetap tanpa rasa. Aku dengan caraku, yang puas menjadi penonton. Dan jalankanlah semua yang ingin kau mainkan, karena aku tahu berhenti juga pasti sama untukmu bukan wujud suatu pilihan.
Aku yakin kau akan lebih bermanfaat dan berguna ditempatmu sekarang yang mau tak mau aku harus bilang kalau itu juga semestaku. Aku tak akan mengganggumu, aku tak akan menganggapmu ada, karena yah kamu harus tahu, aku harus belajar dari pengalaman. Nyatanya aku tak mungkin membuat kesalahan yang sama, aku tak mungkin membuatmu sama dengan dia dan aku tak mungkin terjebak pada jalan cerita yang sama, ahhhhh tak lucu, tak menarik bukan?
Dan karena lagi, lagi, dan lagi kau. Maka aku putuskan untuk? aku adalah aku, aku yang baru, aku yang mulai tak percaya dengan lingkunganku dan aku yang mulai lelah dengan semua yang aku jalankan. Maka aku mau tak mau aku akui, kau adalah sebagian alasanku untuk tak meninggalkan titikku sekaang. Bukan karena disana ada kau, tapi karena aku tak mau dibilang dan dikatain.
"Kamu pindah gara-gara ada dia?" kata semestaku.
Tidak!!!!!!
Aku tak mau mereka memiliki banyak anggapan lagi tentang sejenak pertemanan kita. Sejenak aja ga usah lama-lama aku lelah kalau kelamaan. Ha ha ha...
Ah nyatanya tidak lucu, semua yang berhubungan denganmu bukan lelucon hanya kekecewaan yang mengisah. Dan jadi semalam itu kau? yahhhh...
Yah, yah, yah, lagi, lagi, lagi, dan lagi dugaku meluncur padamu. Mau bagaimana lagi, sosokmu yang bisa berbuat seperti itu. Padahal kalau saja kau bisa lebih ramah, lebih sederhana, lebih berwibawa, lebih bijaksana, mungkin kau masih mempesona walau yang ku cari tetep saja prajurit negara. Ingat aku harus membahagiakan kedua orang tuaku, perkara dijatuhkan cinta itu urusan waktu dan tindak laku.
Lagian mana mungkin Allah ngga punya prajurit negara yang baik hati, rajin menabung, tidak sombong, dapat dipercaya, berwibawa, dan beragama pastinya. Percayalah, Allah pasti punya itu dan salah satunya untuk aku. Aamiin...
Yah mau bagaimana lagi, dan lagi kau belum masuk kategori mantu idaman Ayah, belum masuk sederhana versi Mae. Jadi aku tak mau membangun harap pada puing-puing harap yang sudah dileburkan stunami. Aku berhenti, aku memilih mencari dan bahagia dengan cara lain. Mengenai banyak hal, ahhh mari kita berteman dan cukup bekerja sama urusan lainnya? aku dengan duniaku yang aku tak tahu mana dulu yang harus aku singgahi dan kamu dengan duniamu yang terserah kamu dan lagi aku tak mau peduli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...