SETIDAKNYA
Setidaknya aku pernah
menjadi semoga yang kau Aamiinkan dalam munajat panjang dimalam-malam syahdumu.
Setidaknya, aku pernah menjadi yakin yang kau ikhtiarkan dengan doa.
Setidaknya, aku pernah menjadi yang tercantik dipandangan yang kau tundukan.
Setidaknya, aku hanya
punya kata itu. Aku tak berdaya ketika aku ketinggalan kisah. Kau telah jauh
melangkah menuju jalan yang kau pilih, aku? Percayalah telah sukses menghapus
derita dijatuhkan cinta atas nama yang tak pernah pantas untukku.
Bukannya dulu aku
begitu takut duga mengenai cinta itu nyata. Dan setelah itu memang nyata, aku
takut dan setelahnya aku kehilangan sosokmu yang ditelan takdir. Kau bahagia
dengan takdir Tuhan yang begitu indah. Dan aku disinipun bahagia dengan takdir
Tuhan yang selalu indah dan berpihak padaku.
Karena kau adalah
ketakutan yang mengusai mayoritas benakku. Kau juga sebagaian dari ketakutan
yang kuhindari. Aku punya Allah. Doamu tak kalah, tapi kau pantas mendapatkan
yang terbaik. Sosok 180o dari lingkaran penyempurna agama untukmu
adalah sosok yang terbaik. Memiliki kualitas hebat yang jauh dariku.
Jauh-jauh hari, aku
yang kau beri tahu. Jauh-jauh hari aku yang teriak girang mendapat kabar
taarufmu diterima. Aku yang amat bahagia ketika kau diterima oleh sosok bidadari
dunia dan akherat macam mba-mba itu. Dan untuk selanjutnya masih aku yang amat
antusia mengenai pertemuan antara kau dengannya. Aku bertanya komentarmu
mengenai sosoknya, walau aku tahu kau tak akan seberani diriku menatap mata
lawan jenis. Percayalah, aku benar-benar bahagia untuk takdirmu yang sekarang.
Maaf, detik itu aku
mengulik masa lalu kita. Mengulik tentang 7 tahun diammu. Mengulik ketidak
pedulianku atas juangmu. Aku tak bodoh dan aku tahu rasamu. Tapi, aku
menghindar karena aku tak mau biasa pada kita berubah. Aku suka diperjuangkan,
diperjuangkan disaat yang tepat. Diperjuangkan dengan cara yang tepat.
Mungkin kau sempat
menunggu waktu. Memberimu peluang untuk berjuang. Atau bahkan kau pernah
benar-benar berjuang dengan cara yang tak pernah aku hargai. Kau hebat untuk
takaranmu. Dan aku merasa berharga pernah berada ditempat sepenting itu
dihatimu.
Untuk selanjutnya, aku
kehilanganmu. Aku kehilangan biasa kita. Rasanya terlalu cepat. Ketika aku tak
perlu takut mengenai dugaku, ketika aku mulai mampu menganggapmu seorang kakak
yang merangkap jadi teman tapi aku harus menjaga jarak. Aku tak mungkin sebebas
dulu, jarak diantara kita harus nyata. Kau adalah nahkoda dari sebuah kapal
yang harus kau kuasai melawan badai dan ombak kehidupan. Aku tak boleh jadi hiu
yang merusak kapal yang kau bangun dan kau kemudikan dengan doa dan jalan yang
lurus.
Aku kehilangan dirimu
dari cerita. Tapi, kita tetap teman kok. Teman sekelas ga lebih. Teman reunian
kalau aku sudah punya pasangan agar acara bukber ada yang nemenin.
Kau hebat, aku hanya sendiri dalam sepi
dan hampa bermodal kata setidaknya. Aku bahagia seperti ini. Rasanya lepas dan
bebas, tiada beban. Jikalaupun kecewa itu juga hanya sejenak terobati tawa yang
lebih sempurna.