CINTA MONYET RASA
KUBURAN
“Aku masih ingat setiap
jengkal tentangmu, setiap gerak darimu, dan beberapa hebatnya kau mempengaruhi
hidupku. Setiap sudut pelataran sekolah kita memang sudah banyak berubah dan
berganti. Tapi, untuk semua sudut kenang yang tertoreh masih teringat diotak
pelupaku.”
Aku kembali pada kenang
Sembilan tahun silam, tepat disaat aku mengetahui keberadaanmu. Di sudut
sekolah yang asri, luas dan tenang ternyata sosokmu ada. Sosok yang menyita
bertahun-tahun perhatianku. Sosok yang pernah menjadi sumber semangatku. Dimana
kamu sekarang?
Kalau bukan setelah
waktu yang cukup panjang. Aku tak berani jamin apakah aku berani duduk di ruang
tamu ruang tata usaha dan kantor guru. Dulu, semua tindakku terlalu ku
perhitungkan dan kubatasi hingga diam adalah pilihan terbaik.
Aku pernah berdiri
denganmu di lapangan upacara itu. Yah pasti dengan jarak yang cukup jauh
tentunya. Kau bertengker pada tata suryamu, aku ada di barisan belakang tata
suryaku. Aku mengedar pandang tuk menangkap sosokmu dari arah diamku. Ah cinta
monyet lucu, terlebih untuk di kenang.
Ku selusuri depan ruang
kelasmu, tapi tak seperti Sembilan tahun silam aku tak menemukanmu di teras
depannya. Tak seperti Sembilan tahun silam, aku juga tak bisa duduk di depanmu
untuk mengikuti jam pelajaran tambahan.
Selanjutnya, ku temukan
sudut favoritku tuk mencarimu dengan semua sistem planet di tata suryamu. Dari
kaca jendelaku, aku mampu menemukanmu yang sedang bercanda dengan
teman-temanmu. Aku suka mencuri waktu tuk memandangmu dari kejauhan berharap
tak pernah ada yang menyadarinya. Dan kau harus tahu, aku selalu menang karena
mereka tak pernah menyadari ulahku. Ya Allah aku benar-benar terjebak kenang.
Aku sudah tak ada disudut itu, kau pun juga galaxy kita benar-benar sudah
berbeda. Jauh dan sangat jauh.
Lalu akhirnya, ku
selusuri seluruh lorong kelas. Aku kembali ke masa 2009 dimana aku menemukanmu
tanpa rasa. Karena, rasaku terkonsen ke gerombolan kakak kelas. Dulu kau
berdiri disana berbaris rapi dengan seluruh penghuni sistem tata suryamu bukan?
aku dulu beberapa kali melihatmu disana.
Oh iya, aku ingat ruang
depan BK yang dulu dibuat untuk
memampang nilai try out ujian nasional. Bukannya, dari sana aku mampu
melampaui batasku. Berawal dari rasa sebal selalu berada diposisi peringkat
pararel dibawahmu, hingga di try out akhir namaku berada di jajaran kedua. Aku
hebatkan? Bahkan, dulu guru kita saja kaget dan tak menyangka he he he J
sampai detik ini aku juga ga nyangka kok, terimakasih cinta monyet rasa
kuburan.
Dan harus kau tahu, di
depan kelasmu udah ada gazebonya. Kalau saja jaman kita sudah ada mesti itu
bakal jadi tempat nongkrongnya kalian. Atau mungkin genk lain.
Kau masih ingat jalanan
panjang yang mengitari lapangan upacara? Aku masih ingat bertemu denganmu
disana. Kita berpapasan, kau dengan sarung yang menyelempang di lehermu. Lalu,
kau menarik sarung itu untuk digerakkannya seperti pecut ke salah satu teman
kelasku. Itu waktu sholat dhuha benar? Ah tidak aku hanya mampu memandangimu
dan berharap kau tak pernah tahu dag, dig, dug hatiku yang rusuh bukan
kepalang. Dan yang harus kau tahu, setelah kejadian itu aku jadi sosok yang
luar biasa hebat di kelas. Aku? Seakan tahu banyak hal di luar materi
pembelajaran, aku? Dipuji guru bahasa Indonesiaku. Kok bisa yah? Kau hebat
mempengaruhi hidupku, penyuntik semangat dan kepercayaan diri yang lain.
Tadi, aku mencari pohon
rambutan yang dulu sebelum jam tambahan dimulai pernah kau jarah bersama
segerombol temanmu. Pohon itu sudah ditebang. Dulu selesai aku sholat dzuhur
kau sedang dengan segerombol temanmu berjuang mendapatkan beberapa biji
rambutan matang. He he he J sekarang aku juga senang menjarah
beberapa buah di kampus tercintaku, bukan ngikutin kamu karena anggap saja
pemikiran kita sama walau beda waktu “sayang kalau ga dipetik, nanti jadi
mubazir ga ada yang panenin,” gitu aja ya biar cepet. He he he J
Dan aku sampai pada
titik yang membuat cinta menjatuhkanku atas namamu bersama titik-titik gerimis
yang syahdu. Yang tak pernah ku lupa dan membuatku terjebak dalam kenang lebih dalam.
Lalu memaksaku mengingat rasa yang pernah membuatku tak karuan. Di sudut jalan
tempat wudhu, kau pernah mengorbankan dirimu untuk terkena rintikan air hujan
bukan? aku masih ingat dengan hal itu. Ya Allah, rasa bersalahku mendarat
dengan indahnya. Dengan cara sederhana bahkan kau memenuhi hatiku hingga kurun
waktu yang panjang empat atau bahkan
lima tahun. Ah tidak, nyatanya setiap yang coba datang mendekat selalu
masih ku banding dengan sosokmu. Kecuali sosoknya yang akhirnya mampu
memenangkan perbandingan yang selalu ku buat. Yah, aku baru bisa membuka dan
mengganti nama pada hati, pikir, dan khayalku di semester 3 awal kuliahku, 2016
yang lalu. Kau hebat….
Perpustakaan, dulu
adalah tempat pelarianku di waktu istirahat. Dulu, aku bisa dengan mudah menemukanmu
di sana. Aku tahu kau ada disana sehabis menyambangi kantin, kau disana hanya
sekedar untuk membaca tabloid bola. Atau aku tak pernah tahu.
Dan hingga detik ini,
aku tak pernah tahu mengapa aku begitu mengagumimu. Hingga rasanya, gugusan
banyak planet dari tata surya lain tak sehebat dan seindah ahlakmu. Kamu yang
pintar, kamu yang rajin, kamu yang rapi, kamu yang aktif, kamu yang memasuki
semua kriteria cowok yang aku cari. Kamu……
Cinta monyet rasa
kuburan. Baiklah, mungkin rasa beberapa tahun yang lalu itu benar-benar cinta,
tapi rasa kuburan. Kuburan? Iya, sunyi, senyap dan hanya aku yang disana. Rasa
itu aku pendam sendirian tanpa tahlilan (karena aku tak pernah berani
menyebutmu dalam munajat singkatku).
Dan akhirnya rasa itu
juga mati dan terkubur. Tergerus waktu dan jarak. Kita terpisah jauh dari
cerita, aku tak pernah menemukanmu lagi dalam nyata. Dan aku juga tak pernah
berani menyapamu dalam maya. Dalam mimpi? Kau tak pernah memunculkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar