Rabu, 18 Juli 2018

STORY OF MY WORLD


CINTA MONYET RASA KUBURAN

“Aku masih ingat setiap jengkal tentangmu, setiap gerak darimu, dan beberapa hebatnya kau mempengaruhi hidupku. Setiap sudut pelataran sekolah kita memang sudah banyak berubah dan berganti. Tapi, untuk semua sudut kenang yang tertoreh masih teringat diotak pelupaku.”

Aku kembali pada kenang Sembilan tahun silam, tepat disaat aku mengetahui keberadaanmu. Di sudut sekolah yang asri, luas dan tenang ternyata sosokmu ada. Sosok yang menyita bertahun-tahun perhatianku. Sosok yang pernah menjadi sumber semangatku. Dimana kamu sekarang?
Kalau bukan setelah waktu yang cukup panjang. Aku tak berani jamin apakah aku berani duduk di ruang tamu ruang tata usaha dan kantor guru. Dulu, semua tindakku terlalu ku perhitungkan dan kubatasi hingga diam adalah pilihan terbaik.
Aku pernah berdiri denganmu di lapangan upacara itu. Yah pasti dengan jarak yang cukup jauh tentunya. Kau bertengker pada tata suryamu, aku ada di barisan belakang tata suryaku. Aku mengedar pandang tuk menangkap sosokmu dari arah diamku. Ah cinta monyet lucu, terlebih untuk di kenang.
Ku selusuri depan ruang kelasmu, tapi tak seperti Sembilan tahun silam aku tak menemukanmu di teras depannya. Tak seperti Sembilan tahun silam, aku juga tak bisa duduk di depanmu untuk mengikuti jam pelajaran tambahan.
Selanjutnya, ku temukan sudut favoritku tuk mencarimu dengan semua sistem planet di tata suryamu. Dari kaca jendelaku, aku mampu menemukanmu yang sedang bercanda dengan teman-temanmu. Aku suka mencuri waktu tuk memandangmu dari kejauhan berharap tak pernah ada yang menyadarinya. Dan kau harus tahu, aku selalu menang karena mereka tak pernah menyadari ulahku. Ya Allah aku benar-benar terjebak kenang. Aku sudah tak ada disudut itu, kau pun juga galaxy kita benar-benar sudah berbeda. Jauh dan sangat jauh.
Lalu akhirnya, ku selusuri seluruh lorong kelas. Aku kembali ke masa 2009 dimana aku menemukanmu tanpa rasa. Karena, rasaku terkonsen ke gerombolan kakak kelas. Dulu kau berdiri disana berbaris rapi dengan seluruh penghuni sistem tata suryamu bukan? aku dulu beberapa kali melihatmu disana.
Oh iya, aku ingat ruang depan BK yang dulu dibuat untuk  memampang nilai try out ujian nasional. Bukannya, dari sana aku mampu melampaui batasku. Berawal dari rasa sebal selalu berada diposisi peringkat pararel dibawahmu, hingga di try out akhir namaku berada di jajaran kedua. Aku hebatkan? Bahkan, dulu guru kita saja kaget dan tak menyangka he he he J sampai detik ini aku juga ga nyangka kok, terimakasih cinta monyet rasa kuburan.
Dan harus kau tahu, di depan kelasmu udah ada gazebonya. Kalau saja jaman kita sudah ada mesti itu bakal jadi tempat nongkrongnya kalian. Atau mungkin genk lain.
Kau masih ingat jalanan panjang yang mengitari lapangan upacara? Aku masih ingat bertemu denganmu disana. Kita berpapasan, kau dengan sarung yang menyelempang di lehermu. Lalu, kau menarik sarung itu untuk digerakkannya seperti pecut ke salah satu teman kelasku. Itu waktu sholat dhuha benar? Ah tidak aku hanya mampu memandangimu dan berharap kau tak pernah tahu dag, dig, dug hatiku yang rusuh bukan kepalang. Dan yang harus kau tahu, setelah kejadian itu aku jadi sosok yang luar biasa hebat di kelas. Aku? Seakan tahu banyak hal di luar materi pembelajaran, aku? Dipuji guru bahasa Indonesiaku. Kok bisa yah? Kau hebat mempengaruhi hidupku, penyuntik semangat dan kepercayaan diri yang lain.
Tadi, aku mencari pohon rambutan yang dulu sebelum jam tambahan dimulai pernah kau jarah bersama segerombol temanmu. Pohon itu sudah ditebang. Dulu selesai aku sholat dzuhur kau sedang dengan segerombol temanmu berjuang mendapatkan beberapa biji rambutan matang. He he he J sekarang aku juga senang menjarah beberapa buah di kampus tercintaku, bukan ngikutin kamu karena anggap saja pemikiran kita sama walau beda waktu “sayang kalau ga dipetik, nanti jadi mubazir ga ada yang panenin,” gitu aja ya biar cepet. He he he J
Dan aku sampai pada titik yang membuat cinta menjatuhkanku atas namamu bersama titik-titik gerimis yang syahdu. Yang tak pernah ku lupa dan membuatku terjebak dalam kenang lebih dalam. Lalu memaksaku mengingat rasa yang pernah membuatku tak karuan. Di sudut jalan tempat wudhu, kau pernah mengorbankan dirimu untuk terkena rintikan air hujan bukan? aku masih ingat dengan hal itu. Ya Allah, rasa bersalahku mendarat dengan indahnya. Dengan cara sederhana bahkan kau memenuhi hatiku hingga kurun waktu yang panjang empat atau bahkan  lima tahun. Ah tidak, nyatanya setiap yang coba datang mendekat selalu masih ku banding dengan sosokmu. Kecuali sosoknya yang akhirnya mampu memenangkan perbandingan yang selalu ku buat. Yah, aku baru bisa membuka dan mengganti nama pada hati, pikir, dan khayalku di semester 3 awal kuliahku, 2016 yang lalu. Kau hebat….
Perpustakaan, dulu adalah tempat pelarianku di waktu istirahat. Dulu, aku bisa dengan mudah menemukanmu di sana. Aku tahu kau ada disana sehabis menyambangi kantin, kau disana hanya sekedar untuk membaca tabloid bola. Atau aku tak pernah tahu.
Dan hingga detik ini, aku tak pernah tahu mengapa aku begitu mengagumimu. Hingga rasanya, gugusan banyak planet dari tata surya lain tak sehebat dan seindah ahlakmu. Kamu yang pintar, kamu yang rajin, kamu yang rapi, kamu yang aktif, kamu yang memasuki semua kriteria cowok yang aku cari. Kamu……
Cinta monyet rasa kuburan. Baiklah, mungkin rasa beberapa tahun yang lalu itu benar-benar cinta, tapi rasa kuburan. Kuburan? Iya, sunyi, senyap dan hanya aku yang disana. Rasa itu aku pendam sendirian tanpa tahlilan (karena aku tak pernah berani menyebutmu dalam munajat singkatku).
Dan akhirnya rasa itu juga mati dan terkubur. Tergerus waktu dan jarak. Kita terpisah jauh dari cerita, aku tak pernah menemukanmu lagi dalam nyata. Dan aku juga tak pernah berani menyapamu dalam maya. Dalam mimpi? Kau tak pernah memunculkan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...