Rabu, 18 Juli 2018

STORY MY WORD


SETIDAKNYA


Setidaknya aku pernah menjadi semoga yang kau Aamiinkan dalam munajat panjang dimalam-malam syahdumu. Setidaknya, aku pernah menjadi yakin yang kau ikhtiarkan dengan doa. Setidaknya, aku pernah menjadi yang tercantik dipandangan yang kau tundukan.


Setidaknya, aku hanya punya kata itu. Aku tak berdaya ketika aku ketinggalan kisah. Kau telah jauh melangkah menuju jalan yang kau pilih, aku? Percayalah telah sukses menghapus derita dijatuhkan cinta atas nama yang tak pernah pantas untukku.
Bukannya dulu aku begitu takut duga mengenai cinta itu nyata. Dan setelah itu memang nyata, aku takut dan setelahnya aku kehilangan sosokmu yang ditelan takdir. Kau bahagia dengan takdir Tuhan yang begitu indah. Dan aku disinipun bahagia dengan takdir Tuhan yang selalu indah dan berpihak padaku.
Karena kau adalah ketakutan yang mengusai mayoritas benakku. Kau juga sebagaian dari ketakutan yang kuhindari. Aku punya Allah. Doamu tak kalah, tapi kau pantas mendapatkan yang terbaik. Sosok 180o dari lingkaran penyempurna agama untukmu adalah sosok yang terbaik. Memiliki kualitas hebat yang jauh dariku.
Jauh-jauh hari, aku yang kau beri tahu. Jauh-jauh hari aku yang teriak girang mendapat kabar taarufmu diterima. Aku yang amat bahagia ketika kau diterima oleh sosok bidadari dunia dan akherat macam mba-mba itu. Dan untuk selanjutnya masih aku yang amat antusia mengenai pertemuan antara kau dengannya. Aku bertanya komentarmu mengenai sosoknya, walau aku tahu kau tak akan seberani diriku menatap mata lawan jenis. Percayalah, aku benar-benar bahagia untuk takdirmu yang sekarang.
Maaf, detik itu aku mengulik masa lalu kita. Mengulik tentang 7 tahun diammu. Mengulik ketidak pedulianku atas juangmu. Aku tak bodoh dan aku tahu rasamu. Tapi, aku menghindar karena aku tak mau biasa pada kita berubah. Aku suka diperjuangkan, diperjuangkan disaat yang tepat. Diperjuangkan dengan cara yang tepat.
Mungkin kau sempat menunggu waktu. Memberimu peluang untuk berjuang. Atau bahkan kau pernah benar-benar berjuang dengan cara yang tak pernah aku hargai. Kau hebat untuk takaranmu. Dan aku merasa berharga pernah berada ditempat sepenting itu dihatimu.
Untuk selanjutnya, aku kehilanganmu. Aku kehilangan biasa kita. Rasanya terlalu cepat. Ketika aku tak perlu takut mengenai dugaku, ketika aku mulai mampu menganggapmu seorang kakak yang merangkap jadi teman tapi aku harus menjaga jarak. Aku tak mungkin sebebas dulu, jarak diantara kita harus nyata. Kau adalah nahkoda dari sebuah kapal yang harus kau kuasai melawan badai dan ombak kehidupan. Aku tak boleh jadi hiu yang merusak kapal yang kau bangun dan kau kemudikan dengan doa dan jalan yang lurus.
Aku kehilangan dirimu dari cerita. Tapi, kita tetap teman kok. Teman sekelas ga lebih. Teman reunian kalau aku sudah punya pasangan agar acara bukber ada yang nemenin.
Kau hebat, aku hanya sendiri dalam sepi dan hampa bermodal kata setidaknya. Aku bahagia seperti ini. Rasanya lepas dan bebas, tiada beban. Jikalaupun kecewa itu juga hanya sejenak terobati tawa yang lebih sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...