PELANGI KEBISUAN
"Pada sekenario mana harusku mainkan kata. Jika mampu menghindar saatku bergerak, jika kau datang saatku enggan. Dan jika kita tak pada jika yang kita kehendaki"
Pada derasnya hujan yang menjebakku disore ini. Aku terjebak pada bayangmu yang kuhindari. Aku terjebak pada garis edar yang seakan satu namun nampak berbeda arah.
Jika hujan menjebakku dengan caranya yang indah nan elegan. Namun keadaan menjebakku dengan kebisuan, diam sejuta bahasa. Ramai yang menjadi hening dan gerak yang menjadi kata kaku. Lalu ku sekenariokan apa? Nyatanya sama saja bukan?
Aku sendiri tak pernah tahu dialog apa ygn tepat ketika keadaan menjebak. Aku tak pernah tahu harus apa diriku? Walau akhirnya aku lebih memilih mencari tatap ambisius pada matamu yang telah sirna, walau sejujurnya aku lebih suka halusmu dan senyum tulus itu.
Lalu haruskah aku yang memulai jika pada nyatanya kemarinnya kemarin saat berpapas kau buang muka. Kau menghindar dan memilih bersembunyi dibalik temanmu. Lantas sekarang aku harus menyapamu? Dimana keberanianmu? Keberanian yang aku tunggu, keberanian dalam wujud juang.
Ah.. Aku tahu kau melupakan hal itu. Kau tak punya keberanian itu, karena aku tahu kau masih perlu diakreditasi. Karena aku tahu garis edarmu masih dipenuhi bayang yang begitu menarik untuk. Nyatanya aku tak masuk perhitungan namun sayangnya ada dalam titik edar.
Lalu pada selanjutnya, diam adalah pilihan. Tak melangkah, berharap mendapat satu sekenario indah yang menghubungkan. Berusaha? Mungkin juga lupa untuk mendo'a. Lalu pada titik mana aku bertanya?
Ah tidak pada titik selanjutnya aku akan tetap sama. bersembunyi dicelah-celah luka yang lama dan enggan beranjak padamu. Walau nyatanya ku harap sebutir pil manis yang mengobati lukaku. Walalu kuharap tingkah konyol yang menghimburku.
Tetaplah jadi dirimu, jadi kau yang ku kenal diawal. Kau yang konyol, Kau yang kekanak-kanakan. Karena kau yang sok bijak dan sok dewasa sungguh terlihat membosankan dan menyebalkan.
Jika keadaan kembali menjebakku dalam pandang pelangi kebisuan. Aku ingin berlari sejauh yang aku mampu. Menghindar dari garis edar, menjauh dari garis orbit. Memejamkan kedua mata dan menutup kedua telinga dengan tangan kasarku. Karena nyatanya pura-pura tak melihatmu dan pura-pura tak mengetahui ada kamu adalah suatu hal yang tak mudah untukku.
#Pelangi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar