Jumat, 08 Desember 2017

STORY OF MY WORD

HARAP PADA KHAYAL

"Aku tak mungkin kamu. Kita tak mungkin sama. Dunia kita berbeda bukan pelengkap atau rangkaian kata yagn terbiasa. Hanya harap pada khayal pendingin kobar panasnya cuaca."

Pada cemara yang bergoyang. Pada deras rintik hujan yang menemani sore. Kutorehkan harap pada khayal yang rasanya enggan terwujud. Pada ukir andai yagn jauh dari nyata.
Jelaskan padaku tentang titik dan dentang apa yang harus aku analogikan jika pada akhirnya aku hanya akan terpuruk pada kecewa yang mengelupas dan menggores luka. Ah tidak aku hanya berharap. Membiarkan hatiku tergores dan terpuruk pada duka. Memberikan kesempatan pada kecewa tuk singgah. Membiarkan perih mendarat dan menggores.
Jika aku bisa temukan dia dengan tugasnya di tempat favoritku. Lantas mengapa tak bisa menemukanmu disini? Dimana kamu? mengorbit pada garis dan titik apa sebenarnya kamu?
Jika bahkan dia mampu sedikit membunuh gengsinya untuk duduk pada tahta dimana kita bertahta. Menikmati olahan khas yang murah meriah. Lalu mengapa tak sedikit kau meluangkan waktumu sebentar tuk terlihat dari sudut favoritku. Terlalu beratkah hingga kau tak mampu nampak?
Haruskah ku akhiri khayal pada harapku? sedang rasa hati dan fikiran ini masih tentangmu. Masih pada titikmu, mencari setiap sudut dan celah mengenaimu. Mendetail walau tanpa getar.
Ah aku takut terluka, takut kecewa, takukt dan takut. Hingga hatiku masih tertutup dengan harap akan ada kau yang terlihat dari titik sudut favoritku. Terduduk, terkonsen dan berlama-lama dengan aroma yang membuatku tenang, menguap hingga akhirnya terlelap.
Ayolah, berbulan-bulan yagn lalu di tahun yang sama aku bisa menemukanmu. lalu dengan suara samar-samar yang coba kutangkap. Akankah itu terulang?
Haruskah kau lihat aku disudut favoritku? Menunggumu, menanti kehadiranmu. Berharap rasa rajin yang kau tunjukan. Lalu kau tampilkan tatap mata yang kurindu. Lalu senyum tulus yang semerbak dan banyak hal yang kau tontonkan. Semua yagn aku rindu darimu, bahkan tutur kata lembut itu.
Aku tak berharap kau menghampirik. Aku hanya berkhayal kau akan duduk di kursi depanku yang selalu kosong. lalu kau mulai kata dengan "Hai?" atau kalau itu terlalu canggung untukmu maka mungkin kau boleh memulai kata dengna kalimat basa-basi "Kursi ini kosong?" atau apapun yang mampu kau rangkai.
Lalu pada selanjutnya kita saling diam. Terkonsen dengan buu masing-masing. Walau nyatanya kita berkecamuk dalam pikir dan perasaan yagn saling terelebat dengan mulut terbungkam. Oh menyesakan bukan?
Pada sepuluh menit berikutnya, kau beranikan diri memulai pembicaraan.
"Anak Tarbiyahkan?" katamu selembut kata-kata pertama yang kau ucapkan pada bedah buku itu awal kita bertemu.
Atau mungkin bukan sekedar kata-kata itu. Tapi sejuta jurus modusmu. Yang pengitn kita terhubung. Memulai percakapan, membagi keadaan sekarang. Lalu ciptakan kenagn dan pada akhirnya aku tersadar.
Ini hanya harap dan khayal. Ini hanya cerita tanpa realita. Jauh dari kata nyata hanya sekedar harap. Toh aku tak boleh berharap kursi di depanku akan terisi mahluk super sibuk dengan dunia lain sepertimu.
Biarlah kursi itu kosong. Biarlah kursi itu tak terisi, toh kursi itu akan bahagia walau tak ada kamu. Toh kursi itu akan tetap sama manfaat dan gunanya. Ada kamu hanya khayal dan harap bukan tuk jadi realita kehidupan nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...