Rabu, 27 Desember 2017

STORY MY WORD



SELASA, RABU
(Part 2)

            Kuliah dipercepat oleh dosen, entah karena materi yang memang sudah selesai atau karena beliau sudah bosan atau mungkin karena sosok kehadiarannya yang mengganggu. Sejujurnya aku tak peduli.
            Setelah dosen keluar, aku memutuskan keluar. Waktu masih menunjukan pukul 15.00 WIB perpustakaan masih buka.
“Ayo Kak kelua,” Ajak Pohon.
Kami berdua keluar, dengan muka penasaran ku kejar langkah kaki Pohon agar sejajar.
“Yang tadi itu bener? Dia ngikutin?” tanyaku tanpa peduli anak kelas lain. Bahkan sosok cowok yang sering kami bilang pengeran mimpi sedang terduduk di kursi panjang bersama temannya.
            Pohon tidak menjawab dia hanya melihat kearah sekelilingnya yang ramai lalu melanjutkan perjalanan. Kami disapa anak-anak cewek kelas pengeran mimpi yang diantaranya disitu ada Kak Ros dengan teman-temannya. Kami basa-basi sebentar lalu mengenalkan gantungan boneka kecil ditas kami masing-masing. Di tasku bernama Miachan sedangkan di tas Pohon bernama komeng. Lalu akhirnya kami pergi menuju ke perpustakaan, namun dilorong lantai satu aku terus mencari jawabku tentang tanya yang belum terjawab.
“Tadi beneran dia ngikutin?” tanyaku lagi.
“Iya dia ngikutin kakak!” bentak pohon.
Entah reflek apa yang kualami, tak ingin marah Pohon terlihat kalangan banyak atau apa namun yang kulakukan adalah menarik tangan Pohon untuk masuk kearah kelas BQ 105 untuk meminta penjelasan sedetail mungkin.
“Beneran?” tanyaku meminta penjelasan.
“Iya! Dan kenapa kakak ngajakin dia main!” kata Pohon dengan nada tinggi.
“Aku ngga ngajakin dia main,” kataku menjelaskan.
“Watermelon, watermelon segala,” kata Pohon dengan muka marah yang rasanya baru pernah ditujukan padaku.
“Itu reflek,” iya itu reflek aku punya alasan, aku benar-benar merasa bosan berada di kelas dan tak mendapat respon dari orang yang berada disebelahku itu menyebalkan.
“Kalau mau ngajakin main mending sama Pohon saja,” kata Pohon menanggapi responku.
Pohon keluar dari kelas, aku mengikuti langkahnya. Entah pikiranku melayang, kenapa bisa dia mengikutiku? Karena apa? Apa sepesialku? Pikiranku kacau hingga kami melihat sosok Abang. Abang adalah teman sekelas kami yang seusia dengan Pohon.Sosok cowok pintar rekan pohon memojokanku, rekan curhat yang lebih suka menceramahiku.
“Abang,” panggil Pohon seakan tak ada apapun yang terjadi.
Abang menoleh dengan muka yang tak biasanya, mukanya benar-benar segar berbumbu senyum mengembang. Muka kantuknya tadi di kelas benar-benar telah lenyap dan tak tersisa. Muka yang aku pikir jikalaupun dia berangkat pagi dan berambut klimis bukan muka ini yang dia punya. Atau mukanya sesegar itu dikarenakan mukaku yang kusut sebab ku tekuk dengan pertanyaan yang mendadak memenuhi rongga-rongga otakku.
“Dia yang tadi di aula seminar?” tanyaku pada Pohon sepanjang perjalanan menuju perpustakaan.
“Aku ga terlalu bisa melihat dan peka merasakan tapi itu iya Kak,” kata Pohon.
Otakku semakin meringsek jauh dengan apa yang ku pikirkan. Awalnya bukan takut yang ku dapat, aku terkesan tak peduli. Terserah dia mau mengikutiku atau apalah, toh sesame mahluk hidup berhak hidup di dunia ini.
Kami sampai di perpustakaan, ku ambil modem yang ku jadikan eksternal memory semacam flasdish. Lalu ku ambil tabletku kumatikan datanya ku ganti dengan wifi gratis perpustakaan, kami memasuki perpustakaan. Seperti biasa Pohon dengan setumpuk buku ditangannya dan sebuah smart phone baru. Aku memilih menyelesaikan tugasku, aku tak mau terfokus dengan sosok yang mengikutiku. Aku tak mau terlalu memperdulikan dia yang aku yakin tak akan menetap. Untuk sosok nyata aja belum tentu betah apalagi dia sosok yang tak kasat mata, jangan betah ya.
Pohon terduduk di kursi favoritku, karena kursi favoritnya telah penuh dengan segerombolan anak yang terlihat sibuk sedang berdiskusi. Aku menemukan computer yang bisa ku gunakan untuk mengerjakan tugas, harap maklum komputerku lagi sakit, dia kena virus. Lalu ku mulai dari RPP yang beberapa minggu lalu aku download, lalu selanjutnya lai ke silabus bagaimanapun juga buat RPP harus pakai silabus. Harap maklum, aku belum secanggih teman-temanku, biarpun hasil copy paste harus tetap pakai silabus.
Belum lama, baru beberapa menit. Pohon datang dengan buku ditangannya. Ku lihat notifikasi Whats up yang ramai oleh grup kelas. Terlihat mereka membahas tentang kasus tadi di BQ 102. Aku belum bergeming tuk mencari tahu, ku putuskan keluar mengikuti langkah kaki Pohon.
“Kita kemana?” tanyaku sembari membuka grup Whats Up kelas yang ramai.
“Nyari orang ketiga, kalau Cuma berdua kurang asyk kak,” kata Pohon.
Beberapa hari yang lalu Farah memang meminta kami membantu dia mengerjakan tugas tentang kebudayaan. Dia harus membuat video tentang kebudayaan di Indonesia, kebetulan kami didapuk sebagai bintang dari video itu, ehm… artis FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra).
“Lalu mau siapa? Anggota kerajaan? Mereka kan lagi kuliah,” kataku mengingatkan.
“Ya kalau adanya mereka ga apa Kak, kita cari mba Unyu,” kata Pohon.
Mba Unyu adalah anak semester 7 yang bisa bersama kami. Sosok mba-mba yang juga sama pecicilannya dengan kami. Sosok yang dia banget dengan segudang stok senyum dan PeDe yang over sebetulnya, tapi kami suka dia.
“Lagi dibahas di grup,” kataku pada Pohon.
“Iyakah kak?” tanya Pohon yang keluar dari grup seminggu yang lalu tanpa alasan.
“Heeh, katanya ada yang ngikutin, tapi mereka ga sebut nama,” kataku memastikan.
Kami sampai di fakultas Pendidikan yang sudah mulai sepi, yang di luar kelas tinggal nampak anak-anak PAI E. Sosok mba Unyu yang kebetulan ikut kelas itupun tak nampak, kami tak mungkin menghampiri ke kelas itu, jadi kami putuskan duduk di pos satpam yang sepi.
“Nunggu disini saja ya Kak,” kata Pohon.
“Iya, grupnya benar-benar ramai, mereka terus-terusan bahas kejadian tadi siang,” kataku ke Pohon.
“Iya po? Ga usah takutkan dia sementara kok, sedang sosok yang mengikutiku? Dia ga bisa pergi,” kata Pohon yang memang diikuti dan tak mungkin lepas dari sosok mba-mba cantik kasat mata teman dekatnya.
“Katanya, sosok itu anak-anak,” kataku membaca sebuah postingan teman sekelas yang bisa berkomunikasi.
Lalu selanjutnya, dia memberi tahu nama sosok yang mengikutiku dan mengomando anak-anak sekelas untuk mengirimkan al fatehah nanti sehabis magrib. Lalu selanjutnya mereka membahas agar tidak berangkat terlalu pagi ke kampus, apa hubungannya? Aku kan ga pernah kepagian ke kampus. Kalau aku kepagian ke kampus yang dinyanyiin lagu “Bukti” – virgoun sama raja Negeri Dongeng bukan Pohon tapi aku. Nah ini yang selalu kepagian nongkrongin BQ 107 atau kalau ga samping toilet juga Pohon kenapa yang kena aku coba? Lalu pada selanjutnya katanya karena aku ngajak sosok tak kasat mata itu main. Aku ga pernah ngajak main loh ya, salah paham berarti dia.
Mulai dari sini, aku semakin menekuk mukaku. Tak berhenti terdiam terus membacakan komen-komen di grup kelas pada Pohon. sesekali mencari sosok Mba Unyu menenangkan perasaan. Tapi tetap saja gagal.
“Kak perasaanku ga enak, asli ini itu seperti perasaanku ketika aku mau ditinggal kakekku,” kata Pohon mengalihkan perhatianku. Aku tahu kali ini bukan karena kepanikanku yang semakin bertambah apalagi setelah banyaknya komentar di grup tentang kejadian tadi.
“Ga dia ga akan kenapa-kenapa, dia baik-baik saja,” kataku memastikan hatiku tenang dengan kondisi Farah yang terlihat semakin melemah.
“Tapi Kak lihat saja mukanya pucat,” kata Pohon menambahi.
“Sejujurnya aku juga takut kalau dia Cuma ingin video ini selesai, kalau dia ingin segera pergi, apalagi kalimat di pesan-pesannya seakan dia sudah lelah menghadapi hidup,” kataku mengingat pesan-pesan dalam bentuk syair yang dia kirimkan padaku.
Aku tak tahu kemana harus ku tuju pikirku. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan aku tak mungkin menghentikan pikirku tentang Farah. Mau tak mau aku khawati dengan kondisinya, mau tak mau pikirku juga menuju sosok yang mengikutiku. Bagaimana kalau ini video terakhir Farah? Bagaimana kalau setelah selesai dengan video ini dia pergi meninggalkan kami? Bagaimana kalau kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi? Lalu dilain sisi pikirku melayang pada sosok yang mengikutiku. Bagaimana kalau teman-temanku jadi takut? Bagaimana kalau dia tak mau lepas dariku? Bagaimana kalau ini tak akan berakhir?
Belum usai dengan semua pikiran burukku, mereka yang di grup terus membahas tentangku seakan aku tak ada. Bukan bahasa yang serius lebih dengan bahasa bercanda. Pikiranku semakin tak jelas, aku masih terus membacakan keramaian di grup nampak Pohon mengalihkan duniaku dia mencari berbagai bahasan walau sebetulnya pikirannyapun kalut tak tak jelas bingung dengan semua yang abu-abu yang mewarnai otaknya.
Mba iwak membuat story yang bahkan benar-benar  sulit aku lupakan. Katanya makanya jangan pecicilan, ah tidak ini adalah kata-kata yang menyakitkan. Ini yang membuat Rabu ku bulat dan Rabu ku marah. Lalu pada selanjutnya katanya dia sudah tanyakan tentang kejadian di BQ 102 kepada kakeknya itu memang betul ulah mahluk halus. Mereka terus membahas tentang kejadian mistis itu digrup tanpa peduli ada aku. Tanpa mau salah satu dari mereka mengechat pribadi dan bilang apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya pura-pura bodoh seakan aku tak tahu apapun yang terjadi.
Ku temukan Kak Ros berjalan menuju kelasnya, dia sedang menunggu dosen statistic.
“Kak Ros?” teriakku yang membuat dia menghampiri kami.
“Upin, Ipin,” katanya dengan senyumnya.
“Kak ada mab Unyu? Panggilin dong penting gitu,” kami menitipkan pesan berharap Mba Unyu memang di kelas.
Tak butuh waktu lama, Mba Unyu datang. Kami meminta nomer lalu janjian untuk ketemu besok Rabu. Mba Unyu pergi untuk mengikuti perkuliahan statistic, kami memutuskan pergi mencari ice cream, jujur otakku sudah panas ini benar-benar menyesakkan. Aku tak tahu kemana pikiranku harus difokuskan, ke dia sosok kasat mata yang begitu menarik dibicarakan anak-anak kelas di grup WA? Atau sosok teman bersyair yang pernah ku buat pinsan di perpustakaan?
Ohhhhh…. Teman-teman sekelasku yang ku hormati dan kusayangi setengah hati, tahukah kalian? Sosok orang yang biasanya bermain syair, ku kasih tahu tentang curhatan hidupku, sosok yang ku anggap adik saja pernah aku buat pinsan. Tolong jangan macam-macam dan buat hatiku tak jelas dan tak karuan, berhenti membicarakannya. Aku benar-benar tertekan, kenapa kalian seakan menyalahkanku? Kenapa? Aku salahkah?
To be continue…

Rabu, 20 Desember 2017

STORY OF MY WORD

SELASA, RABU
(Part 1)


"Coba jadi saya, coba bayangkan lalu rasakan ada diposisi saya. Dengan sejuta kekurangan dan ketidaktahuan bahkan dengan sejuta rasa yang tak mampu dijelaskan"
Hey mahluk Allah saya bukan pemberani....

Ini dimulai dari sebuah ketidaktahuan yang kualami. Aku yang tak paham dengan keadaan dan berpikir semua baik-baik saja tanpa salah. Selasa ini adalah awal semuanya, hari menakjubkan yang pernah ada dalam hidup, hari berkesan yang entah bahkan kalau harus kembali terulang aku rasa enggan dan memilih menghindar sejauh yang aku mampu.
Pagi yang cerah, seperti biasa dilalui dengan penuh lelah. Hanya ada setitik semangat kuliah untuk mengikuti sebuah seminar yang diadakan anak Teknik. Seminar pertama selama kuliah, seminar pertama yang sungguh berkesan namun bukan awal yang tak beralasan.
Tak seperti Selasa biasanya, Selasa ini ku tarik tangan pohon duduk jauh dari depan kelas. Kami terduduk untuk membahas sesuatu yang sebetulnya tak terlalu penting. Ku mengajak dia duduk di dua bangku rusak yang kosong, kali ini entah kenapa aku menghiraukan bangku panjang yang hanya berisi seorang mahasiswi semester 7 yang sedang sibuk dengan  hpnya. Setelah berbincang, Pohon mengajakku pergi, namun entah rasanya sungguh berat meninggalkan tempat itu, aku masih ingin terduduk di kursi itu lalu memandang jauh tanpa harus peduli siapa yang di depan sana, tanpa harus takut dikira modus atau caper atau apalah. Namun kelas segera dimulai tanpa dosen, karena pasti dosennya telat.
"Ayo Kak, kita ikut presentasi," ajak Pohon yang sudah meninggalkanku jauh.
Lalu dengan malas aku berlari menyusul langkahnya. Dari situ kaki kiriku mulai terasa sakit, sepertinya kakiku mengalami pembengkakan atau perpanjangan ukuruan hingga rasanya sepatu yang dari kemarin yang kekecilan bagian kanan jadi kekecilan bagian kiri, mungkin nantinya kulit kakiku akan lecet. Namun salah, kulitku tak lecet tapi tulang kakiku benar-benar pegal dan sakit, ini benar-benar menyusahkan langkahku membuat jalanku terseok-seok.
Sesampai dikelas yang mulai penuh dengan penghuni wajibnya yang hobby telat dan hobby deadline.
"Kakak kenapa?" tanya Pohon melihat cara jalanku yang mulai berubah.
"Sepatuku kekecilan," jawabku yang memang mengira sepatuku kekecilan.
Karena biasanya ukuran sepatuku bukan 37 tapi 38 atau 39. Dan seingatku sebelum selasa ini sepatu ini juga sudah menyiksaku tapi bukan pada kaki kiriku lebih kaki kananku yang berujung kulit terkeluapas. Tapi seingatku beberapa hari ini kaki kananku sudah tak protes dengan ukuran sepatuku, sepatuku yang terbuat dari kulit terasa melar jadi sudah nyaman, itu sebelum selasa.
Seperti biasa kami selalu punya topik diluar diskusi presentasi yang sedang dipaparkan, tersenyum bahagia seakan dunia hanya milik kami. Kelas itu punya kami, yang lain cuma numpang cari nilai. Kami cari hidup, kami cari bahagia, cari senyum, cari hipotesis, dan belajar karakter.
Selesai matakuliah pertama, kami putuskan lari dari kelas. Kami pergi meninggalkan teman-teman yang mencari kelas baru untuk matakuliah Statistik Pendidikan yang minta jam tambahan. Kami berdua memutuskan bolos kuliah untuk mengikuti sebuah seminar anak teknik yang judulnya sungguh menarik.
"Mba kelasnya di ruang 106?" kata seorang mahasiswi yang terkenal rajin, polos dan pintar.
"Iya," itu jawaban singkat sembari berlalu tanpa memperdulikan lagi akan dicari atau tidak. Akan diharapkan ada di kelas atau tidak. Setidaknya membuat kelas tenang tanpa kami itu penting.
Iya benar, tak ada yang mengabari kami kecuali seorang mahasiswa teman sekelas kami yang terkenal pendiam dan sedikit berbicara. Dia mengabari kami lewat WA dan meng-SMS kami.
Aku terduduk pada pinggir sebelah kiri gedung. Entah dengan motif apa aku menyisakkan satu kursi kosong disampingku.
"Emang ya, dimanapun selalu bayar dua kursi," kataku sembari meletakan tas gedong yang sudah mulai rusak diatas kursi itu.
Tak seberapa lama, aku mengambil tas itu dan menaruhnya dipangkuanku. Bukan kami kalau khusyuk mengikuti sebuah acara. Kami bercanda membuang bosan, menyusun rencana, berhipotesis bahkan memberikan kesan satu persatu kepada anak Teknik yang sedang dilantik jadi anggota Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP).
Entah perasaan apa yang menghantuiku, rasanya dari arah kiriku ada yang terus memperhatikanku. padahal tak ada siapapun, hanya jarak beberapa lantai yang dilalui anak-anak panitia acara untuk lewat sisanya tembok. Aku benar-benar terganggu dengan perhatian yang aku dapat dari sesuatu yang sebetulnya tak ada. Berulang aku coba mengalihkan padangan hingga akhirnya Pohon membuka mulutnya.
"Kak kayaknya ada yang duduk disamping Kakak," katanya berbisik pelan mengumpulkan keyakinan bahwa apa yang dilihatnya pada bangku kosong yang berada disebelahku nyata.
"Beneran? aku ga tahu, aku rasanya dari tadi ada yang perhatiin aku dari arah pintu sebelah kiriku persis, emang ada mahluk lain ya?" tanyaku penasaran dan mulai tak nyaman.
"Ga kak, aku tahunya kayak ada yang duduk disebelah kakak," kata pohon yang kupercayai.
Sebelum pohon membuka mulut, kursi sebelahku kuisi dengan kotak makanan ringan yang kudapat dari panitia. Entah niatku hanya menghormati dia, aku mengambil kotak itu dan menaruhnya di kursi yang ada didepan yang juga kosong.
Azan dzuhur berkumandang memecah ketenangan anak-anak Teknik menyimak seminar dan semangat pembicara yang begitu menyihit kami. Setelah dzuhur acara dilanjut dengan pelatihan penulisan Al Qur'an  oleh pembicar seminar.
"Dia masih duduk disebelahku?" tanyaku pada Pohon.
"Rasanyan si sudah ga ada kak," kata Pohon yang kali ini terlihat lebih yakin.
Kami putuskan untuk keluar dari aula tempat seminar dan pergi mencari makan siang lalu shalat dzuhur. Kami memilih warung makan murah langganan kami, warung makan dimana kami menemukan hipotesis baru. Warung makan dimana kami terkejut, syok dan tertawa geli bahkan melotot tak percaya.
Kami putuskan duduk ditempat favorit kami, memesan dua piring nasi plus lauknya. Terduduk membahas setelah sholat mau kemana, mau ikut kuliah atau pelatihan menulis Al Qur'an, atau bahkan nongkrongin wifi kencangnya perpustakaan. Dua piring makanan datang, entah sebetulnya tak terlalu lapar, mungkin karena efek ngelihat jam di hp yang sebetulnya kecepatan 15 menit atau mungkin karena ada dia. Piringku sangat cepat bersihnya, nasinya tak tersisa dengan waktu yang singkat.
"Kakak makannya cepat banget si?" tanya Pohon bingung dengan muka anehnya.
"Hah? Lapar," jawabku datar dengan pikiran kosong dan rasa tak enak seperti seakan mau meninggalkan Pohon dengan piring makanannya yang masih penuh.
"Kakak ga sholat subuh?"
"Sholat kok, kayaknya tadi lupa baca do'a pas mau makan deh," kataku coba mengingat.
"Pantes," komentar Pohon datar yang menimbulkan pertanyaan selanjutnya dalam otakku.
Setelah makan dan sholat, kami putuskan untuk ikut pelatihan menulis Al Qur'an. Kami terduduk dibelakang, mencoba cepat-cepatan menulis huruf indah Al Qur'an hingga dua anak teknik duduk dibelakang kami dan menawarkan diri kerja sama. Seperti biasa bukan aku yang dibantu pasti Pohon yang lebih berani, aku? stay cool berjuang menyelesaikan tugas yang diberikan panitia. Belum kami selesai lembar tugas itu sudah diminta, kami pasrah.
Melalui WA, teman-teman menginfokan sudah ada dosen di ruang 102. Kami putuskan kuliah, karena acara sudah selesai. Seperti biasa bukan kami kalau sepanjang jalan diam, dengan celoteh dan senyum yang wajib menghias kami terus berjalan menyusuri jalan menuju Fakultas pendidikan dari aula yang bersampingan dengan fakultas teknik.
"Ah ga usah masuk sudah telat ini," kataku enggan memasuki ruang kelas.
"Ayo kak," ajak Pohon.
"Masih ada kursi?" tanyaku lagi.
"Masih ada kok," jawab pohon memastikan.
Lalu kami masu ke kelas dengan menyita perhatian seluruh penghuni kelas yang memamerkan sejuta sorot mata yang berwarna. aku memutuskan duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu, entah mengapa kursi itu kosong. Lalu pohon memutuskan duduk di kursi belakang sendiri dekat dengan salah satu mahasiswi indigo teman sekelas kami.
Pintu kelas dibuka lebar, udara segar menyergap. Mereka yang lalu lalang terlihat begitu mudah. Hingga beberapa menit kemudian mahluk deadline masuk kelas sehabis sholat dzuhur, salah satu dari genk deadline menutup pintu tapi tak tertutup sempurna karena memang pintunya sudah rusak.
"Kok ditutup sie?" gerutuku dalam hati.
Tak butuh waktu lama, pintu buka, tutup, buka, tutup, buka, tutup sendiri. Kejadian ini menyita perhatian penghuni kelas, karena pintu buka tutup tanpa adanya angin.
"Ih ada apa ini?" tanya salah satu mahluk deadline yang juga duduk di dekap pintu.
"Hayoh ada apa?" tambah yang lain.
Aku terdiam, masih berfikir bahwa itu adalah angin. Aku mencari sosok Pohon yang sepertinya sedang mengamati dengan seksama seperti kejadian di Aula seminar tadi. Tak seberapa lama, setelah dia sukses menarik perhatian seluruh penghuni kelas maka dia berhenti. Namun tak perlu waktu lama, dia berulah lagi menyita perhatian kami. Penghuni kelas mulai ketakutan, kutatap kembali Pohon yang duduk dibelakang dengan masih muka yang sama. Lalu ku cari pohon dari jendela berharap itu memang karena angin, tapi nyatanya tak kutemukan angin. Dosen yang merasa perhatian mahasiswanya sudah beralih memutuskan menutup pintu itu, dan memang pintu itu berhenti.
"Hihh aku yang pertama kali lihat lagi," kata sesepuh mahluk deadline lirih.
"Ga apa-apa mba paling cuma angin," jawabku datar walau sesungguhnya aku benar-benar merasa ganjil.
Lalu dosen kembali ketampatnya dan menjelaskan materi.
"Itu tadi mahluk yang bahkan bulu paling halus yang kalau kita punya tak nampak, kalau punya dia sebesar kawat," kata Pak dosen belum melanjutkan materinya.
Banyak yang mulai gaduh antara ketakutan, ngejek atau apalah yang jelas kata-kata dan respon mereka tak seluruhnya mampu aku tangkap.
"Punyaku gede-gede kok mba," kataku menunjukan lengan tanganku yang memang berbulu lebat dan besar.
Tahu respon apa yagn aku dapat? dia tak menghiraukan. Aku terdiam seakan kalah, aku merasa sepi tak memiliki teman bicara. Aku bosan walau apa yang sedang kulihat adalah hal tabu yang seharunya terlihat amat sangat  menarik.
"Water melon, water melon," nyanyiku reflek setelah beberapa kali sebelumnya aku mencoba mencari perhatian dari sesepuh mahluk deadline tak ku dapatkan dan dia asyk ngobrol dengan teman sebelahnya yah panggil saja dia bu Nyai able.
"Ih mba nyuekin aku terus!" kataku kesal menyentuh lengan tangan sesepuh mahluk deadline dengan jari telunjukku dengan kesal dan pasang muka manyun.
"Mumpung materinya menarik," jawabnya dengan senyum ringan lalu kembali melihat kearah dosen.
Biasanya juga dia tidur, lalu minta diganggu. Aku benar-benar merasa kesepian dan bosan dengan meteri perkuliahan yang terlihat sudah dibahas belum lagi cerita pak dosen tentang murid blateran Belandanya yang ga pinter tapi di kelas hobby menghitung kata "mungki" yang beliau ucapkan. Sudah berapa kali beliau menceritakan cerita yang sama hingga ingatanku yang lemah saja bosan dan tahu alur lengkapnya.
Yah dikebosananku dia kembali berulah, pintu yang tertutup itu kembali dia mainkan. Benar kembali menyita perhatian seluruh penghuni kelas, memecah konsentari dan menarik seluruh penghuni kelas tak terkecuali aku yang sudah bosan tapi tak mengantuk. Kali ini kupastikan mampu menjangkau pandangan Pohon dan mendapat anggukan darinya.
"Pohon! dia ikut?" tanyaku pelan yang mendapat tatapan dari 3 anggota boy band.
Pohon mengangguk, karena ketua boy band menatap dengan begitu pensaran dan menyebalkannya aku putuskan mencari topik lain agar dia tak curiga.
"Udah dikonfirmasi sama mba-mbanya?" tanyaku dengan suara keras.
Dosen memutuskan membuka pintu itu lebar-lebar, dan nyatanya dia memutuskan berhenti memainkan pintu itu.
"Itu tadi angin," teriakku keras-keras setelah mendapat kepastian dari Pohon.
Yang diiyakan dan diumumkan ulang oleh Pak Dosen, tujuannya agar penghuni kelas berhenti membicarakn hal itu dan menyangka bahwa itu memang hanya angin bukan ulah dia yang halus.


To be continue...

Jumat, 08 Desember 2017

Lingkaran Fr

CUIH

Aku terjebak pada posisi dimana aku salah. Pada diam tanpa amarah ku menjejak. Ah lupakan aku juga punya kode etik tersendiri tak sama dengan mereka. Punya aturan sendiri, punya dalamnya hati sendiri dan bahkan takaran sakitnyapun sendiri.
Bedakan apa itu bercanda? dan apa itu serius? Cuih yang kayak gitu juga gue hargai receh. Remeh, karena asal loe tahu dia yagn kau cinta tak lebih berharga dari aku yang terhina.
Mungkin gue tak terlihat berguna, tapi yang harus kau pahami. Rasanya bakal percuma mempertahankan rasa pada sosok yagn tak sederhana dan menyusahkan nyatanya. sepersekian mungkin ruang lingkupnya luas tapi nyatanya? cuih jauh dari nyata.
Yan gsibuk itu tak berarti yang bermakna. Suatu detik nanti Allah akan tunjukan seberapa bermaknanay aku dalam baris kata. Dan pada akhirnya, dia yang kau cinta hanya akan jadi serpihan cuih tanpa cuih dan lenyap dalam cuih, cuih, dan cuih.
Akhirnya aku terluka dalam kata tersebab kau yang ujungnya menderita dalam rona. Maaf aku tak mendo'akan tapi itu akhirnya. Jika bukan itu, anggap Tuhan sedang baik padamu karena tak mendakdirkan apa yang aku sekenariokan.

STORY OF MY WORD

HARAP PADA KHAYAL

"Aku tak mungkin kamu. Kita tak mungkin sama. Dunia kita berbeda bukan pelengkap atau rangkaian kata yagn terbiasa. Hanya harap pada khayal pendingin kobar panasnya cuaca."

Pada cemara yang bergoyang. Pada deras rintik hujan yang menemani sore. Kutorehkan harap pada khayal yang rasanya enggan terwujud. Pada ukir andai yagn jauh dari nyata.
Jelaskan padaku tentang titik dan dentang apa yang harus aku analogikan jika pada akhirnya aku hanya akan terpuruk pada kecewa yang mengelupas dan menggores luka. Ah tidak aku hanya berharap. Membiarkan hatiku tergores dan terpuruk pada duka. Memberikan kesempatan pada kecewa tuk singgah. Membiarkan perih mendarat dan menggores.
Jika aku bisa temukan dia dengan tugasnya di tempat favoritku. Lantas mengapa tak bisa menemukanmu disini? Dimana kamu? mengorbit pada garis dan titik apa sebenarnya kamu?
Jika bahkan dia mampu sedikit membunuh gengsinya untuk duduk pada tahta dimana kita bertahta. Menikmati olahan khas yang murah meriah. Lalu mengapa tak sedikit kau meluangkan waktumu sebentar tuk terlihat dari sudut favoritku. Terlalu beratkah hingga kau tak mampu nampak?
Haruskah ku akhiri khayal pada harapku? sedang rasa hati dan fikiran ini masih tentangmu. Masih pada titikmu, mencari setiap sudut dan celah mengenaimu. Mendetail walau tanpa getar.
Ah aku takut terluka, takut kecewa, takukt dan takut. Hingga hatiku masih tertutup dengan harap akan ada kau yang terlihat dari titik sudut favoritku. Terduduk, terkonsen dan berlama-lama dengan aroma yang membuatku tenang, menguap hingga akhirnya terlelap.
Ayolah, berbulan-bulan yagn lalu di tahun yang sama aku bisa menemukanmu. lalu dengan suara samar-samar yang coba kutangkap. Akankah itu terulang?
Haruskah kau lihat aku disudut favoritku? Menunggumu, menanti kehadiranmu. Berharap rasa rajin yang kau tunjukan. Lalu kau tampilkan tatap mata yang kurindu. Lalu senyum tulus yang semerbak dan banyak hal yang kau tontonkan. Semua yagn aku rindu darimu, bahkan tutur kata lembut itu.
Aku tak berharap kau menghampirik. Aku hanya berkhayal kau akan duduk di kursi depanku yang selalu kosong. lalu kau mulai kata dengan "Hai?" atau kalau itu terlalu canggung untukmu maka mungkin kau boleh memulai kata dengna kalimat basa-basi "Kursi ini kosong?" atau apapun yang mampu kau rangkai.
Lalu pada selanjutnya kita saling diam. Terkonsen dengan buu masing-masing. Walau nyatanya kita berkecamuk dalam pikir dan perasaan yagn saling terelebat dengan mulut terbungkam. Oh menyesakan bukan?
Pada sepuluh menit berikutnya, kau beranikan diri memulai pembicaraan.
"Anak Tarbiyahkan?" katamu selembut kata-kata pertama yang kau ucapkan pada bedah buku itu awal kita bertemu.
Atau mungkin bukan sekedar kata-kata itu. Tapi sejuta jurus modusmu. Yang pengitn kita terhubung. Memulai percakapan, membagi keadaan sekarang. Lalu ciptakan kenagn dan pada akhirnya aku tersadar.
Ini hanya harap dan khayal. Ini hanya cerita tanpa realita. Jauh dari kata nyata hanya sekedar harap. Toh aku tak boleh berharap kursi di depanku akan terisi mahluk super sibuk dengan dunia lain sepertimu.
Biarlah kursi itu kosong. Biarlah kursi itu tak terisi, toh kursi itu akan bahagia walau tak ada kamu. Toh kursi itu akan tetap sama manfaat dan gunanya. Ada kamu hanya khayal dan harap bukan tuk jadi realita kehidupan nyata.

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...