SELASA, RABU
(Part 2)
Kuliah
dipercepat oleh dosen, entah karena materi yang memang sudah selesai atau
karena beliau sudah bosan atau mungkin karena sosok kehadiarannya yang
mengganggu. Sejujurnya aku tak peduli.
Setelah
dosen keluar, aku memutuskan keluar. Waktu masih menunjukan pukul 15.00 WIB
perpustakaan masih buka.
“Ayo Kak kelua,” Ajak Pohon.
Kami berdua keluar, dengan muka
penasaran ku kejar langkah kaki Pohon agar sejajar.
“Yang tadi itu bener? Dia ngikutin?”
tanyaku tanpa peduli anak kelas lain. Bahkan sosok cowok yang sering kami
bilang pengeran mimpi sedang terduduk di kursi panjang bersama temannya.
Pohon
tidak menjawab dia hanya melihat kearah sekelilingnya yang ramai lalu
melanjutkan perjalanan. Kami disapa anak-anak cewek kelas pengeran mimpi yang
diantaranya disitu ada Kak Ros dengan teman-temannya. Kami basa-basi sebentar
lalu mengenalkan gantungan boneka kecil ditas kami masing-masing. Di tasku
bernama Miachan sedangkan di tas Pohon bernama komeng. Lalu akhirnya kami pergi
menuju ke perpustakaan, namun dilorong lantai satu aku terus mencari jawabku
tentang tanya yang belum terjawab.
“Tadi beneran dia ngikutin?” tanyaku
lagi.
“Iya dia ngikutin kakak!” bentak pohon.
Entah reflek apa yang kualami, tak ingin
marah Pohon terlihat kalangan banyak atau apa namun yang kulakukan adalah
menarik tangan Pohon untuk masuk kearah kelas BQ 105 untuk meminta penjelasan
sedetail mungkin.
“Beneran?” tanyaku meminta penjelasan.
“Iya! Dan kenapa kakak ngajakin dia
main!” kata Pohon dengan nada tinggi.
“Aku ngga ngajakin dia main,” kataku
menjelaskan.
“Watermelon, watermelon segala,” kata
Pohon dengan muka marah yang rasanya baru pernah ditujukan padaku.
“Itu reflek,” iya itu reflek aku punya
alasan, aku benar-benar merasa bosan berada di kelas dan tak mendapat respon
dari orang yang berada disebelahku itu menyebalkan.
“Kalau mau ngajakin main mending sama
Pohon saja,” kata Pohon menanggapi responku.
Pohon keluar dari
kelas, aku mengikuti langkahnya. Entah pikiranku melayang, kenapa bisa dia
mengikutiku? Karena apa? Apa sepesialku? Pikiranku kacau hingga kami melihat
sosok Abang. Abang adalah teman sekelas kami yang seusia dengan Pohon.Sosok
cowok pintar rekan pohon memojokanku, rekan curhat yang lebih suka
menceramahiku.
“Abang,” panggil Pohon seakan tak ada
apapun yang terjadi.
Abang menoleh dengan
muka yang tak biasanya, mukanya benar-benar segar berbumbu senyum mengembang.
Muka kantuknya tadi di kelas benar-benar telah lenyap dan tak tersisa. Muka
yang aku pikir jikalaupun dia berangkat pagi dan berambut klimis bukan muka ini
yang dia punya. Atau mukanya sesegar itu dikarenakan mukaku yang kusut sebab ku
tekuk dengan pertanyaan yang mendadak memenuhi rongga-rongga otakku.
“Dia yang tadi di aula seminar?” tanyaku
pada Pohon sepanjang perjalanan menuju perpustakaan.
“Aku ga terlalu bisa melihat dan peka
merasakan tapi itu iya Kak,” kata Pohon.
Otakku semakin meringsek jauh dengan apa
yang ku pikirkan. Awalnya bukan takut yang ku dapat, aku terkesan tak peduli.
Terserah dia mau mengikutiku atau apalah, toh sesame mahluk hidup berhak hidup
di dunia ini.
Kami sampai di
perpustakaan, ku ambil modem yang ku jadikan eksternal memory semacam flasdish.
Lalu ku ambil tabletku kumatikan datanya ku ganti dengan wifi gratis
perpustakaan, kami memasuki perpustakaan. Seperti biasa Pohon dengan setumpuk
buku ditangannya dan sebuah smart phone baru. Aku memilih menyelesaikan
tugasku, aku tak mau terfokus dengan sosok yang mengikutiku. Aku tak mau
terlalu memperdulikan dia yang aku yakin tak akan menetap. Untuk sosok nyata
aja belum tentu betah apalagi dia sosok yang tak kasat mata, jangan betah ya.
Pohon terduduk di kursi
favoritku, karena kursi favoritnya telah penuh dengan segerombolan anak yang
terlihat sibuk sedang berdiskusi. Aku menemukan computer yang bisa ku gunakan
untuk mengerjakan tugas, harap maklum komputerku lagi sakit, dia kena virus.
Lalu ku mulai dari RPP yang beberapa minggu lalu aku download, lalu selanjutnya
lai ke silabus bagaimanapun juga buat RPP harus pakai silabus. Harap maklum,
aku belum secanggih teman-temanku, biarpun hasil copy paste harus tetap pakai
silabus.
Belum lama, baru
beberapa menit. Pohon datang dengan buku ditangannya. Ku lihat notifikasi Whats
up yang ramai oleh grup kelas. Terlihat mereka membahas tentang kasus tadi di
BQ 102. Aku belum bergeming tuk mencari tahu, ku putuskan keluar mengikuti
langkah kaki Pohon.
“Kita kemana?” tanyaku sembari membuka
grup Whats Up kelas yang ramai.
“Nyari orang ketiga, kalau Cuma berdua
kurang asyk kak,” kata Pohon.
Beberapa hari yang lalu
Farah memang meminta kami membantu dia mengerjakan tugas tentang kebudayaan.
Dia harus membuat video tentang kebudayaan di Indonesia, kebetulan kami didapuk
sebagai bintang dari video itu, ehm… artis FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra).
“Lalu mau siapa? Anggota kerajaan?
Mereka kan lagi kuliah,” kataku mengingatkan.
“Ya kalau adanya mereka ga apa Kak, kita
cari mba Unyu,” kata Pohon.
Mba Unyu adalah anak
semester 7 yang bisa bersama kami. Sosok mba-mba yang juga sama pecicilannya
dengan kami. Sosok yang dia banget dengan segudang stok senyum dan PeDe yang
over sebetulnya, tapi kami suka dia.
“Lagi dibahas di grup,” kataku pada
Pohon.
“Iyakah kak?” tanya Pohon yang keluar
dari grup seminggu yang lalu tanpa alasan.
“Heeh, katanya ada yang ngikutin, tapi
mereka ga sebut nama,” kataku memastikan.
Kami sampai di fakultas
Pendidikan yang sudah mulai sepi, yang di luar kelas tinggal nampak anak-anak
PAI E. Sosok mba Unyu yang kebetulan ikut kelas itupun tak nampak, kami tak
mungkin menghampiri ke kelas itu, jadi kami putuskan duduk di pos satpam yang
sepi.
“Nunggu disini saja ya Kak,” kata Pohon.
“Iya, grupnya benar-benar ramai, mereka
terus-terusan bahas kejadian tadi siang,” kataku ke Pohon.
“Iya po? Ga usah takutkan dia sementara
kok, sedang sosok yang mengikutiku? Dia ga bisa pergi,” kata Pohon yang memang
diikuti dan tak mungkin lepas dari sosok mba-mba cantik kasat mata teman
dekatnya.
“Katanya, sosok itu anak-anak,” kataku
membaca sebuah postingan teman sekelas yang bisa berkomunikasi.
Lalu selanjutnya, dia
memberi tahu nama sosok yang mengikutiku dan mengomando anak-anak sekelas untuk
mengirimkan al fatehah nanti sehabis magrib. Lalu selanjutnya mereka membahas
agar tidak berangkat terlalu pagi ke kampus, apa hubungannya? Aku kan ga pernah
kepagian ke kampus. Kalau aku kepagian ke kampus yang dinyanyiin lagu “Bukti”
– virgoun sama raja Negeri Dongeng bukan Pohon tapi aku. Nah ini yang
selalu kepagian nongkrongin BQ 107 atau kalau ga samping toilet juga Pohon
kenapa yang kena aku coba? Lalu pada selanjutnya katanya karena aku ngajak sosok
tak kasat mata itu main. Aku ga pernah ngajak main loh ya, salah paham berarti
dia.
Mulai dari sini, aku
semakin menekuk mukaku. Tak berhenti terdiam terus membacakan komen-komen di
grup kelas pada Pohon. sesekali mencari sosok Mba Unyu menenangkan perasaan.
Tapi tetap saja gagal.
“Kak perasaanku ga enak, asli ini itu
seperti perasaanku ketika aku mau ditinggal kakekku,” kata Pohon mengalihkan
perhatianku. Aku tahu kali ini bukan karena kepanikanku yang semakin bertambah
apalagi setelah banyaknya komentar di grup tentang kejadian tadi.
“Ga dia ga akan kenapa-kenapa, dia
baik-baik saja,” kataku memastikan hatiku tenang dengan kondisi Farah yang
terlihat semakin melemah.
“Tapi Kak lihat saja mukanya pucat,”
kata Pohon menambahi.
“Sejujurnya aku juga takut kalau dia
Cuma ingin video ini selesai, kalau dia ingin segera pergi, apalagi kalimat di
pesan-pesannya seakan dia sudah lelah menghadapi hidup,” kataku mengingat
pesan-pesan dalam bentuk syair yang dia kirimkan padaku.
Aku tak tahu kemana
harus ku tuju pikirku. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan aku tak
mungkin menghentikan pikirku tentang Farah. Mau tak mau aku khawati dengan
kondisinya, mau tak mau pikirku juga menuju sosok yang mengikutiku. Bagaimana
kalau ini video terakhir Farah? Bagaimana kalau setelah selesai dengan video
ini dia pergi meninggalkan kami? Bagaimana kalau kemungkinan terburuk itu
benar-benar terjadi? Lalu dilain sisi pikirku melayang pada sosok yang
mengikutiku. Bagaimana kalau teman-temanku jadi takut? Bagaimana kalau dia tak
mau lepas dariku? Bagaimana kalau ini tak akan berakhir?
Belum usai dengan semua
pikiran burukku, mereka yang di grup terus membahas tentangku seakan aku tak
ada. Bukan bahasa yang serius lebih dengan bahasa bercanda. Pikiranku semakin
tak jelas, aku masih terus membacakan keramaian di grup nampak Pohon
mengalihkan duniaku dia mencari berbagai bahasan walau sebetulnya pikirannyapun
kalut tak tak jelas bingung dengan semua yang abu-abu yang mewarnai otaknya.
Mba iwak membuat story
yang bahkan benar-benar sulit aku
lupakan. Katanya makanya jangan pecicilan, ah tidak ini adalah kata-kata yang
menyakitkan. Ini yang membuat Rabu ku bulat dan Rabu ku marah. Lalu pada
selanjutnya katanya dia sudah tanyakan tentang kejadian di BQ 102 kepada
kakeknya itu memang betul ulah mahluk halus. Mereka terus membahas tentang
kejadian mistis itu digrup tanpa peduli ada aku. Tanpa mau salah satu dari
mereka mengechat pribadi dan bilang apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya
pura-pura bodoh seakan aku tak tahu apapun yang terjadi.
Ku temukan Kak Ros
berjalan menuju kelasnya, dia sedang menunggu dosen statistic.
“Kak Ros?” teriakku yang membuat dia
menghampiri kami.
“Upin, Ipin,” katanya dengan senyumnya.
“Kak ada mab Unyu? Panggilin dong
penting gitu,” kami menitipkan pesan berharap Mba Unyu memang di kelas.
Tak butuh waktu lama,
Mba Unyu datang. Kami meminta nomer lalu janjian untuk ketemu besok Rabu. Mba
Unyu pergi untuk mengikuti perkuliahan statistic, kami memutuskan pergi mencari
ice cream, jujur otakku sudah panas ini benar-benar menyesakkan. Aku tak tahu
kemana pikiranku harus difokuskan, ke dia sosok kasat mata yang begitu menarik
dibicarakan anak-anak kelas di grup WA? Atau sosok teman bersyair yang pernah
ku buat pinsan di perpustakaan?
Ohhhhh…. Teman-teman
sekelasku yang ku hormati dan kusayangi setengah hati, tahukah kalian? Sosok
orang yang biasanya bermain syair, ku kasih tahu tentang curhatan hidupku,
sosok yang ku anggap adik saja pernah aku buat pinsan. Tolong jangan
macam-macam dan buat hatiku tak jelas dan tak karuan, berhenti membicarakannya.
Aku benar-benar tertekan, kenapa kalian seakan menyalahkanku? Kenapa? Aku
salahkah?
To be continue…