Rabu, 20 Desember 2017

STORY OF MY WORD

SELASA, RABU
(Part 1)


"Coba jadi saya, coba bayangkan lalu rasakan ada diposisi saya. Dengan sejuta kekurangan dan ketidaktahuan bahkan dengan sejuta rasa yang tak mampu dijelaskan"
Hey mahluk Allah saya bukan pemberani....

Ini dimulai dari sebuah ketidaktahuan yang kualami. Aku yang tak paham dengan keadaan dan berpikir semua baik-baik saja tanpa salah. Selasa ini adalah awal semuanya, hari menakjubkan yang pernah ada dalam hidup, hari berkesan yang entah bahkan kalau harus kembali terulang aku rasa enggan dan memilih menghindar sejauh yang aku mampu.
Pagi yang cerah, seperti biasa dilalui dengan penuh lelah. Hanya ada setitik semangat kuliah untuk mengikuti sebuah seminar yang diadakan anak Teknik. Seminar pertama selama kuliah, seminar pertama yang sungguh berkesan namun bukan awal yang tak beralasan.
Tak seperti Selasa biasanya, Selasa ini ku tarik tangan pohon duduk jauh dari depan kelas. Kami terduduk untuk membahas sesuatu yang sebetulnya tak terlalu penting. Ku mengajak dia duduk di dua bangku rusak yang kosong, kali ini entah kenapa aku menghiraukan bangku panjang yang hanya berisi seorang mahasiswi semester 7 yang sedang sibuk dengan  hpnya. Setelah berbincang, Pohon mengajakku pergi, namun entah rasanya sungguh berat meninggalkan tempat itu, aku masih ingin terduduk di kursi itu lalu memandang jauh tanpa harus peduli siapa yang di depan sana, tanpa harus takut dikira modus atau caper atau apalah. Namun kelas segera dimulai tanpa dosen, karena pasti dosennya telat.
"Ayo Kak, kita ikut presentasi," ajak Pohon yang sudah meninggalkanku jauh.
Lalu dengan malas aku berlari menyusul langkahnya. Dari situ kaki kiriku mulai terasa sakit, sepertinya kakiku mengalami pembengkakan atau perpanjangan ukuruan hingga rasanya sepatu yang dari kemarin yang kekecilan bagian kanan jadi kekecilan bagian kiri, mungkin nantinya kulit kakiku akan lecet. Namun salah, kulitku tak lecet tapi tulang kakiku benar-benar pegal dan sakit, ini benar-benar menyusahkan langkahku membuat jalanku terseok-seok.
Sesampai dikelas yang mulai penuh dengan penghuni wajibnya yang hobby telat dan hobby deadline.
"Kakak kenapa?" tanya Pohon melihat cara jalanku yang mulai berubah.
"Sepatuku kekecilan," jawabku yang memang mengira sepatuku kekecilan.
Karena biasanya ukuran sepatuku bukan 37 tapi 38 atau 39. Dan seingatku sebelum selasa ini sepatu ini juga sudah menyiksaku tapi bukan pada kaki kiriku lebih kaki kananku yang berujung kulit terkeluapas. Tapi seingatku beberapa hari ini kaki kananku sudah tak protes dengan ukuran sepatuku, sepatuku yang terbuat dari kulit terasa melar jadi sudah nyaman, itu sebelum selasa.
Seperti biasa kami selalu punya topik diluar diskusi presentasi yang sedang dipaparkan, tersenyum bahagia seakan dunia hanya milik kami. Kelas itu punya kami, yang lain cuma numpang cari nilai. Kami cari hidup, kami cari bahagia, cari senyum, cari hipotesis, dan belajar karakter.
Selesai matakuliah pertama, kami putuskan lari dari kelas. Kami pergi meninggalkan teman-teman yang mencari kelas baru untuk matakuliah Statistik Pendidikan yang minta jam tambahan. Kami berdua memutuskan bolos kuliah untuk mengikuti sebuah seminar anak teknik yang judulnya sungguh menarik.
"Mba kelasnya di ruang 106?" kata seorang mahasiswi yang terkenal rajin, polos dan pintar.
"Iya," itu jawaban singkat sembari berlalu tanpa memperdulikan lagi akan dicari atau tidak. Akan diharapkan ada di kelas atau tidak. Setidaknya membuat kelas tenang tanpa kami itu penting.
Iya benar, tak ada yang mengabari kami kecuali seorang mahasiswa teman sekelas kami yang terkenal pendiam dan sedikit berbicara. Dia mengabari kami lewat WA dan meng-SMS kami.
Aku terduduk pada pinggir sebelah kiri gedung. Entah dengan motif apa aku menyisakkan satu kursi kosong disampingku.
"Emang ya, dimanapun selalu bayar dua kursi," kataku sembari meletakan tas gedong yang sudah mulai rusak diatas kursi itu.
Tak seberapa lama, aku mengambil tas itu dan menaruhnya dipangkuanku. Bukan kami kalau khusyuk mengikuti sebuah acara. Kami bercanda membuang bosan, menyusun rencana, berhipotesis bahkan memberikan kesan satu persatu kepada anak Teknik yang sedang dilantik jadi anggota Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP).
Entah perasaan apa yang menghantuiku, rasanya dari arah kiriku ada yang terus memperhatikanku. padahal tak ada siapapun, hanya jarak beberapa lantai yang dilalui anak-anak panitia acara untuk lewat sisanya tembok. Aku benar-benar terganggu dengan perhatian yang aku dapat dari sesuatu yang sebetulnya tak ada. Berulang aku coba mengalihkan padangan hingga akhirnya Pohon membuka mulutnya.
"Kak kayaknya ada yang duduk disamping Kakak," katanya berbisik pelan mengumpulkan keyakinan bahwa apa yang dilihatnya pada bangku kosong yang berada disebelahku nyata.
"Beneran? aku ga tahu, aku rasanya dari tadi ada yang perhatiin aku dari arah pintu sebelah kiriku persis, emang ada mahluk lain ya?" tanyaku penasaran dan mulai tak nyaman.
"Ga kak, aku tahunya kayak ada yang duduk disebelah kakak," kata pohon yang kupercayai.
Sebelum pohon membuka mulut, kursi sebelahku kuisi dengan kotak makanan ringan yang kudapat dari panitia. Entah niatku hanya menghormati dia, aku mengambil kotak itu dan menaruhnya di kursi yang ada didepan yang juga kosong.
Azan dzuhur berkumandang memecah ketenangan anak-anak Teknik menyimak seminar dan semangat pembicara yang begitu menyihit kami. Setelah dzuhur acara dilanjut dengan pelatihan penulisan Al Qur'an  oleh pembicar seminar.
"Dia masih duduk disebelahku?" tanyaku pada Pohon.
"Rasanyan si sudah ga ada kak," kata Pohon yang kali ini terlihat lebih yakin.
Kami putuskan untuk keluar dari aula tempat seminar dan pergi mencari makan siang lalu shalat dzuhur. Kami memilih warung makan murah langganan kami, warung makan dimana kami menemukan hipotesis baru. Warung makan dimana kami terkejut, syok dan tertawa geli bahkan melotot tak percaya.
Kami putuskan duduk ditempat favorit kami, memesan dua piring nasi plus lauknya. Terduduk membahas setelah sholat mau kemana, mau ikut kuliah atau pelatihan menulis Al Qur'an, atau bahkan nongkrongin wifi kencangnya perpustakaan. Dua piring makanan datang, entah sebetulnya tak terlalu lapar, mungkin karena efek ngelihat jam di hp yang sebetulnya kecepatan 15 menit atau mungkin karena ada dia. Piringku sangat cepat bersihnya, nasinya tak tersisa dengan waktu yang singkat.
"Kakak makannya cepat banget si?" tanya Pohon bingung dengan muka anehnya.
"Hah? Lapar," jawabku datar dengan pikiran kosong dan rasa tak enak seperti seakan mau meninggalkan Pohon dengan piring makanannya yang masih penuh.
"Kakak ga sholat subuh?"
"Sholat kok, kayaknya tadi lupa baca do'a pas mau makan deh," kataku coba mengingat.
"Pantes," komentar Pohon datar yang menimbulkan pertanyaan selanjutnya dalam otakku.
Setelah makan dan sholat, kami putuskan untuk ikut pelatihan menulis Al Qur'an. Kami terduduk dibelakang, mencoba cepat-cepatan menulis huruf indah Al Qur'an hingga dua anak teknik duduk dibelakang kami dan menawarkan diri kerja sama. Seperti biasa bukan aku yang dibantu pasti Pohon yang lebih berani, aku? stay cool berjuang menyelesaikan tugas yang diberikan panitia. Belum kami selesai lembar tugas itu sudah diminta, kami pasrah.
Melalui WA, teman-teman menginfokan sudah ada dosen di ruang 102. Kami putuskan kuliah, karena acara sudah selesai. Seperti biasa bukan kami kalau sepanjang jalan diam, dengan celoteh dan senyum yang wajib menghias kami terus berjalan menyusuri jalan menuju Fakultas pendidikan dari aula yang bersampingan dengan fakultas teknik.
"Ah ga usah masuk sudah telat ini," kataku enggan memasuki ruang kelas.
"Ayo kak," ajak Pohon.
"Masih ada kursi?" tanyaku lagi.
"Masih ada kok," jawab pohon memastikan.
Lalu kami masu ke kelas dengan menyita perhatian seluruh penghuni kelas yang memamerkan sejuta sorot mata yang berwarna. aku memutuskan duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu, entah mengapa kursi itu kosong. Lalu pohon memutuskan duduk di kursi belakang sendiri dekat dengan salah satu mahasiswi indigo teman sekelas kami.
Pintu kelas dibuka lebar, udara segar menyergap. Mereka yang lalu lalang terlihat begitu mudah. Hingga beberapa menit kemudian mahluk deadline masuk kelas sehabis sholat dzuhur, salah satu dari genk deadline menutup pintu tapi tak tertutup sempurna karena memang pintunya sudah rusak.
"Kok ditutup sie?" gerutuku dalam hati.
Tak butuh waktu lama, pintu buka, tutup, buka, tutup, buka, tutup sendiri. Kejadian ini menyita perhatian penghuni kelas, karena pintu buka tutup tanpa adanya angin.
"Ih ada apa ini?" tanya salah satu mahluk deadline yang juga duduk di dekap pintu.
"Hayoh ada apa?" tambah yang lain.
Aku terdiam, masih berfikir bahwa itu adalah angin. Aku mencari sosok Pohon yang sepertinya sedang mengamati dengan seksama seperti kejadian di Aula seminar tadi. Tak seberapa lama, setelah dia sukses menarik perhatian seluruh penghuni kelas maka dia berhenti. Namun tak perlu waktu lama, dia berulah lagi menyita perhatian kami. Penghuni kelas mulai ketakutan, kutatap kembali Pohon yang duduk dibelakang dengan masih muka yang sama. Lalu ku cari pohon dari jendela berharap itu memang karena angin, tapi nyatanya tak kutemukan angin. Dosen yang merasa perhatian mahasiswanya sudah beralih memutuskan menutup pintu itu, dan memang pintu itu berhenti.
"Hihh aku yang pertama kali lihat lagi," kata sesepuh mahluk deadline lirih.
"Ga apa-apa mba paling cuma angin," jawabku datar walau sesungguhnya aku benar-benar merasa ganjil.
Lalu dosen kembali ketampatnya dan menjelaskan materi.
"Itu tadi mahluk yang bahkan bulu paling halus yang kalau kita punya tak nampak, kalau punya dia sebesar kawat," kata Pak dosen belum melanjutkan materinya.
Banyak yang mulai gaduh antara ketakutan, ngejek atau apalah yang jelas kata-kata dan respon mereka tak seluruhnya mampu aku tangkap.
"Punyaku gede-gede kok mba," kataku menunjukan lengan tanganku yang memang berbulu lebat dan besar.
Tahu respon apa yagn aku dapat? dia tak menghiraukan. Aku terdiam seakan kalah, aku merasa sepi tak memiliki teman bicara. Aku bosan walau apa yang sedang kulihat adalah hal tabu yang seharunya terlihat amat sangat  menarik.
"Water melon, water melon," nyanyiku reflek setelah beberapa kali sebelumnya aku mencoba mencari perhatian dari sesepuh mahluk deadline tak ku dapatkan dan dia asyk ngobrol dengan teman sebelahnya yah panggil saja dia bu Nyai able.
"Ih mba nyuekin aku terus!" kataku kesal menyentuh lengan tangan sesepuh mahluk deadline dengan jari telunjukku dengan kesal dan pasang muka manyun.
"Mumpung materinya menarik," jawabnya dengan senyum ringan lalu kembali melihat kearah dosen.
Biasanya juga dia tidur, lalu minta diganggu. Aku benar-benar merasa kesepian dan bosan dengan meteri perkuliahan yang terlihat sudah dibahas belum lagi cerita pak dosen tentang murid blateran Belandanya yang ga pinter tapi di kelas hobby menghitung kata "mungki" yang beliau ucapkan. Sudah berapa kali beliau menceritakan cerita yang sama hingga ingatanku yang lemah saja bosan dan tahu alur lengkapnya.
Yah dikebosananku dia kembali berulah, pintu yang tertutup itu kembali dia mainkan. Benar kembali menyita perhatian seluruh penghuni kelas, memecah konsentari dan menarik seluruh penghuni kelas tak terkecuali aku yang sudah bosan tapi tak mengantuk. Kali ini kupastikan mampu menjangkau pandangan Pohon dan mendapat anggukan darinya.
"Pohon! dia ikut?" tanyaku pelan yang mendapat tatapan dari 3 anggota boy band.
Pohon mengangguk, karena ketua boy band menatap dengan begitu pensaran dan menyebalkannya aku putuskan mencari topik lain agar dia tak curiga.
"Udah dikonfirmasi sama mba-mbanya?" tanyaku dengan suara keras.
Dosen memutuskan membuka pintu itu lebar-lebar, dan nyatanya dia memutuskan berhenti memainkan pintu itu.
"Itu tadi angin," teriakku keras-keras setelah mendapat kepastian dari Pohon.
Yang diiyakan dan diumumkan ulang oleh Pak Dosen, tujuannya agar penghuni kelas berhenti membicarakn hal itu dan menyangka bahwa itu memang hanya angin bukan ulah dia yang halus.


To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...