Rabu, 29 April 2020

STORY MY WORD

TANGGAL DAN BULAN INI DI SATU TAHUN YANG LALU


“Allah menempatku di tempat yang berbeda dari tempat yang lainnya. Kenapa? Karena Allah ingin membuatku melihat semesta dari arah lain. Membuatku merasakan rasa lain yang sebagian besar dari mereka rasakan pada sudut yang kecil. Allah mau, agar aku memperhitungkan dan membuat sebagian bintang yang tak terlihat merasa diakui dan dihargai keberadaannya”

     Aku adalah rangkaian kata yang tak tersusun dengan sempurna. Banyak salah ketik. Banyak salah makna. Bahkan banyak salah penempatan kata. Ambigu lebih tepatnya.
     Aku adalah jalan cerita yang sunyi tanpa suara. Bagaimana tidak, aku terdiam dibungkam keadaan. Seolah aku tak pernah ada. Tak pernah terlihat nyata di alur cerita.
     Tanggal dan bulan ini disatu tahun yang lalu. Sebuah hari bersejarah yang aku tunggu. Satu langkah menuju usai. Satu perjuangan yang begitu mendebarkan. Bayaran atas berbagai macam bimbingan.
      Sore hari, sebungkus kado datang. Dua gambar terpampang disana. Sejujurnya, aku tak butuh barang, apa pun itu wujudnya. Aku butuh orang yang mengirimkan itu datang di hari bersejarah tanggal dan bulan ini di satu tahun yang lalu.
      Aku ingin dia datang. Menemani sunyinya jalan cerita hidupku. Membawaku lari dari hiruk pikuk perayaan yang tak aku rasakan.
     Tak apa, aku tahu sibuknya dia. Ada banyak hal yang lebih penting yang harus dia urusi. Aku bisa sendiri, aku bisa mengatasi sepi dan sunyi sendiri.
     Aku kuat menghadapi nyata, pikirku. Ada harap beberapa semesta akan menyempatkan waktunya untuk ada. Jikalau pun tidak ada, aku tidak sendiri. Ada satu orang yang juga akan merasakan debaran yang sama. Yang akan melangkah bersama sedari pagi buta.
     Pagi...
     Pagi dunia...
     Tanggal dan bulan ini di satu tahun yang lalu, akhirnya pola pikirku nyata. Larikan kata yang aku susun dianggap ANEH. Jawabanku juga terkesan nyeleneh. Nilai pas-pasan. Kecewa? Sedikit. Ada hal yang lebih menyakitkan yang membuatku menangis sejadi-jadinya didetik itu juga.
     Dia yang diharap datang hanya datang dalam rupa barang? Yah andai saja ada dia mungkin tangis dan sepi itu bukan milikku. Mungkin aku tak akan sekecewa ini. Mungkin rasa kecewa itu tak akan pernah ada.
      Aku menemukan sesosok mahluk ciptaan Allah yang terlihat tulus tetarik padaku. Sebelum itu, aku tak pernah diajak makan oleh cowok sampai seperti itunya. Ah, lebih tepatnya tak pernah ada cowok yang terrlihat tertarik menunjukan dengan tindakan bukan sekedar rangkaian kata.
     Tapi, aku mementingkan satu sosok yang dari tadi bersamaku. Ah tidak intens bersamaku, tapi tadi ketempat itu bersamaku. Aku bertanggungjawab seutuhnya, seharunya tidak karena dia sudah besar dan tidak akan hilang di kampusnya sendiri.
     Aku menolak ajakan dia. Khawatir kalau ada orang lain yang akan tersiksa setelahnya.
     Setelahnya, aku belum sendiri. Sampai akhirnya aku sendiri. Sepi tanpa perayaan. Sunyi tanpa sambutan.
     Dia yang sedari tadi aku khawatirkan kemana? Menyambut perayaanya, menyambut sambutan-sambutannya.
     Yang lain bagaimana? Yah yang lain juga riuh dengan sambutan-sambutannya. Riuh, dengan pesta-pestanya.
     Iya, aku tida mengabari mereka. Tapi, tak apa. Yang aku kira teman. Aku kira sahabat. Aku kira memperhitungkanku. Ternyata, tidak. Sama sekali tidak.
     Beberapa yang aku kira TEMAN lebih dari sekedar KENAL. Ternyata, hanya sebatas kenal. Tak apa aku tak membawa banyak hal.
     Satu orang yang sukses membuatku menangis dengan sangat keras suatu hari. Tanggal di bulan ini pada satu tahun yang lalu, kembali membuatku menangis dipelukkannya. Dia datang, dengan 1 yang lainnya. Tapi dia yang paling spesial. Dia sukses membuatku menangis, mengeluarkan sesaknya dadaku.
      Sesaknya menerima kenyataan kalau disemesta aku hanyalah kunang-kunang yang kehilangan habitat. Kunang-kunang yang hanya didatangi bintang yang redup.
       Dan kenyataan tentang pola pikirku memang tak baik-baik saja. Aku sudah lama menerima itu.
      Sampai hari ini, mengingat hal itu. Hatiku masih sesak. Dari banyaknya hal, tidak memprioritaskan siapa pun adalah pilihanku. Toh aku kunang-kunang yang kehilangan habitat. Apabila sinar bintang mulai meredup, aku adalah pilihan tempat bertegur sapa.
      Baiklah, moment bersejarah yang mengangkan ini memang tidak baik-baik saja. Dari gelombang 1 saat aku tak dianggap (karena ada bintang yang lebih bersinar). Gelombang 3 saat aku kembali dikecewakan harapan oleh dia yang pernah aku harapkan ada di moment bersejarahku. Hingga akhirnya aku memilih untuk absen disemua moment gelombang-gelombang selanjutnya. Hingga aku tak mau berharap lagi apapun kepada siapapun. Dan menempatkan diriku sesuai tempatnya. Kunang-kunang yang kehilangan tempat habitatnya, ditegur sapa oleh bintang yang mulai redup sinarnya dan kembali asing setelah mereka mendapatkan sinarnya.
       Allah, dari sudut ini. Dari sini, pemandangan begitu indah. Aku bisa melihat begitu banyak bintang yang bersinar dan tak bersinar. Bahkan,  dari sudut ini, aku bisa menjadi tempat lari bintang yang redup sinarnya. Dan ketika dia mendapatkan sinar itu kembali. Sunyi kembali memelukku dengan iramanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...