KUNANG-KUNANG
“Bukan seberapa banyak kita menerima, tapi seberapa banyak kita memberi. Yang bergerak aktif bukan berdiam diri. Aku kira? Dan ternyata tak sama.”
Aku kira, aku bintang. Tak cemerlang diantara bintang lainnya. Tapi ternyata aku salah. Aku hanyalah kunang-kunang.
Iya aku hanyalah kunang-kunang. Berbekal cahaya seadanya. Berbekal kebaikan Sang Maha. Terbang tak tentu arah. Dan memilih kegelapan.
Belum usai dengan kenyataan yang seberapa besar cahaya yang aku punya. Habitatku mulai hilang berkurang. Bahkan sudah jarang ditemui.
Kawananku juga sudah tak ada. Mereka sudah menjelma menjadi bintang. Bintang redup atau bahkan bintang yang sangat bersinar sekalipun.
Mereka meninggalkkan langkahku yang pelan dan terkesan tak mau beranjak. Jelas bukan salah mereka ketika mereka berhasil menjelma menjadi bintang dan meninggalkan kunang-kunang yang cahanya tak seberapa.
Mereka hanya meninggalkan tidak melupakan. Nyatanya, ketika bintang redup dan mulai tersesakkan dengan jalannya cerita, mereka menyapaku lagi.
Saat itu terjadi, responku masih panjang. Aku bahagia. Hingga aku kembali tersadar mereka meninggalkanku kembali.
Berulang yang selalu terulang. Aku bodoh? Aku terlalu naif? Atau apa?
Tak apa...
Dari sini, dari sudut pandang kunang-kunang memandang semesta. Aku bahagia walau kecewa. Aku tak berjuang keras, lantas apa aku pantas jadi bintang.
Aku tak berani kecewa, walau akhirnya tetap kecewa. Aku berusaha memosisikan, kalau aku diposisi mereka. Maka berjuang aku urungkan. Maka bersikap membiarkan adalah kesalahan. Maka tak menerima mereka dengan dua tangan terbuka tak mengenakan.
Aku tahu rasanya terasingkan. Terkecualikan dari galaksi. Sebelah mata di sistem tata surya. Karena aku tak bersinar dan aku bukan prioritas.
Aku berbeda dari kebanyakan bintang-bintang disemesta. Tak memiliki cahaya.
Di 5 kali kujumpai tahun kabisat. Aku masih sendiri, apa itu kunang-kunang, lampu pijar, dan bintang-bintang pelengkap dan cerminan atau riuh gaduh tangis dan tawa turunan. Aku masih belum memiliki itu. Bahkan sampai dipertengahan tahun ini, tak ada tanda-tanda apapun.
Aku punya Sang Maha, yang sami’, rahman, rahim. Tempat mengadu, memohon, menta maaf, dan tempat ternyaman memamerkan kumpulan bulir bening yang lebih suka menciptakan air terjun.
Sang Maha, pemilik sekenario kehidupan. Punya rencana luar biasa. Makanya aku ada dititik ini sekarang. Dia sudah menyiapkan pelengkap dan cerminan yang luar biasa hebatnya, seseorang yang tidak sekedar kaya harta. Tapi, kaya ilmu dunia dan akherat, kaya hati, kaya akhlakul karimah, yang sepantaran dan sepinteran, yang akan membuat sinar kunang-kunang lebih terang dan lebih indah. Yang membuat habitat baru kunang-kunang dengan ketrentaman dan kenyamanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar