TUGASKU
Tugasku
hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di
mata orang lain, aku bisa apa?
Aku
bukan Tuhan yang Rahman dan Rahim. Yang Pemaaf walau terus dikecewakan. Aku cuma
mahluk yang diciptakan dengan hati yang lemah dan mampu tergores.
Seringnya
Allah di datangi cuma saat mahluk ciptaan-Nya butuh. Lalu ditinggal begitu
saja. Saat mahluk ciptaan-Nya susah, lalu setelah bahagia pergi. Atau saat
semakin susah menyalahkan lalu pergi.
Lalu,
mengapa aku diberadakan pada posisi itu? Padahal, batas kesabaranku berbeda. Dan
dipandang sebelah mata. Karena aku pantas? Atau ada alasan lain yang lebih
logis?
Iya,
seorang introvert yang luar biasa cuek dengan keadaan dan bawel dengan tulisan dichat
mungkin terkesan lebih menyebalkan dari pada menyenangkan. Tapi apa pantas
diperlakukan seperti itu?
Jika
dijadikan ada tanpa perlu dibutuhkan tidak harus berdasarkan previllage
cantik dan kaya. Tapi nampaknya tidak ada. Mereka yang terlihat diada-adakan
adalah mereka yang memiliki dua hal itu.
Tugasku
sekarang adalah tetap melayani dan menjadikan mereka ratu saat datang. Berbaik hati
mengorbankan sedikit waktu dan tenaga. Karena hanya itu bisaku. Aku tak bisa
berkorban lain.
Bagaimana
pun dalam takdir ini tugasku hanya berbuat baik. Sebaik mungkin dalam bersikap,
walau itu hanya berwujud usaha, hasilnya aku tak peduli.
Lalu
perkara peduli. Aku juga terabaikan. Mungkin dikarenakan caraku yang salah. Aku
tak suka caranya, aku tak suka prosedurnya, dan ternyata karena ada niat
dibaliknya. Ada jalan lain kenapa harus dengan jalan yang jadi perbincangan.
Tapi
baiklah, dengan ini aku ucapkan. Terserah, apa yang mau terealisasikan. Aku lepas
tangan. Memilih hengkang dari jalanan cerita hidup. Aku pergi dari cerita. Tak mau
memilih mengalah.
Bagaimanapun
aku punya masalah. Aku sudah selalu berusaha untuk ada. Dan ketika aku
berkubang dalam masalah aku rasa aku hanya punya Allah. Walau kadang tak kuat
dan akhirnya mengeluh kepada orang juga. Tapi sebetulnya yang ada cuma Allah
Sekarang,
aku berusaha menyibukkan diri dan mencari orang yang mengisahkan kisahnya. Disana
aku besyukur. Aku tidak sendirian. Masalahku tak seberat masalah yang lain atau
bukanhanya aku yang punya masalah. Yang lain juga.
Selanjutnya,
tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan
salah di mata orang lain, aku bisa apa? Mungkin melanjutkan berbuat baik lagi
dan lagi tanpa henti. Bukan agar aku jadi orang baik tapi agar aku selalu
berusah menjadi orang baik.
