Kamis, 31 Mei 2018

STORY MY WORD

TAK KENAL SEHARUSNYA TAK NYESEK


Aku melihatmu pertama kali saat memasuki sebuah ruangan yang selalu aku suka aromanya. Sebuah ruangan yang selalu aku suka setiap sudutnya. Sebuah ruangan dengan ketenangan yang hakiki. Dan sebuah ruangan yang selalu aku kunjungi kala hatiku sepi atau bahkan terlalu ramai dengan hingar bingar keadaan yang memaksaku pergi.
Aku tak tahu namamu, aku tak tahu semua tentangmu. Tapi, tunggulah hitungan detik, aku akan mengenalmu dengan detail pada setiap titik.
Kau yang? yang aku lihat dengan langkah tegap penuh percaya. Memasuki ruangan hampaku, menyita perhatian singkatku, rasanya tidak singkat tapi panjangku. Menyita secerca konsentrasiku untuk melihat arah langkah kaki mana yang kau tuju. Yah kau menuju larikan rak buku yang terpasang rapi dan bau debu. Lalu kau duduki sebuah kursi favorit yang selalu aku tuju setiap kesini. Sudut dimana aku pernah menunggu seseorang untuk datang dan dia datang. Dan sudut dimana aku menunggu seseorang untuk datang dan berbagi tentang hatinya tapi tak juga pernah datang.
Lalu kau terduduk dengan dua buah buku yang kau ambil di rak buku tadi. Konsentrasiku tertuju padamu, semua tentangmu. Bahkan, arah mataku tak ingin berhenti darimu. ah, kamu siapa dirimu. Pun dirimu memiliki konsentrasi tersendiri, indah sungguh indah dan memukau batinku.
Hingga akhirnya kau datang lagi masih dengan caramu menyita perhatianku. Indah tapi tak seharusnya kau juga mengenai rongga hati juga karena tak kenal seharusnya tak nyesek. Kau boleh saja hadir dan menyita pandangku tapi seharusnya kau tak menyerang sesak dadaku. Kan jadi nyesek, tapi kita ngga kenal itu ga adil.

Rabu, 30 Mei 2018

STORY MY WORD


DUGA ITU BERNILAI BENAR


Aku tersenyum sendiri di bawah langit mendung Wonosobo. Udara pagi ini terasa hangat dan sejuk walau nyatanya langit mendung menemani langkah lemahku. Antara enggan mengerjakan tugas dan enggan latihan diakhir pekan mengelola dan menyudutkan pikirku. Tapi, tugas mendeadlineku, aku tak mungkin berhenti dan terdiam membiarkan mereka berlalu tanpa penyelesaian pasti dariku.
Sudahlah, kemarin sudah terjadi. Isak tangisku sudah pecah dibuat dongkol oleh teman kelompokku. Karena usaha sampai tengah malamku sia-sia tiada arti rasanya. Ditambah rencana pinjam orang, tolong dimana sisi hebat kalian? Mandirilah sedikit teman. Jangan bergantung dengan orang lain!
Dari kisah ini membawaku meminta maaf kebanyak orang yang dikenal. Mereka syok bukan kepalang ketika tiba-tiba aku minta maaf. Mereka menyangkaku akan segera meninggalkan dunia ini (biasanya tanda-tanda orang meninggal mendadak giru si ya). Padahal tidak, aku hanya terlalu lelah dengan keadaan. Aku kecewa pada teman kelompokku yang membuat aku merasa tak dihargai. Dan aku rindu pada kakak lelakiku mas Salafan yang bahkan terlahir dalam keadaan tak bernyawa (aku selalu salut dengan ibuku untuk hal ini, mengandung selama 9 bulan namun melahirkan bayi tanpa nyawa). Aku juga merasa lukaku kali ini pasti juga ada sebabnya. Ini karena aku menyakiti banyak orang yang menyebabkan aku juga tersakiti.
Yah aku minta maaf dengan orang-orang yang dekat denganku. Orang-orang yang sering aku susahin, kedua orang tuaku, keluarga kecil mbaku dan teman-teman masa SMKku.
Diantara barisan itu ada dia teman SMKku, ah tidak dia lebih suka dipanggil musuhku. Mahluk Allah yang sampi detik ini masih aku bilang kalau dia saklek. Membenarkan pahamnya tanpa toleransi paham orang lain. Dari dia Cuma pinter ilmu dunia sampa dia pintar ilmu akherat/agama aku tetap tidak suka caranya mendebat orang lain. Memasakkan kehendak dan banyak hal yang tak kupahami.
Yah akhirnya kami chat. Kami membahas tentang nikah. Dan hingga ujungnya kami membahas cerita tahun 2010 dimana awal kami saling mengenal dan diorbitkan pada satu tata surya.
Dari jaman 2010 sampai sekarang aku juga tahu dia memendam rasa untukku. Dia pengin banget tuh aku datang bukber, Cuma pengin ketemu aku. Dan dia akhirnya bisa move on ga tahu di tahun kapan.
Yang jelas, dia jujur ditahun 2018 tepatnya 11 Ramadhan 1439 H. Pikir saja selama 8 tahun dia menyembunyikan rasanya. Kalau seorang cewek, aku rasa itu wajar. Kalau ditanya kenapa aku? Jawabannya karena aku jutek. Jawaban macam apa itu?
Dia memang ngeselin, tapi sukses buat aku bahagia kok. Denger dia sedang ta’arufan dan bakal nikah di tahun ini. Aku? Girang bukan main. Dan setelah itu senyum-senyum sendiri karena duga selama 8 tahunku bernilai benar. Jadi apa yang aku tahu dan sekedar aku duga itu benar. Dari dulu dia memendam rasa lebih dari sekedar teman.
Percakapannya dengan salah satu teman kami, aku tak salah dengar memang membicarakanku. Perkataan temanku selepas olahraga itu memang benar. Pujiannya didepan kelas didepan teman-teman ROHISnya itu emang nyata. Dan dia ingin ikut ekstra PMR itu karena ada aku? Itu juga mesti benar. Tapi kalau mau ikut ROHIS gara-gara aku semoga ini Cuma dugaku. Dan jangan sampai dia “Say no to pacaran before akad” juga gara-gara aku. Luruskan niatnya ya Allah.
Aku suka dia jujur diwaktu yang tepat. Disaat dia menemukan bidadari dunia dan akheratnya yang itu bukan aku. Karena jika masih aku titik yakinnya?  Maka ceritanya akan lain, aku akan bermuram durja dan berjuang menghindarinya mati-matian. Terlebih hatiku disinggahi dia yang jarak tata suryanya lebih dekat denganku.
“Hai kau yang menyinggahi hatiku tanpa permisi, seharusnya kau sadar diri. Kau harusnya pergi dari hatiku, kau seharusnya tak berdiri disitu jika kau tak berjuang dan memilih berdiam, karena YAKINKU adalah aku YAKINMU”
Jadi? Kau mau seperti dia? Jujur dikala moment yang tepat, mungkin saat aku telah memiliki yakin yang lain. Atau kau tunggu kita berbeda galaxy. Aku tak berharap mengulangi kisah yang sama. Karena harus kau tahu, aku memang tak memiliki rasa lebih untuk dia. Sedangkan, untukmu aku berharap banyak. Jadi, jika yakinku benar, tolong berjuanglah, tolong berkatalah dan bertindaklah. Aku tak mungkin terus-menerus mempermainkan diriku dalam duga dan menunggu bertahun-tahun.
Untuknya:
Sakinah, Mawadah, Waramah dan Barokah
Terimakasih telah mengajarkan ku tentang sebuah arti melepaskan dan arti diam…
Aku suka sekenarioku dengannya……..

Selasa, 15 Mei 2018

SALAH TAFSIR

ALLAH, HALALKAH RASA INI?


Bagaimana bisa cinta kembali menjatuhkanku atas namamu? Bagaimana bisa aku kembali menggenang dalam bayang tentangmu lagi? Bagaimana bisa duniaku selalu tentangmu? Hingga lelah diubah menjadi resah.
Allah, Halalkah rasa ini?
Bagaimana bisa sesak membayang cerita pada sekenario sederhana. Ketika resah teralalu berkuasa pada rasa. Hingga berat melangkah dengan sejuta kecewa. Aku lelah, aku resah. Ingin rasanya memberontak pada keadaan. Lalu mengorasikan rasa, hanya saja aku takut kecewa pada harap yang bahkan tak seumpama.
Aku tak mungkin menjelaskan padamu rasaku. Aku tak mungkin menunjukan padamu resahku. Aku tak berhak untuk semua tindak dan laku atas terdasar kamu. Untuk semua ego yang membuat aku lari dari kenyataan. Aku akan berhenti menyalahkanmu, walau nyatanya pikirku masih terus pada titikmu. Aku akan lebih maju beberapa langkah darimu. Aku akan berjuang semampuku.
Kau? tak seharusnya menyeberang pada jurang beda ini. Kau seharusnya tetap bertengker pada galaxymu. Biarkan kita terpisah ribuan juta tahun cahaya. Toh, itu lebih baik. Mungkin resahku tak akan kembali tentangmu. Dan kau tak perlu aku salahkan ketika aku lari dari duniaku.
Allah, Halalkah rasa ini?
Tak seharusnya kau membuatku begitu tersiksa dengan berjuta kenyataan yang membuatku takut dijatuhkan cinta atas namamu. Seharusnya kau hanya sosokmu, sosok yang memiliki sejuta lebih tanpa embel-embel banyak hal. Seharusnya, kau tetap kau yang sederhana tanpa semua yang kau miliki sekarang.
Allah, Halalkah rasa ini?
Jika nyatanya aku terus-menerus terluka dan meresah. Terkadang aku ingin menyalahkan keadaan bahkan takdir. Tapi, aku paham semua ilusi ku sendiri. Terkadang aku ingin menyalahkanmu, tapi nyatanya aku tak mampu. Aku tak mungkin menyalahkan orang yang tak bersalah. Orang yang hanya mengukir cerita sesuai dengan jalan cerita yang dipilih.
Jangan bergerak, diamlah pada tempatmu. Nyatanya, aku sendiri tak mampu bergerak untuk muju atau bahkan mundur. Menikmati setiap sekenario yang terjadi masih pilihan terbaik untukku. Walau, sejuta lelah menyelimuti batinku.
Ingin ku teriakan semua lelahku. Tapi aku sadar, itu tidaklah berguna, percuma! Aku hanya akan menghancurkan keadaaan dan membuat semua kenyataan semakin rumit. Aku hanya perlu berdiam, mencelotehkan rasaku dalam celoteh panjangku dan dalam rangkaian kalimat tanpa makna. Aku hanya perlu mendoakan semesta tak mendukung aku dan kamu menjadi kita. Aku hanya perlu menjadi penonton dan orang serba tahu atas kisah yang kau ukir dengan banyak bidadari surga.
Aku tak berhak atas rasa ini. Jadi, halalkan aku merasakan hal ini.  sementara, hal ini terlalu menyita waktuku, menyita lelah bahkan resahku. lalau, membuyar konsentrasiku.
Jadi, halalkah rasa ini untukku?

Kamis, 03 Mei 2018

STORY MY WORD

NING KAYLA


Siang bolong, kalau ning Kayla libur itu artinya yah diganggu putri ibu yang umurnya sekitar 9 tahun Desember tahun lalu. Jangan tanya diganggunya seperti apa, tidur pasti akan terusik. Yah dengan ajakan maina atau diganggu ditempat tidur.
Siang ini dia menggangguku dengan cara mengusiku, melempar bunga-bunga yang dia dapati di depan ndaleme  Ibuk. Aku sudah mulai terbiasa bangun tidur siang dengan keadaan seperti kuburan baru penuh dengan bunga.
"Keyla!" teriaku tahu siapa yang menaruh bunga.
Dia pasang muka lugunya dengan cengengesan di samping dipan susun.
"Oh ngedoain yah? kalau mba dulu yang mati nanti mba bakal datangin Keyla jadi hantu," kataku menakut-nakutinya.
Untuk beberapa kesempatan kami sepakat untuk berpindah kealam lain dalam waktu bersamaan. Alasannya, agar kita tidak saling menakuti ketika jadi hantu. Kesepakatan dengan anak-anak yang selalu sukses membuat aku tersenyum.
Siang ini dia begitu usil, membawa double tip sisa micro teaching diliburan semester lalu. Aku tahu double tip itu akan dia mainkan, pulang mungkin dalam wujud habis. Aku harus ikhlas karena ujungnya pasti akan sama seperti cotton bud yang tak tersisa dan tak diketahui ujungnya dimana. Pikiranku sudah negatif dulu memang dengan dia. Namun, ujungnya aku ikhlaskan lebih baik aku diam diladeni? tidur siangku hilang.
Dia sedang lumayang bertanggungjawab kali ini. Dia serahkan uang dua ribu rupiah sebagai pengganti harga double tip yang mau dia mainkan. Aku tak tahu berniat apa anak ini. Dia anak yang kreatif dan usil dengan ulahnya. Jangan tanya dia selalu punya banyak hal yang tak dapat aku jelaskan. terkadang...
"Keyla jelek, tapi jelekan mba," aku melongo mendegar pernyataannya.
"Mba cantik, tapi aku lebih cantik," yang ini tak kalah bikin melongo.
Anak kecil macam apa dia? anak kecil yang memiliki kecerdasan musik, anak kecil yang lebih menggunakan otak kanan dibandingkan otak kirinya.
Lalu setelah siang itu, dia menghilang dalam hitungan ribuan detik akhirnya muncul kembali. Disore hari yang biasa suasana kota ini tak terlalu cerah. Dia muncul dan mendekatiku.
"Mba nanti naik? sholat berjamaah?" tanyanya sederhana.
"Ga," kataku bohong.
Tolong, jangan tiru ini.
"Serius mba?" tanyanya sedikit kesal dan kecewa.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Ada deh," katanya.
Hingga magrib tiba, peraturan ditempat kami memang diwajibkan berjamaah dikala magrib, isya dan subuh. Aku naiki tangga lantai dua ndaleme ibuk. Ada yang beda pada aula tempat kami berjamaah, ada hiasan dari kertas kreb. Dan terlihat Keyla sedang menangis.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia terus melanjutkan rengekannya.
"Subhanallah," teriakku kagum melihat dekorasi aula yang berbeda.
Aula didekorasi dengan penuh semarak dan sederhana tapi ngena.
"Ini Keyla yang buat?" tanyaku setelah mengelar sajadah dibagian paling belakang shaf.
Dia menangis dan memindahkan sajadahku disebelahnya.
"Key!" teriakku keras tak ingin berada persis dibelakang imam shalat.
Mengalahlah dari pada dia semakin menjadi air matanya.
Lalu setelah selesai sholat dia menunjukan sebuah gambar yang terdiiri dari dua mata, hidung dan sebuah senyum yang dia sematkan dengan kertas krab. Sebuah gambar yang besar, dan jika itu diibarakan sebuah wajah itu wajah yang luas seperti wajahku.
"Itu gambarnya mba," katanya yang kebetulan terdengar sampai shaf belakangku membuat kami tersenyum dan bahkan tertawa.
"Kok mba sendirian?" kataku melihat gambar itu sendirian dan rasanya tak enak pada teman-temanku.
"Ga kok mba, mba ga sendirian kan ada Allah ada bintang-bintang juga," katanya menunjukan tulisan Allah yang dia buat dari kertas krab.
Iya benar kata Ning Keyla aku tak pernah sendirian aku punya Allah. Hampir saja air mataku menetes. Aku yang sedang merasa sendirian dan tepuruk tersebab keadaan yagn seakan tak membelaku. Aku bangkit dari kata sederhananya. Dia benar, gadis kecil yang usilnya minta ampun ini benar, aku tak sendirian aku punya Allah dan Allah selalu bersamaku. Aku peluk dia, yah seperti biasa dia akan melepaskan itu, kalau ga aku juga digigit.
Terimakasih Ning Keyla, saat sedih aku akan selalu ingat, bahwasanya aku tidak sendirian....

Rabu, 02 Mei 2018

STORY MY WORD

1965 DD


Jalan panjang apa yang sedang aku lalui, seakan keadaan enggan berpihak padaku. Seakan kau masuki galaxyku, seakan kau mengedar pada galaxyku. Nyatanya? iya bukan kau memang memasuki galaxyku. Entah dengan tujuan atau alasan apa yang sedikitpun tak kupahami. Andai kau tahu, aku ingin berhenti namun kau selalu melintasi galaxyku. Aku ingin mundur, tapi aku selalu gagal. Aku ingin maju tapi aku tak mampu. Aku tak mampu melukai planet-planet pada galaxymu dan galaxyku. Aku tak mungkin menjadi tersangka,karena harus kau tahu aku tahu rasanya jadi korban.
Ayo jelaskan padaku? duduklah bersamaku, akan aku dengarkan semua keluh kesah dalam hidupmu. Agar aku tahu dan paham semua yang terlintas pada benakmu. Agar aku tahu rasaku dan rasamu tak sama dan tak untuk disamakan.
Hari itu, hari yang tak pernah aku duga akan ada. Aku kira cukup galaxyku yang kau jelajahi. kenyataannya sekenario kita juga mendekatkan jarak yang ada bukan? aku tak berani menyebarang pada 2.000.000 tahun cahaya. Tapi, kau ada pada galaxyku. Itu dirimu bukan? sosok nyatamu bukan?
Dan ketika keadaan membuat kita pada satu tempat yang sama dalam kurun waktu berjuta detik yang kita punya. Pada 172800 detik lebih kesempatan untuk membagi cerita yang kita punya, aku hanya menuggu moment dan seakan kaupun sama.
Berapa moment yang kita dapat? jangan tanya jika apa yang kita lakukan sama. Jika, kau melakukan hal yang sama denganku maka apa yang kita dapatkan adalah suatu hal yang sama. Jangan tanyakan apa yang aku tunggu, bukankah kita menunggu hal yang sama?
Aku lelah! berhentilah! diamlah! pergilah!
Aku tak mungkin terus mengedar pada garis edar dimana pada orbit itu ada dirimu. Jika aku mampu aku memilih berhenti dan pergi dari cerita. Tapi nyatanya kau bukan yang memilih untuk ada pada galaxy itu? jelaskan! kumohon jelaskan padaku, jelaskan dengan rangkaian kata, berhentilah untuk memamerkan tatap yang kau punya. Aku tak pernah paham dengan tatap mata yang selalu kau pamerkan, seakan ada aku pada dua bola mata bulatmu. Tapi, nyatanya tidak bukan?
Pagi itu....
Embun memamerkan semerbaknya, semangat juang liburan dan wisata hati itu memuncak disetiap benak. Aku? dengan cara sedehanaku, menatap dan menyiapkan 2,5 hari 2 malam dengan sederhana dan seadanya. Aku tak perlu mencari yang tak aku butuhkan, nyatanya aku masih punya banyak hal yang mampu melengkapi 2,5 hari 2 malamku tak perlu ku paksa ada jika nyatanya tak ada.
Semua semangant dengan persiapan maksimal mereka, aku menjadi penonton terbaik dari baiknya penonton. Membawa semua yang aku butuhkan bukan aku inginkan. Rasanya tak perlu ku paksa ada pada ketiadaan yang tak kupunya.
Kita terpisah ruang, tapi keadaan membuat kita bersama bukan? kau pada galaxymu dimana ada aku dengan sekenario yang begitu menjebakku. Lihatlah ada aku pada cerita perjalananmu, karena keadaan memaksa kita tuk terdiam dalam ribuan detik bersama.
Aku tahu, pagi ini belum ada dirimu. Kau masih dengan gugusan-gugusan planet lain yang sejenis denganmu. Ku orbitkan diamku pada bulan disatelitmu. Sosoknya yang menyambut pagiku, dengan tawa ramah yang dia tawarkan tak lupa sederhana yang dia punya tanpa paksaan.
Aku tak tahu bagaimana selanjutnya jalani detik demi detik dimana dititik orbit ini ada dirimu. Aku terdiam, jangan salah aku terdiam bukan karena ada dirimu. Tapi sungguh ketika aku terduduk pada perjalanan panjang aku lebih memilih diam pada garis edarku, aku lebih memilih menawarkan bayang dan berjuta khayal pada otak dan imajinasiku.
Aku tahu kau ada pada titik edarmu, terduduk dengan? dengan apa? aku tak paham. Aku tak tahu sejatinya sosokmu bukan? Ah aku tak peduli kau duduk disebelah mana yang penting bukan dibelakangku persis.Yah syukurlah batasan dalam agama kita membuat aku terselamatkan dari berbagai cerita.
Detik demi detik itu berlalu dengan begitu dan seperti itu harusnya. Tak ada sapa diantara kita, karena nyatanya kau terdiam pada titikmu, begitu juga denganku terdiam pada titikku. Aku masih berharap jikalaupun galaxy kita sama, aku masih bisa membedakan kau dalam dimensi yang berbeda. Jangan tanya kenapa? Kau enggan mempertanyakan banyak hal padaku, kau lebih suka menunggu keadaan akan berpihak padamu, walau nyatanya tidak bukan?
Hingga moment itu datang...
"Hushhhh... Hushhh... Hushhhh..."
(Aslinya panggil namaku)
Aku menengok kebelakang walau rasanya enggan.
"Apa?" tanyanku dengan nada yang selalu ku tawarkan padamu.
Karena aku lupa jadi ramah, entah tapi rasanya biarlah kau hidup dengan kesan awal itu hingga ukir cerita tentang kita berakhir dengan sempurna. Dimana kau dengan cerita kehidupanmu dan aku dengan cerita kehidupanku.
"Waras?" tanyanya dengan tatap mata dan seuntai (semoga seuntai bahagia yang kau rasa).
"Ini tanya kabar atau tanya kondisi jiwa?" tanyaku merendahkan nada suaraku yang sekarang seakan berfikir dan lebih lembut.
"Dua-duanya," jawabmu dengan tatap yang masih sama.
Kalau boleh aku menawar, percakapan singkat itu boleh ada tapi alangkah baiknya bukan hal itu yang kau tanyakan atau bukan sekedar itu yang kau tanyakan. Bukan alasan agar lebih lama, tapi aku rasa kau tahu kabarku baik-baik saja.
"Kalau fisik, yahhh baiklah, tapi kalau kejiwaan? ayo cek ke Rsj yang terdekat saja," kataku dengan mantap namun sedikit memberikan pertimbangan dengan nada seaakan bingung.
Dan? hanya tawa yang kau pamerkan. Aku meminta persetujuan atau aku akhiri obrolan ini. Yah, nyatanya merangkai kata denganmu memang takan panjang dan berlangsung lama. Entah aku terkalahkan keadaan atau aku yang memang tak kau harapkan.
Entahlah....
Selanjutnya, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kita berbatas pada galaxy yang kita orbiti, aku tak berhak memilih atau bahkan menyebrang. Aku kira sapamu yang pertama dan terakhir. Dan nyatanya, kau masih memiliki kesempatan. Kau masih mempunyai tempat untuk menyapaku, dan luar biasanya dilingkungan seramai itu??? Luar biasa. Tapi sayangnya itu galaxyku bukan pada galaxymu. Aku tetap tak memperhitungkan nilai juangmu. Itu bukan cara berjuang bukan?
Lalu pada pagi propinsi lain berteman segelas indomilk, kau ada pada garis edar itu. Tapi tetap aku terselamatkan dengan benteng-benteng yang ada pada galaxy ini bukan? aku terselamatkan dari banyak hal yang tak seharusnya.
Dan pada moment yang paling aku tunggu, kau ada. Tapi keberanianku menciut saat aku ingat mengenai banyak hati pada planet-planet yang mengedar pada galaxyku dan galaxymu. Aku tak mungkin memberanikan diri melukai banyak planet pada galaxy itu. Aku tak mungkin menyeberang dan berjuang untuk hal yang sebetulnya bukan aku. Bukan karena aku takut kecewa, bukan karena aku takut terluka. Bukannya terluka dan kecewa tersebabmu aku sudah biasa? jadi mengapa aku taku. Aku hanya bertugas menjaga hati mereka, selebihnya aku tak pernah diijinkan menjadi tersangka. Kalau aku saja bisa terluka, apalagi mereka? mereka juga punya hati yang sama-sama bisa terluka. Jangan tanyakan hati dan rasaku aku sudah lelah menduga setiap gerakmu.
Dan dari perjalanan itu, wahai cowok caper yang ku kenal sederhana diawal. Kau memang sederhana, aku percaya itu. Kau yang terlihat biasa saja dengan ilmu agama yang sejujurnya tinggi. Dan kau yang ketiak aku melihat kearahmu? aku merasa malu, seakan aku bercermin. Dan pada 172800 detik yang tak aku pahami sedikitpun, aku berterimakasih pada sekenario yang membuatmu ada dalam cerita walau selanjutnya aku lelah bertubi-tubi dijatuhkan cinta atas namamu.
Aku ingin berhenti!
Aku ingin mundur!
Aku tak tahu jalan panjang apa yang sedang aku lalui, semua tentangmu masih membuatku merasa lelah. Jika aku tak terijin untuk mundur, berhenti dan pergi jadi tolong kau sajalah yang melakukan itu.

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...