DUGA ITU BERNILAI BENAR
Aku tersenyum sendiri
di bawah langit mendung Wonosobo. Udara pagi ini terasa hangat dan sejuk walau
nyatanya langit mendung menemani langkah lemahku. Antara enggan mengerjakan
tugas dan enggan latihan diakhir pekan mengelola dan menyudutkan pikirku. Tapi,
tugas mendeadlineku, aku tak mungkin berhenti dan terdiam membiarkan mereka
berlalu tanpa penyelesaian pasti dariku.
Sudahlah, kemarin sudah
terjadi. Isak tangisku sudah pecah dibuat dongkol oleh teman kelompokku. Karena
usaha sampai tengah malamku sia-sia tiada arti rasanya. Ditambah rencana pinjam
orang, tolong dimana sisi hebat kalian? Mandirilah sedikit teman. Jangan
bergantung dengan orang lain!
Dari kisah ini
membawaku meminta maaf kebanyak orang yang dikenal. Mereka syok bukan kepalang
ketika tiba-tiba aku minta maaf. Mereka menyangkaku akan segera meninggalkan
dunia ini (biasanya tanda-tanda orang meninggal mendadak giru si ya). Padahal
tidak, aku hanya terlalu lelah dengan keadaan. Aku kecewa pada teman kelompokku
yang membuat aku merasa tak dihargai. Dan aku rindu pada kakak lelakiku mas
Salafan yang bahkan terlahir dalam keadaan tak bernyawa (aku selalu salut
dengan ibuku untuk hal ini, mengandung selama 9 bulan namun melahirkan bayi
tanpa nyawa). Aku juga merasa lukaku kali ini pasti juga ada sebabnya. Ini
karena aku menyakiti banyak orang yang menyebabkan aku juga tersakiti.
Yah aku minta maaf
dengan orang-orang yang dekat denganku. Orang-orang yang sering aku susahin,
kedua orang tuaku, keluarga kecil mbaku dan teman-teman masa SMKku.
Diantara barisan itu ada dia teman
SMKku, ah tidak dia lebih suka dipanggil musuhku. Mahluk Allah yang sampi detik
ini masih aku bilang kalau dia saklek. Membenarkan pahamnya tanpa toleransi
paham orang lain. Dari dia Cuma pinter ilmu dunia sampa dia pintar ilmu
akherat/agama aku tetap tidak suka caranya mendebat orang lain. Memasakkan
kehendak dan banyak hal yang tak kupahami.
Yah akhirnya kami chat.
Kami membahas tentang nikah. Dan hingga ujungnya kami membahas cerita tahun
2010 dimana awal kami saling mengenal dan diorbitkan pada satu tata surya.
Dari jaman 2010 sampai
sekarang aku juga tahu dia memendam rasa untukku. Dia pengin banget tuh aku
datang bukber, Cuma pengin ketemu aku. Dan dia akhirnya bisa move on ga tahu di
tahun kapan.
Yang jelas, dia jujur ditahun 2018
tepatnya 11 Ramadhan 1439 H. Pikir saja selama 8 tahun dia menyembunyikan
rasanya. Kalau seorang cewek, aku rasa itu wajar. Kalau ditanya kenapa aku?
Jawabannya karena aku jutek. Jawaban macam apa itu?
Dia memang ngeselin, tapi
sukses buat aku bahagia kok. Denger dia sedang ta’arufan dan bakal nikah di
tahun ini. Aku? Girang bukan main. Dan setelah itu senyum-senyum sendiri karena
duga selama 8 tahunku bernilai benar. Jadi apa yang aku tahu dan sekedar aku
duga itu benar. Dari dulu dia memendam rasa lebih dari sekedar teman.
Percakapannya dengan
salah satu teman kami, aku tak salah dengar memang membicarakanku. Perkataan
temanku selepas olahraga itu memang benar. Pujiannya didepan kelas didepan
teman-teman ROHISnya itu emang nyata. Dan dia ingin ikut ekstra PMR itu karena
ada aku? Itu juga mesti benar. Tapi kalau mau ikut ROHIS gara-gara aku semoga
ini Cuma dugaku. Dan jangan sampai dia “Say no to pacaran before akad” juga
gara-gara aku. Luruskan niatnya ya Allah.
Aku suka dia jujur
diwaktu yang tepat. Disaat dia menemukan bidadari dunia dan akheratnya yang itu
bukan aku. Karena jika masih aku titik yakinnya? Maka ceritanya akan lain, aku akan bermuram
durja dan berjuang menghindarinya mati-matian. Terlebih hatiku disinggahi dia
yang jarak tata suryanya lebih dekat denganku.
“Hai kau yang menyinggahi hatiku tanpa
permisi, seharusnya kau sadar diri. Kau harusnya pergi dari hatiku, kau
seharusnya tak berdiri disitu jika kau tak berjuang dan memilih berdiam, karena
YAKINKU adalah aku YAKINMU”
Jadi? Kau mau seperti
dia? Jujur dikala moment yang tepat, mungkin saat aku telah memiliki yakin yang
lain. Atau kau tunggu kita berbeda galaxy. Aku tak berharap mengulangi kisah
yang sama. Karena harus kau tahu, aku memang tak memiliki rasa lebih untuk dia.
Sedangkan, untukmu aku berharap banyak. Jadi, jika yakinku benar, tolong
berjuanglah, tolong berkatalah dan bertindaklah. Aku tak mungkin terus-menerus
mempermainkan diriku dalam duga dan menunggu bertahun-tahun.
Untuknya:
Sakinah, Mawadah, Waramah dan Barokah
Terimakasih telah mengajarkan ku tentang
sebuah arti melepaskan dan arti diam…
Aku suka sekenarioku dengannya……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar