Rabu, 30 Mei 2018

STORY MY WORD


DUGA ITU BERNILAI BENAR


Aku tersenyum sendiri di bawah langit mendung Wonosobo. Udara pagi ini terasa hangat dan sejuk walau nyatanya langit mendung menemani langkah lemahku. Antara enggan mengerjakan tugas dan enggan latihan diakhir pekan mengelola dan menyudutkan pikirku. Tapi, tugas mendeadlineku, aku tak mungkin berhenti dan terdiam membiarkan mereka berlalu tanpa penyelesaian pasti dariku.
Sudahlah, kemarin sudah terjadi. Isak tangisku sudah pecah dibuat dongkol oleh teman kelompokku. Karena usaha sampai tengah malamku sia-sia tiada arti rasanya. Ditambah rencana pinjam orang, tolong dimana sisi hebat kalian? Mandirilah sedikit teman. Jangan bergantung dengan orang lain!
Dari kisah ini membawaku meminta maaf kebanyak orang yang dikenal. Mereka syok bukan kepalang ketika tiba-tiba aku minta maaf. Mereka menyangkaku akan segera meninggalkan dunia ini (biasanya tanda-tanda orang meninggal mendadak giru si ya). Padahal tidak, aku hanya terlalu lelah dengan keadaan. Aku kecewa pada teman kelompokku yang membuat aku merasa tak dihargai. Dan aku rindu pada kakak lelakiku mas Salafan yang bahkan terlahir dalam keadaan tak bernyawa (aku selalu salut dengan ibuku untuk hal ini, mengandung selama 9 bulan namun melahirkan bayi tanpa nyawa). Aku juga merasa lukaku kali ini pasti juga ada sebabnya. Ini karena aku menyakiti banyak orang yang menyebabkan aku juga tersakiti.
Yah aku minta maaf dengan orang-orang yang dekat denganku. Orang-orang yang sering aku susahin, kedua orang tuaku, keluarga kecil mbaku dan teman-teman masa SMKku.
Diantara barisan itu ada dia teman SMKku, ah tidak dia lebih suka dipanggil musuhku. Mahluk Allah yang sampi detik ini masih aku bilang kalau dia saklek. Membenarkan pahamnya tanpa toleransi paham orang lain. Dari dia Cuma pinter ilmu dunia sampa dia pintar ilmu akherat/agama aku tetap tidak suka caranya mendebat orang lain. Memasakkan kehendak dan banyak hal yang tak kupahami.
Yah akhirnya kami chat. Kami membahas tentang nikah. Dan hingga ujungnya kami membahas cerita tahun 2010 dimana awal kami saling mengenal dan diorbitkan pada satu tata surya.
Dari jaman 2010 sampai sekarang aku juga tahu dia memendam rasa untukku. Dia pengin banget tuh aku datang bukber, Cuma pengin ketemu aku. Dan dia akhirnya bisa move on ga tahu di tahun kapan.
Yang jelas, dia jujur ditahun 2018 tepatnya 11 Ramadhan 1439 H. Pikir saja selama 8 tahun dia menyembunyikan rasanya. Kalau seorang cewek, aku rasa itu wajar. Kalau ditanya kenapa aku? Jawabannya karena aku jutek. Jawaban macam apa itu?
Dia memang ngeselin, tapi sukses buat aku bahagia kok. Denger dia sedang ta’arufan dan bakal nikah di tahun ini. Aku? Girang bukan main. Dan setelah itu senyum-senyum sendiri karena duga selama 8 tahunku bernilai benar. Jadi apa yang aku tahu dan sekedar aku duga itu benar. Dari dulu dia memendam rasa lebih dari sekedar teman.
Percakapannya dengan salah satu teman kami, aku tak salah dengar memang membicarakanku. Perkataan temanku selepas olahraga itu memang benar. Pujiannya didepan kelas didepan teman-teman ROHISnya itu emang nyata. Dan dia ingin ikut ekstra PMR itu karena ada aku? Itu juga mesti benar. Tapi kalau mau ikut ROHIS gara-gara aku semoga ini Cuma dugaku. Dan jangan sampai dia “Say no to pacaran before akad” juga gara-gara aku. Luruskan niatnya ya Allah.
Aku suka dia jujur diwaktu yang tepat. Disaat dia menemukan bidadari dunia dan akheratnya yang itu bukan aku. Karena jika masih aku titik yakinnya?  Maka ceritanya akan lain, aku akan bermuram durja dan berjuang menghindarinya mati-matian. Terlebih hatiku disinggahi dia yang jarak tata suryanya lebih dekat denganku.
“Hai kau yang menyinggahi hatiku tanpa permisi, seharusnya kau sadar diri. Kau harusnya pergi dari hatiku, kau seharusnya tak berdiri disitu jika kau tak berjuang dan memilih berdiam, karena YAKINKU adalah aku YAKINMU”
Jadi? Kau mau seperti dia? Jujur dikala moment yang tepat, mungkin saat aku telah memiliki yakin yang lain. Atau kau tunggu kita berbeda galaxy. Aku tak berharap mengulangi kisah yang sama. Karena harus kau tahu, aku memang tak memiliki rasa lebih untuk dia. Sedangkan, untukmu aku berharap banyak. Jadi, jika yakinku benar, tolong berjuanglah, tolong berkatalah dan bertindaklah. Aku tak mungkin terus-menerus mempermainkan diriku dalam duga dan menunggu bertahun-tahun.
Untuknya:
Sakinah, Mawadah, Waramah dan Barokah
Terimakasih telah mengajarkan ku tentang sebuah arti melepaskan dan arti diam…
Aku suka sekenarioku dengannya……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...