Selasa, 15 Mei 2018

SALAH TAFSIR

ALLAH, HALALKAH RASA INI?


Bagaimana bisa cinta kembali menjatuhkanku atas namamu? Bagaimana bisa aku kembali menggenang dalam bayang tentangmu lagi? Bagaimana bisa duniaku selalu tentangmu? Hingga lelah diubah menjadi resah.
Allah, Halalkah rasa ini?
Bagaimana bisa sesak membayang cerita pada sekenario sederhana. Ketika resah teralalu berkuasa pada rasa. Hingga berat melangkah dengan sejuta kecewa. Aku lelah, aku resah. Ingin rasanya memberontak pada keadaan. Lalu mengorasikan rasa, hanya saja aku takut kecewa pada harap yang bahkan tak seumpama.
Aku tak mungkin menjelaskan padamu rasaku. Aku tak mungkin menunjukan padamu resahku. Aku tak berhak untuk semua tindak dan laku atas terdasar kamu. Untuk semua ego yang membuat aku lari dari kenyataan. Aku akan berhenti menyalahkanmu, walau nyatanya pikirku masih terus pada titikmu. Aku akan lebih maju beberapa langkah darimu. Aku akan berjuang semampuku.
Kau? tak seharusnya menyeberang pada jurang beda ini. Kau seharusnya tetap bertengker pada galaxymu. Biarkan kita terpisah ribuan juta tahun cahaya. Toh, itu lebih baik. Mungkin resahku tak akan kembali tentangmu. Dan kau tak perlu aku salahkan ketika aku lari dari duniaku.
Allah, Halalkah rasa ini?
Tak seharusnya kau membuatku begitu tersiksa dengan berjuta kenyataan yang membuatku takut dijatuhkan cinta atas namamu. Seharusnya kau hanya sosokmu, sosok yang memiliki sejuta lebih tanpa embel-embel banyak hal. Seharusnya, kau tetap kau yang sederhana tanpa semua yang kau miliki sekarang.
Allah, Halalkah rasa ini?
Jika nyatanya aku terus-menerus terluka dan meresah. Terkadang aku ingin menyalahkan keadaan bahkan takdir. Tapi, aku paham semua ilusi ku sendiri. Terkadang aku ingin menyalahkanmu, tapi nyatanya aku tak mampu. Aku tak mungkin menyalahkan orang yang tak bersalah. Orang yang hanya mengukir cerita sesuai dengan jalan cerita yang dipilih.
Jangan bergerak, diamlah pada tempatmu. Nyatanya, aku sendiri tak mampu bergerak untuk muju atau bahkan mundur. Menikmati setiap sekenario yang terjadi masih pilihan terbaik untukku. Walau, sejuta lelah menyelimuti batinku.
Ingin ku teriakan semua lelahku. Tapi aku sadar, itu tidaklah berguna, percuma! Aku hanya akan menghancurkan keadaaan dan membuat semua kenyataan semakin rumit. Aku hanya perlu berdiam, mencelotehkan rasaku dalam celoteh panjangku dan dalam rangkaian kalimat tanpa makna. Aku hanya perlu mendoakan semesta tak mendukung aku dan kamu menjadi kita. Aku hanya perlu menjadi penonton dan orang serba tahu atas kisah yang kau ukir dengan banyak bidadari surga.
Aku tak berhak atas rasa ini. Jadi, halalkan aku merasakan hal ini.  sementara, hal ini terlalu menyita waktuku, menyita lelah bahkan resahku. lalau, membuyar konsentrasiku.
Jadi, halalkah rasa ini untukku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...