Rabu, 02 Mei 2018

STORY MY WORD

1965 DD


Jalan panjang apa yang sedang aku lalui, seakan keadaan enggan berpihak padaku. Seakan kau masuki galaxyku, seakan kau mengedar pada galaxyku. Nyatanya? iya bukan kau memang memasuki galaxyku. Entah dengan tujuan atau alasan apa yang sedikitpun tak kupahami. Andai kau tahu, aku ingin berhenti namun kau selalu melintasi galaxyku. Aku ingin mundur, tapi aku selalu gagal. Aku ingin maju tapi aku tak mampu. Aku tak mampu melukai planet-planet pada galaxymu dan galaxyku. Aku tak mungkin menjadi tersangka,karena harus kau tahu aku tahu rasanya jadi korban.
Ayo jelaskan padaku? duduklah bersamaku, akan aku dengarkan semua keluh kesah dalam hidupmu. Agar aku tahu dan paham semua yang terlintas pada benakmu. Agar aku tahu rasaku dan rasamu tak sama dan tak untuk disamakan.
Hari itu, hari yang tak pernah aku duga akan ada. Aku kira cukup galaxyku yang kau jelajahi. kenyataannya sekenario kita juga mendekatkan jarak yang ada bukan? aku tak berani menyebarang pada 2.000.000 tahun cahaya. Tapi, kau ada pada galaxyku. Itu dirimu bukan? sosok nyatamu bukan?
Dan ketika keadaan membuat kita pada satu tempat yang sama dalam kurun waktu berjuta detik yang kita punya. Pada 172800 detik lebih kesempatan untuk membagi cerita yang kita punya, aku hanya menuggu moment dan seakan kaupun sama.
Berapa moment yang kita dapat? jangan tanya jika apa yang kita lakukan sama. Jika, kau melakukan hal yang sama denganku maka apa yang kita dapatkan adalah suatu hal yang sama. Jangan tanyakan apa yang aku tunggu, bukankah kita menunggu hal yang sama?
Aku lelah! berhentilah! diamlah! pergilah!
Aku tak mungkin terus mengedar pada garis edar dimana pada orbit itu ada dirimu. Jika aku mampu aku memilih berhenti dan pergi dari cerita. Tapi nyatanya kau bukan yang memilih untuk ada pada galaxy itu? jelaskan! kumohon jelaskan padaku, jelaskan dengan rangkaian kata, berhentilah untuk memamerkan tatap yang kau punya. Aku tak pernah paham dengan tatap mata yang selalu kau pamerkan, seakan ada aku pada dua bola mata bulatmu. Tapi, nyatanya tidak bukan?
Pagi itu....
Embun memamerkan semerbaknya, semangat juang liburan dan wisata hati itu memuncak disetiap benak. Aku? dengan cara sedehanaku, menatap dan menyiapkan 2,5 hari 2 malam dengan sederhana dan seadanya. Aku tak perlu mencari yang tak aku butuhkan, nyatanya aku masih punya banyak hal yang mampu melengkapi 2,5 hari 2 malamku tak perlu ku paksa ada jika nyatanya tak ada.
Semua semangant dengan persiapan maksimal mereka, aku menjadi penonton terbaik dari baiknya penonton. Membawa semua yang aku butuhkan bukan aku inginkan. Rasanya tak perlu ku paksa ada pada ketiadaan yang tak kupunya.
Kita terpisah ruang, tapi keadaan membuat kita bersama bukan? kau pada galaxymu dimana ada aku dengan sekenario yang begitu menjebakku. Lihatlah ada aku pada cerita perjalananmu, karena keadaan memaksa kita tuk terdiam dalam ribuan detik bersama.
Aku tahu, pagi ini belum ada dirimu. Kau masih dengan gugusan-gugusan planet lain yang sejenis denganmu. Ku orbitkan diamku pada bulan disatelitmu. Sosoknya yang menyambut pagiku, dengan tawa ramah yang dia tawarkan tak lupa sederhana yang dia punya tanpa paksaan.
Aku tak tahu bagaimana selanjutnya jalani detik demi detik dimana dititik orbit ini ada dirimu. Aku terdiam, jangan salah aku terdiam bukan karena ada dirimu. Tapi sungguh ketika aku terduduk pada perjalanan panjang aku lebih memilih diam pada garis edarku, aku lebih memilih menawarkan bayang dan berjuta khayal pada otak dan imajinasiku.
Aku tahu kau ada pada titik edarmu, terduduk dengan? dengan apa? aku tak paham. Aku tak tahu sejatinya sosokmu bukan? Ah aku tak peduli kau duduk disebelah mana yang penting bukan dibelakangku persis.Yah syukurlah batasan dalam agama kita membuat aku terselamatkan dari berbagai cerita.
Detik demi detik itu berlalu dengan begitu dan seperti itu harusnya. Tak ada sapa diantara kita, karena nyatanya kau terdiam pada titikmu, begitu juga denganku terdiam pada titikku. Aku masih berharap jikalaupun galaxy kita sama, aku masih bisa membedakan kau dalam dimensi yang berbeda. Jangan tanya kenapa? Kau enggan mempertanyakan banyak hal padaku, kau lebih suka menunggu keadaan akan berpihak padamu, walau nyatanya tidak bukan?
Hingga moment itu datang...
"Hushhhh... Hushhh... Hushhhh..."
(Aslinya panggil namaku)
Aku menengok kebelakang walau rasanya enggan.
"Apa?" tanyanku dengan nada yang selalu ku tawarkan padamu.
Karena aku lupa jadi ramah, entah tapi rasanya biarlah kau hidup dengan kesan awal itu hingga ukir cerita tentang kita berakhir dengan sempurna. Dimana kau dengan cerita kehidupanmu dan aku dengan cerita kehidupanku.
"Waras?" tanyanya dengan tatap mata dan seuntai (semoga seuntai bahagia yang kau rasa).
"Ini tanya kabar atau tanya kondisi jiwa?" tanyaku merendahkan nada suaraku yang sekarang seakan berfikir dan lebih lembut.
"Dua-duanya," jawabmu dengan tatap yang masih sama.
Kalau boleh aku menawar, percakapan singkat itu boleh ada tapi alangkah baiknya bukan hal itu yang kau tanyakan atau bukan sekedar itu yang kau tanyakan. Bukan alasan agar lebih lama, tapi aku rasa kau tahu kabarku baik-baik saja.
"Kalau fisik, yahhh baiklah, tapi kalau kejiwaan? ayo cek ke Rsj yang terdekat saja," kataku dengan mantap namun sedikit memberikan pertimbangan dengan nada seaakan bingung.
Dan? hanya tawa yang kau pamerkan. Aku meminta persetujuan atau aku akhiri obrolan ini. Yah, nyatanya merangkai kata denganmu memang takan panjang dan berlangsung lama. Entah aku terkalahkan keadaan atau aku yang memang tak kau harapkan.
Entahlah....
Selanjutnya, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kita berbatas pada galaxy yang kita orbiti, aku tak berhak memilih atau bahkan menyebrang. Aku kira sapamu yang pertama dan terakhir. Dan nyatanya, kau masih memiliki kesempatan. Kau masih mempunyai tempat untuk menyapaku, dan luar biasanya dilingkungan seramai itu??? Luar biasa. Tapi sayangnya itu galaxyku bukan pada galaxymu. Aku tetap tak memperhitungkan nilai juangmu. Itu bukan cara berjuang bukan?
Lalu pada pagi propinsi lain berteman segelas indomilk, kau ada pada garis edar itu. Tapi tetap aku terselamatkan dengan benteng-benteng yang ada pada galaxy ini bukan? aku terselamatkan dari banyak hal yang tak seharusnya.
Dan pada moment yang paling aku tunggu, kau ada. Tapi keberanianku menciut saat aku ingat mengenai banyak hati pada planet-planet yang mengedar pada galaxyku dan galaxymu. Aku tak mungkin memberanikan diri melukai banyak planet pada galaxy itu. Aku tak mungkin menyeberang dan berjuang untuk hal yang sebetulnya bukan aku. Bukan karena aku takut kecewa, bukan karena aku takut terluka. Bukannya terluka dan kecewa tersebabmu aku sudah biasa? jadi mengapa aku taku. Aku hanya bertugas menjaga hati mereka, selebihnya aku tak pernah diijinkan menjadi tersangka. Kalau aku saja bisa terluka, apalagi mereka? mereka juga punya hati yang sama-sama bisa terluka. Jangan tanyakan hati dan rasaku aku sudah lelah menduga setiap gerakmu.
Dan dari perjalanan itu, wahai cowok caper yang ku kenal sederhana diawal. Kau memang sederhana, aku percaya itu. Kau yang terlihat biasa saja dengan ilmu agama yang sejujurnya tinggi. Dan kau yang ketiak aku melihat kearahmu? aku merasa malu, seakan aku bercermin. Dan pada 172800 detik yang tak aku pahami sedikitpun, aku berterimakasih pada sekenario yang membuatmu ada dalam cerita walau selanjutnya aku lelah bertubi-tubi dijatuhkan cinta atas namamu.
Aku ingin berhenti!
Aku ingin mundur!
Aku tak tahu jalan panjang apa yang sedang aku lalui, semua tentangmu masih membuatku merasa lelah. Jika aku tak terijin untuk mundur, berhenti dan pergi jadi tolong kau sajalah yang melakukan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...