Rabu, 27 Desember 2017

STORY MY WORD



SELASA, RABU
(Part 2)

            Kuliah dipercepat oleh dosen, entah karena materi yang memang sudah selesai atau karena beliau sudah bosan atau mungkin karena sosok kehadiarannya yang mengganggu. Sejujurnya aku tak peduli.
            Setelah dosen keluar, aku memutuskan keluar. Waktu masih menunjukan pukul 15.00 WIB perpustakaan masih buka.
“Ayo Kak kelua,” Ajak Pohon.
Kami berdua keluar, dengan muka penasaran ku kejar langkah kaki Pohon agar sejajar.
“Yang tadi itu bener? Dia ngikutin?” tanyaku tanpa peduli anak kelas lain. Bahkan sosok cowok yang sering kami bilang pengeran mimpi sedang terduduk di kursi panjang bersama temannya.
            Pohon tidak menjawab dia hanya melihat kearah sekelilingnya yang ramai lalu melanjutkan perjalanan. Kami disapa anak-anak cewek kelas pengeran mimpi yang diantaranya disitu ada Kak Ros dengan teman-temannya. Kami basa-basi sebentar lalu mengenalkan gantungan boneka kecil ditas kami masing-masing. Di tasku bernama Miachan sedangkan di tas Pohon bernama komeng. Lalu akhirnya kami pergi menuju ke perpustakaan, namun dilorong lantai satu aku terus mencari jawabku tentang tanya yang belum terjawab.
“Tadi beneran dia ngikutin?” tanyaku lagi.
“Iya dia ngikutin kakak!” bentak pohon.
Entah reflek apa yang kualami, tak ingin marah Pohon terlihat kalangan banyak atau apa namun yang kulakukan adalah menarik tangan Pohon untuk masuk kearah kelas BQ 105 untuk meminta penjelasan sedetail mungkin.
“Beneran?” tanyaku meminta penjelasan.
“Iya! Dan kenapa kakak ngajakin dia main!” kata Pohon dengan nada tinggi.
“Aku ngga ngajakin dia main,” kataku menjelaskan.
“Watermelon, watermelon segala,” kata Pohon dengan muka marah yang rasanya baru pernah ditujukan padaku.
“Itu reflek,” iya itu reflek aku punya alasan, aku benar-benar merasa bosan berada di kelas dan tak mendapat respon dari orang yang berada disebelahku itu menyebalkan.
“Kalau mau ngajakin main mending sama Pohon saja,” kata Pohon menanggapi responku.
Pohon keluar dari kelas, aku mengikuti langkahnya. Entah pikiranku melayang, kenapa bisa dia mengikutiku? Karena apa? Apa sepesialku? Pikiranku kacau hingga kami melihat sosok Abang. Abang adalah teman sekelas kami yang seusia dengan Pohon.Sosok cowok pintar rekan pohon memojokanku, rekan curhat yang lebih suka menceramahiku.
“Abang,” panggil Pohon seakan tak ada apapun yang terjadi.
Abang menoleh dengan muka yang tak biasanya, mukanya benar-benar segar berbumbu senyum mengembang. Muka kantuknya tadi di kelas benar-benar telah lenyap dan tak tersisa. Muka yang aku pikir jikalaupun dia berangkat pagi dan berambut klimis bukan muka ini yang dia punya. Atau mukanya sesegar itu dikarenakan mukaku yang kusut sebab ku tekuk dengan pertanyaan yang mendadak memenuhi rongga-rongga otakku.
“Dia yang tadi di aula seminar?” tanyaku pada Pohon sepanjang perjalanan menuju perpustakaan.
“Aku ga terlalu bisa melihat dan peka merasakan tapi itu iya Kak,” kata Pohon.
Otakku semakin meringsek jauh dengan apa yang ku pikirkan. Awalnya bukan takut yang ku dapat, aku terkesan tak peduli. Terserah dia mau mengikutiku atau apalah, toh sesame mahluk hidup berhak hidup di dunia ini.
Kami sampai di perpustakaan, ku ambil modem yang ku jadikan eksternal memory semacam flasdish. Lalu ku ambil tabletku kumatikan datanya ku ganti dengan wifi gratis perpustakaan, kami memasuki perpustakaan. Seperti biasa Pohon dengan setumpuk buku ditangannya dan sebuah smart phone baru. Aku memilih menyelesaikan tugasku, aku tak mau terfokus dengan sosok yang mengikutiku. Aku tak mau terlalu memperdulikan dia yang aku yakin tak akan menetap. Untuk sosok nyata aja belum tentu betah apalagi dia sosok yang tak kasat mata, jangan betah ya.
Pohon terduduk di kursi favoritku, karena kursi favoritnya telah penuh dengan segerombolan anak yang terlihat sibuk sedang berdiskusi. Aku menemukan computer yang bisa ku gunakan untuk mengerjakan tugas, harap maklum komputerku lagi sakit, dia kena virus. Lalu ku mulai dari RPP yang beberapa minggu lalu aku download, lalu selanjutnya lai ke silabus bagaimanapun juga buat RPP harus pakai silabus. Harap maklum, aku belum secanggih teman-temanku, biarpun hasil copy paste harus tetap pakai silabus.
Belum lama, baru beberapa menit. Pohon datang dengan buku ditangannya. Ku lihat notifikasi Whats up yang ramai oleh grup kelas. Terlihat mereka membahas tentang kasus tadi di BQ 102. Aku belum bergeming tuk mencari tahu, ku putuskan keluar mengikuti langkah kaki Pohon.
“Kita kemana?” tanyaku sembari membuka grup Whats Up kelas yang ramai.
“Nyari orang ketiga, kalau Cuma berdua kurang asyk kak,” kata Pohon.
Beberapa hari yang lalu Farah memang meminta kami membantu dia mengerjakan tugas tentang kebudayaan. Dia harus membuat video tentang kebudayaan di Indonesia, kebetulan kami didapuk sebagai bintang dari video itu, ehm… artis FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra).
“Lalu mau siapa? Anggota kerajaan? Mereka kan lagi kuliah,” kataku mengingatkan.
“Ya kalau adanya mereka ga apa Kak, kita cari mba Unyu,” kata Pohon.
Mba Unyu adalah anak semester 7 yang bisa bersama kami. Sosok mba-mba yang juga sama pecicilannya dengan kami. Sosok yang dia banget dengan segudang stok senyum dan PeDe yang over sebetulnya, tapi kami suka dia.
“Lagi dibahas di grup,” kataku pada Pohon.
“Iyakah kak?” tanya Pohon yang keluar dari grup seminggu yang lalu tanpa alasan.
“Heeh, katanya ada yang ngikutin, tapi mereka ga sebut nama,” kataku memastikan.
Kami sampai di fakultas Pendidikan yang sudah mulai sepi, yang di luar kelas tinggal nampak anak-anak PAI E. Sosok mba Unyu yang kebetulan ikut kelas itupun tak nampak, kami tak mungkin menghampiri ke kelas itu, jadi kami putuskan duduk di pos satpam yang sepi.
“Nunggu disini saja ya Kak,” kata Pohon.
“Iya, grupnya benar-benar ramai, mereka terus-terusan bahas kejadian tadi siang,” kataku ke Pohon.
“Iya po? Ga usah takutkan dia sementara kok, sedang sosok yang mengikutiku? Dia ga bisa pergi,” kata Pohon yang memang diikuti dan tak mungkin lepas dari sosok mba-mba cantik kasat mata teman dekatnya.
“Katanya, sosok itu anak-anak,” kataku membaca sebuah postingan teman sekelas yang bisa berkomunikasi.
Lalu selanjutnya, dia memberi tahu nama sosok yang mengikutiku dan mengomando anak-anak sekelas untuk mengirimkan al fatehah nanti sehabis magrib. Lalu selanjutnya mereka membahas agar tidak berangkat terlalu pagi ke kampus, apa hubungannya? Aku kan ga pernah kepagian ke kampus. Kalau aku kepagian ke kampus yang dinyanyiin lagu “Bukti” – virgoun sama raja Negeri Dongeng bukan Pohon tapi aku. Nah ini yang selalu kepagian nongkrongin BQ 107 atau kalau ga samping toilet juga Pohon kenapa yang kena aku coba? Lalu pada selanjutnya katanya karena aku ngajak sosok tak kasat mata itu main. Aku ga pernah ngajak main loh ya, salah paham berarti dia.
Mulai dari sini, aku semakin menekuk mukaku. Tak berhenti terdiam terus membacakan komen-komen di grup kelas pada Pohon. sesekali mencari sosok Mba Unyu menenangkan perasaan. Tapi tetap saja gagal.
“Kak perasaanku ga enak, asli ini itu seperti perasaanku ketika aku mau ditinggal kakekku,” kata Pohon mengalihkan perhatianku. Aku tahu kali ini bukan karena kepanikanku yang semakin bertambah apalagi setelah banyaknya komentar di grup tentang kejadian tadi.
“Ga dia ga akan kenapa-kenapa, dia baik-baik saja,” kataku memastikan hatiku tenang dengan kondisi Farah yang terlihat semakin melemah.
“Tapi Kak lihat saja mukanya pucat,” kata Pohon menambahi.
“Sejujurnya aku juga takut kalau dia Cuma ingin video ini selesai, kalau dia ingin segera pergi, apalagi kalimat di pesan-pesannya seakan dia sudah lelah menghadapi hidup,” kataku mengingat pesan-pesan dalam bentuk syair yang dia kirimkan padaku.
Aku tak tahu kemana harus ku tuju pikirku. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan aku tak mungkin menghentikan pikirku tentang Farah. Mau tak mau aku khawati dengan kondisinya, mau tak mau pikirku juga menuju sosok yang mengikutiku. Bagaimana kalau ini video terakhir Farah? Bagaimana kalau setelah selesai dengan video ini dia pergi meninggalkan kami? Bagaimana kalau kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi? Lalu dilain sisi pikirku melayang pada sosok yang mengikutiku. Bagaimana kalau teman-temanku jadi takut? Bagaimana kalau dia tak mau lepas dariku? Bagaimana kalau ini tak akan berakhir?
Belum usai dengan semua pikiran burukku, mereka yang di grup terus membahas tentangku seakan aku tak ada. Bukan bahasa yang serius lebih dengan bahasa bercanda. Pikiranku semakin tak jelas, aku masih terus membacakan keramaian di grup nampak Pohon mengalihkan duniaku dia mencari berbagai bahasan walau sebetulnya pikirannyapun kalut tak tak jelas bingung dengan semua yang abu-abu yang mewarnai otaknya.
Mba iwak membuat story yang bahkan benar-benar  sulit aku lupakan. Katanya makanya jangan pecicilan, ah tidak ini adalah kata-kata yang menyakitkan. Ini yang membuat Rabu ku bulat dan Rabu ku marah. Lalu pada selanjutnya katanya dia sudah tanyakan tentang kejadian di BQ 102 kepada kakeknya itu memang betul ulah mahluk halus. Mereka terus membahas tentang kejadian mistis itu digrup tanpa peduli ada aku. Tanpa mau salah satu dari mereka mengechat pribadi dan bilang apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya pura-pura bodoh seakan aku tak tahu apapun yang terjadi.
Ku temukan Kak Ros berjalan menuju kelasnya, dia sedang menunggu dosen statistic.
“Kak Ros?” teriakku yang membuat dia menghampiri kami.
“Upin, Ipin,” katanya dengan senyumnya.
“Kak ada mab Unyu? Panggilin dong penting gitu,” kami menitipkan pesan berharap Mba Unyu memang di kelas.
Tak butuh waktu lama, Mba Unyu datang. Kami meminta nomer lalu janjian untuk ketemu besok Rabu. Mba Unyu pergi untuk mengikuti perkuliahan statistic, kami memutuskan pergi mencari ice cream, jujur otakku sudah panas ini benar-benar menyesakkan. Aku tak tahu kemana pikiranku harus difokuskan, ke dia sosok kasat mata yang begitu menarik dibicarakan anak-anak kelas di grup WA? Atau sosok teman bersyair yang pernah ku buat pinsan di perpustakaan?
Ohhhhh…. Teman-teman sekelasku yang ku hormati dan kusayangi setengah hati, tahukah kalian? Sosok orang yang biasanya bermain syair, ku kasih tahu tentang curhatan hidupku, sosok yang ku anggap adik saja pernah aku buat pinsan. Tolong jangan macam-macam dan buat hatiku tak jelas dan tak karuan, berhenti membicarakannya. Aku benar-benar tertekan, kenapa kalian seakan menyalahkanku? Kenapa? Aku salahkah?
To be continue…

Rabu, 20 Desember 2017

STORY OF MY WORD

SELASA, RABU
(Part 1)


"Coba jadi saya, coba bayangkan lalu rasakan ada diposisi saya. Dengan sejuta kekurangan dan ketidaktahuan bahkan dengan sejuta rasa yang tak mampu dijelaskan"
Hey mahluk Allah saya bukan pemberani....

Ini dimulai dari sebuah ketidaktahuan yang kualami. Aku yang tak paham dengan keadaan dan berpikir semua baik-baik saja tanpa salah. Selasa ini adalah awal semuanya, hari menakjubkan yang pernah ada dalam hidup, hari berkesan yang entah bahkan kalau harus kembali terulang aku rasa enggan dan memilih menghindar sejauh yang aku mampu.
Pagi yang cerah, seperti biasa dilalui dengan penuh lelah. Hanya ada setitik semangat kuliah untuk mengikuti sebuah seminar yang diadakan anak Teknik. Seminar pertama selama kuliah, seminar pertama yang sungguh berkesan namun bukan awal yang tak beralasan.
Tak seperti Selasa biasanya, Selasa ini ku tarik tangan pohon duduk jauh dari depan kelas. Kami terduduk untuk membahas sesuatu yang sebetulnya tak terlalu penting. Ku mengajak dia duduk di dua bangku rusak yang kosong, kali ini entah kenapa aku menghiraukan bangku panjang yang hanya berisi seorang mahasiswi semester 7 yang sedang sibuk dengan  hpnya. Setelah berbincang, Pohon mengajakku pergi, namun entah rasanya sungguh berat meninggalkan tempat itu, aku masih ingin terduduk di kursi itu lalu memandang jauh tanpa harus peduli siapa yang di depan sana, tanpa harus takut dikira modus atau caper atau apalah. Namun kelas segera dimulai tanpa dosen, karena pasti dosennya telat.
"Ayo Kak, kita ikut presentasi," ajak Pohon yang sudah meninggalkanku jauh.
Lalu dengan malas aku berlari menyusul langkahnya. Dari situ kaki kiriku mulai terasa sakit, sepertinya kakiku mengalami pembengkakan atau perpanjangan ukuruan hingga rasanya sepatu yang dari kemarin yang kekecilan bagian kanan jadi kekecilan bagian kiri, mungkin nantinya kulit kakiku akan lecet. Namun salah, kulitku tak lecet tapi tulang kakiku benar-benar pegal dan sakit, ini benar-benar menyusahkan langkahku membuat jalanku terseok-seok.
Sesampai dikelas yang mulai penuh dengan penghuni wajibnya yang hobby telat dan hobby deadline.
"Kakak kenapa?" tanya Pohon melihat cara jalanku yang mulai berubah.
"Sepatuku kekecilan," jawabku yang memang mengira sepatuku kekecilan.
Karena biasanya ukuran sepatuku bukan 37 tapi 38 atau 39. Dan seingatku sebelum selasa ini sepatu ini juga sudah menyiksaku tapi bukan pada kaki kiriku lebih kaki kananku yang berujung kulit terkeluapas. Tapi seingatku beberapa hari ini kaki kananku sudah tak protes dengan ukuran sepatuku, sepatuku yang terbuat dari kulit terasa melar jadi sudah nyaman, itu sebelum selasa.
Seperti biasa kami selalu punya topik diluar diskusi presentasi yang sedang dipaparkan, tersenyum bahagia seakan dunia hanya milik kami. Kelas itu punya kami, yang lain cuma numpang cari nilai. Kami cari hidup, kami cari bahagia, cari senyum, cari hipotesis, dan belajar karakter.
Selesai matakuliah pertama, kami putuskan lari dari kelas. Kami pergi meninggalkan teman-teman yang mencari kelas baru untuk matakuliah Statistik Pendidikan yang minta jam tambahan. Kami berdua memutuskan bolos kuliah untuk mengikuti sebuah seminar anak teknik yang judulnya sungguh menarik.
"Mba kelasnya di ruang 106?" kata seorang mahasiswi yang terkenal rajin, polos dan pintar.
"Iya," itu jawaban singkat sembari berlalu tanpa memperdulikan lagi akan dicari atau tidak. Akan diharapkan ada di kelas atau tidak. Setidaknya membuat kelas tenang tanpa kami itu penting.
Iya benar, tak ada yang mengabari kami kecuali seorang mahasiswa teman sekelas kami yang terkenal pendiam dan sedikit berbicara. Dia mengabari kami lewat WA dan meng-SMS kami.
Aku terduduk pada pinggir sebelah kiri gedung. Entah dengan motif apa aku menyisakkan satu kursi kosong disampingku.
"Emang ya, dimanapun selalu bayar dua kursi," kataku sembari meletakan tas gedong yang sudah mulai rusak diatas kursi itu.
Tak seberapa lama, aku mengambil tas itu dan menaruhnya dipangkuanku. Bukan kami kalau khusyuk mengikuti sebuah acara. Kami bercanda membuang bosan, menyusun rencana, berhipotesis bahkan memberikan kesan satu persatu kepada anak Teknik yang sedang dilantik jadi anggota Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP).
Entah perasaan apa yang menghantuiku, rasanya dari arah kiriku ada yang terus memperhatikanku. padahal tak ada siapapun, hanya jarak beberapa lantai yang dilalui anak-anak panitia acara untuk lewat sisanya tembok. Aku benar-benar terganggu dengan perhatian yang aku dapat dari sesuatu yang sebetulnya tak ada. Berulang aku coba mengalihkan padangan hingga akhirnya Pohon membuka mulutnya.
"Kak kayaknya ada yang duduk disamping Kakak," katanya berbisik pelan mengumpulkan keyakinan bahwa apa yang dilihatnya pada bangku kosong yang berada disebelahku nyata.
"Beneran? aku ga tahu, aku rasanya dari tadi ada yang perhatiin aku dari arah pintu sebelah kiriku persis, emang ada mahluk lain ya?" tanyaku penasaran dan mulai tak nyaman.
"Ga kak, aku tahunya kayak ada yang duduk disebelah kakak," kata pohon yang kupercayai.
Sebelum pohon membuka mulut, kursi sebelahku kuisi dengan kotak makanan ringan yang kudapat dari panitia. Entah niatku hanya menghormati dia, aku mengambil kotak itu dan menaruhnya di kursi yang ada didepan yang juga kosong.
Azan dzuhur berkumandang memecah ketenangan anak-anak Teknik menyimak seminar dan semangat pembicara yang begitu menyihit kami. Setelah dzuhur acara dilanjut dengan pelatihan penulisan Al Qur'an  oleh pembicar seminar.
"Dia masih duduk disebelahku?" tanyaku pada Pohon.
"Rasanyan si sudah ga ada kak," kata Pohon yang kali ini terlihat lebih yakin.
Kami putuskan untuk keluar dari aula tempat seminar dan pergi mencari makan siang lalu shalat dzuhur. Kami memilih warung makan murah langganan kami, warung makan dimana kami menemukan hipotesis baru. Warung makan dimana kami terkejut, syok dan tertawa geli bahkan melotot tak percaya.
Kami putuskan duduk ditempat favorit kami, memesan dua piring nasi plus lauknya. Terduduk membahas setelah sholat mau kemana, mau ikut kuliah atau pelatihan menulis Al Qur'an, atau bahkan nongkrongin wifi kencangnya perpustakaan. Dua piring makanan datang, entah sebetulnya tak terlalu lapar, mungkin karena efek ngelihat jam di hp yang sebetulnya kecepatan 15 menit atau mungkin karena ada dia. Piringku sangat cepat bersihnya, nasinya tak tersisa dengan waktu yang singkat.
"Kakak makannya cepat banget si?" tanya Pohon bingung dengan muka anehnya.
"Hah? Lapar," jawabku datar dengan pikiran kosong dan rasa tak enak seperti seakan mau meninggalkan Pohon dengan piring makanannya yang masih penuh.
"Kakak ga sholat subuh?"
"Sholat kok, kayaknya tadi lupa baca do'a pas mau makan deh," kataku coba mengingat.
"Pantes," komentar Pohon datar yang menimbulkan pertanyaan selanjutnya dalam otakku.
Setelah makan dan sholat, kami putuskan untuk ikut pelatihan menulis Al Qur'an. Kami terduduk dibelakang, mencoba cepat-cepatan menulis huruf indah Al Qur'an hingga dua anak teknik duduk dibelakang kami dan menawarkan diri kerja sama. Seperti biasa bukan aku yang dibantu pasti Pohon yang lebih berani, aku? stay cool berjuang menyelesaikan tugas yang diberikan panitia. Belum kami selesai lembar tugas itu sudah diminta, kami pasrah.
Melalui WA, teman-teman menginfokan sudah ada dosen di ruang 102. Kami putuskan kuliah, karena acara sudah selesai. Seperti biasa bukan kami kalau sepanjang jalan diam, dengan celoteh dan senyum yang wajib menghias kami terus berjalan menyusuri jalan menuju Fakultas pendidikan dari aula yang bersampingan dengan fakultas teknik.
"Ah ga usah masuk sudah telat ini," kataku enggan memasuki ruang kelas.
"Ayo kak," ajak Pohon.
"Masih ada kursi?" tanyaku lagi.
"Masih ada kok," jawab pohon memastikan.
Lalu kami masu ke kelas dengan menyita perhatian seluruh penghuni kelas yang memamerkan sejuta sorot mata yang berwarna. aku memutuskan duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu, entah mengapa kursi itu kosong. Lalu pohon memutuskan duduk di kursi belakang sendiri dekat dengan salah satu mahasiswi indigo teman sekelas kami.
Pintu kelas dibuka lebar, udara segar menyergap. Mereka yang lalu lalang terlihat begitu mudah. Hingga beberapa menit kemudian mahluk deadline masuk kelas sehabis sholat dzuhur, salah satu dari genk deadline menutup pintu tapi tak tertutup sempurna karena memang pintunya sudah rusak.
"Kok ditutup sie?" gerutuku dalam hati.
Tak butuh waktu lama, pintu buka, tutup, buka, tutup, buka, tutup sendiri. Kejadian ini menyita perhatian penghuni kelas, karena pintu buka tutup tanpa adanya angin.
"Ih ada apa ini?" tanya salah satu mahluk deadline yang juga duduk di dekap pintu.
"Hayoh ada apa?" tambah yang lain.
Aku terdiam, masih berfikir bahwa itu adalah angin. Aku mencari sosok Pohon yang sepertinya sedang mengamati dengan seksama seperti kejadian di Aula seminar tadi. Tak seberapa lama, setelah dia sukses menarik perhatian seluruh penghuni kelas maka dia berhenti. Namun tak perlu waktu lama, dia berulah lagi menyita perhatian kami. Penghuni kelas mulai ketakutan, kutatap kembali Pohon yang duduk dibelakang dengan masih muka yang sama. Lalu ku cari pohon dari jendela berharap itu memang karena angin, tapi nyatanya tak kutemukan angin. Dosen yang merasa perhatian mahasiswanya sudah beralih memutuskan menutup pintu itu, dan memang pintu itu berhenti.
"Hihh aku yang pertama kali lihat lagi," kata sesepuh mahluk deadline lirih.
"Ga apa-apa mba paling cuma angin," jawabku datar walau sesungguhnya aku benar-benar merasa ganjil.
Lalu dosen kembali ketampatnya dan menjelaskan materi.
"Itu tadi mahluk yang bahkan bulu paling halus yang kalau kita punya tak nampak, kalau punya dia sebesar kawat," kata Pak dosen belum melanjutkan materinya.
Banyak yang mulai gaduh antara ketakutan, ngejek atau apalah yang jelas kata-kata dan respon mereka tak seluruhnya mampu aku tangkap.
"Punyaku gede-gede kok mba," kataku menunjukan lengan tanganku yang memang berbulu lebat dan besar.
Tahu respon apa yagn aku dapat? dia tak menghiraukan. Aku terdiam seakan kalah, aku merasa sepi tak memiliki teman bicara. Aku bosan walau apa yang sedang kulihat adalah hal tabu yang seharunya terlihat amat sangat  menarik.
"Water melon, water melon," nyanyiku reflek setelah beberapa kali sebelumnya aku mencoba mencari perhatian dari sesepuh mahluk deadline tak ku dapatkan dan dia asyk ngobrol dengan teman sebelahnya yah panggil saja dia bu Nyai able.
"Ih mba nyuekin aku terus!" kataku kesal menyentuh lengan tangan sesepuh mahluk deadline dengan jari telunjukku dengan kesal dan pasang muka manyun.
"Mumpung materinya menarik," jawabnya dengan senyum ringan lalu kembali melihat kearah dosen.
Biasanya juga dia tidur, lalu minta diganggu. Aku benar-benar merasa kesepian dan bosan dengan meteri perkuliahan yang terlihat sudah dibahas belum lagi cerita pak dosen tentang murid blateran Belandanya yang ga pinter tapi di kelas hobby menghitung kata "mungki" yang beliau ucapkan. Sudah berapa kali beliau menceritakan cerita yang sama hingga ingatanku yang lemah saja bosan dan tahu alur lengkapnya.
Yah dikebosananku dia kembali berulah, pintu yang tertutup itu kembali dia mainkan. Benar kembali menyita perhatian seluruh penghuni kelas, memecah konsentari dan menarik seluruh penghuni kelas tak terkecuali aku yang sudah bosan tapi tak mengantuk. Kali ini kupastikan mampu menjangkau pandangan Pohon dan mendapat anggukan darinya.
"Pohon! dia ikut?" tanyaku pelan yang mendapat tatapan dari 3 anggota boy band.
Pohon mengangguk, karena ketua boy band menatap dengan begitu pensaran dan menyebalkannya aku putuskan mencari topik lain agar dia tak curiga.
"Udah dikonfirmasi sama mba-mbanya?" tanyaku dengan suara keras.
Dosen memutuskan membuka pintu itu lebar-lebar, dan nyatanya dia memutuskan berhenti memainkan pintu itu.
"Itu tadi angin," teriakku keras-keras setelah mendapat kepastian dari Pohon.
Yang diiyakan dan diumumkan ulang oleh Pak Dosen, tujuannya agar penghuni kelas berhenti membicarakn hal itu dan menyangka bahwa itu memang hanya angin bukan ulah dia yang halus.


To be continue...

Jumat, 08 Desember 2017

Lingkaran Fr

CUIH

Aku terjebak pada posisi dimana aku salah. Pada diam tanpa amarah ku menjejak. Ah lupakan aku juga punya kode etik tersendiri tak sama dengan mereka. Punya aturan sendiri, punya dalamnya hati sendiri dan bahkan takaran sakitnyapun sendiri.
Bedakan apa itu bercanda? dan apa itu serius? Cuih yang kayak gitu juga gue hargai receh. Remeh, karena asal loe tahu dia yagn kau cinta tak lebih berharga dari aku yang terhina.
Mungkin gue tak terlihat berguna, tapi yang harus kau pahami. Rasanya bakal percuma mempertahankan rasa pada sosok yagn tak sederhana dan menyusahkan nyatanya. sepersekian mungkin ruang lingkupnya luas tapi nyatanya? cuih jauh dari nyata.
Yan gsibuk itu tak berarti yang bermakna. Suatu detik nanti Allah akan tunjukan seberapa bermaknanay aku dalam baris kata. Dan pada akhirnya, dia yang kau cinta hanya akan jadi serpihan cuih tanpa cuih dan lenyap dalam cuih, cuih, dan cuih.
Akhirnya aku terluka dalam kata tersebab kau yang ujungnya menderita dalam rona. Maaf aku tak mendo'akan tapi itu akhirnya. Jika bukan itu, anggap Tuhan sedang baik padamu karena tak mendakdirkan apa yang aku sekenariokan.

STORY OF MY WORD

HARAP PADA KHAYAL

"Aku tak mungkin kamu. Kita tak mungkin sama. Dunia kita berbeda bukan pelengkap atau rangkaian kata yagn terbiasa. Hanya harap pada khayal pendingin kobar panasnya cuaca."

Pada cemara yang bergoyang. Pada deras rintik hujan yang menemani sore. Kutorehkan harap pada khayal yang rasanya enggan terwujud. Pada ukir andai yagn jauh dari nyata.
Jelaskan padaku tentang titik dan dentang apa yang harus aku analogikan jika pada akhirnya aku hanya akan terpuruk pada kecewa yang mengelupas dan menggores luka. Ah tidak aku hanya berharap. Membiarkan hatiku tergores dan terpuruk pada duka. Memberikan kesempatan pada kecewa tuk singgah. Membiarkan perih mendarat dan menggores.
Jika aku bisa temukan dia dengan tugasnya di tempat favoritku. Lantas mengapa tak bisa menemukanmu disini? Dimana kamu? mengorbit pada garis dan titik apa sebenarnya kamu?
Jika bahkan dia mampu sedikit membunuh gengsinya untuk duduk pada tahta dimana kita bertahta. Menikmati olahan khas yang murah meriah. Lalu mengapa tak sedikit kau meluangkan waktumu sebentar tuk terlihat dari sudut favoritku. Terlalu beratkah hingga kau tak mampu nampak?
Haruskah ku akhiri khayal pada harapku? sedang rasa hati dan fikiran ini masih tentangmu. Masih pada titikmu, mencari setiap sudut dan celah mengenaimu. Mendetail walau tanpa getar.
Ah aku takut terluka, takut kecewa, takukt dan takut. Hingga hatiku masih tertutup dengan harap akan ada kau yang terlihat dari titik sudut favoritku. Terduduk, terkonsen dan berlama-lama dengan aroma yang membuatku tenang, menguap hingga akhirnya terlelap.
Ayolah, berbulan-bulan yagn lalu di tahun yang sama aku bisa menemukanmu. lalu dengan suara samar-samar yang coba kutangkap. Akankah itu terulang?
Haruskah kau lihat aku disudut favoritku? Menunggumu, menanti kehadiranmu. Berharap rasa rajin yang kau tunjukan. Lalu kau tampilkan tatap mata yang kurindu. Lalu senyum tulus yang semerbak dan banyak hal yang kau tontonkan. Semua yagn aku rindu darimu, bahkan tutur kata lembut itu.
Aku tak berharap kau menghampirik. Aku hanya berkhayal kau akan duduk di kursi depanku yang selalu kosong. lalu kau mulai kata dengan "Hai?" atau kalau itu terlalu canggung untukmu maka mungkin kau boleh memulai kata dengna kalimat basa-basi "Kursi ini kosong?" atau apapun yang mampu kau rangkai.
Lalu pada selanjutnya kita saling diam. Terkonsen dengan buu masing-masing. Walau nyatanya kita berkecamuk dalam pikir dan perasaan yagn saling terelebat dengan mulut terbungkam. Oh menyesakan bukan?
Pada sepuluh menit berikutnya, kau beranikan diri memulai pembicaraan.
"Anak Tarbiyahkan?" katamu selembut kata-kata pertama yang kau ucapkan pada bedah buku itu awal kita bertemu.
Atau mungkin bukan sekedar kata-kata itu. Tapi sejuta jurus modusmu. Yang pengitn kita terhubung. Memulai percakapan, membagi keadaan sekarang. Lalu ciptakan kenagn dan pada akhirnya aku tersadar.
Ini hanya harap dan khayal. Ini hanya cerita tanpa realita. Jauh dari kata nyata hanya sekedar harap. Toh aku tak boleh berharap kursi di depanku akan terisi mahluk super sibuk dengan dunia lain sepertimu.
Biarlah kursi itu kosong. Biarlah kursi itu tak terisi, toh kursi itu akan bahagia walau tak ada kamu. Toh kursi itu akan tetap sama manfaat dan gunanya. Ada kamu hanya khayal dan harap bukan tuk jadi realita kehidupan nyata.

Kamis, 30 November 2017

STORY OF MY WORD

PELANGI KEBISUAN

"Pada sekenario mana harusku mainkan kata. Jika mampu menghindar saatku bergerak, jika kau datang saatku enggan. Dan jika kita tak pada jika yang kita kehendaki"

 Pada derasnya hujan yang menjebakku disore ini. Aku terjebak pada bayangmu yang kuhindari. Aku terjebak pada garis edar yang seakan satu namun nampak berbeda arah.
Jika hujan menjebakku dengan caranya yang indah nan elegan. Namun keadaan menjebakku dengan kebisuan, diam sejuta bahasa. Ramai yang menjadi hening dan gerak yang menjadi kata kaku. Lalu ku sekenariokan apa? Nyatanya sama saja bukan?
Aku sendiri tak pernah tahu dialog apa ygn tepat ketika keadaan menjebak. Aku tak pernah tahu harus apa diriku? Walau akhirnya aku lebih memilih mencari tatap ambisius pada matamu yang telah sirna, walau sejujurnya aku lebih suka halusmu dan senyum tulus itu.
Lalu haruskah aku yang memulai jika pada nyatanya kemarinnya kemarin saat berpapas kau buang muka. Kau menghindar dan memilih bersembunyi dibalik temanmu. Lantas sekarang aku harus menyapamu? Dimana keberanianmu? Keberanian yang aku tunggu, keberanian dalam wujud juang.
Ah.. Aku tahu kau melupakan hal itu. Kau tak punya keberanian itu, karena aku tahu kau masih perlu diakreditasi. Karena aku tahu garis edarmu masih dipenuhi bayang yang begitu menarik untuk. Nyatanya aku tak masuk perhitungan namun sayangnya ada dalam titik edar.
Lalu pada selanjutnya, diam adalah pilihan. Tak melangkah, berharap mendapat satu sekenario indah yang menghubungkan. Berusaha? Mungkin juga lupa untuk mendo'a. Lalu pada titik mana aku bertanya?
Ah tidak pada titik selanjutnya aku akan tetap sama. bersembunyi dicelah-celah luka yang lama dan enggan beranjak padamu. Walau nyatanya ku harap sebutir pil manis yang mengobati lukaku. Walalu kuharap tingkah konyol yang menghimburku.
Tetaplah jadi dirimu, jadi kau yang ku kenal diawal. Kau yang konyol, Kau yang kekanak-kanakan. Karena kau yang sok bijak dan sok dewasa sungguh terlihat membosankan dan menyebalkan.
Jika keadaan kembali menjebakku dalam pandang pelangi kebisuan. Aku ingin berlari sejauh yang aku mampu. Menghindar dari garis edar, menjauh dari garis orbit. Memejamkan kedua mata dan menutup kedua telinga dengan tangan kasarku. Karena nyatanya pura-pura tak melihatmu dan pura-pura tak mengetahui ada kamu adalah suatu hal yang tak mudah untukku.
#Pelangi

Jumat, 17 November 2017

STORY OF MY WORD

PUTRI TIDUR KEJEBAK KEADAAN


"Maka skenario mana yang harus ku mainkan jika para pemeran tak tahu dialog mana yang harus digunakan"


Mungkin ini teguran dari Allah atau bahkan sesungguhnya skenario terindah dari bait-bait takdir Allah yagn seharusnya terhubung. Entahlah, tapi mengingat dan menjabarkan kejadian hari ini membuatku tersenyum penuh sipu.
Berhenti!!! ini bukan pasal aku, ini pasal dan bab cewek tersejuk versi Bumi yang dinamai atau kita juluki dia Miss Pohon. Yah belum juga menemukan kata yang pas sudah pengin ketawa dengan pipi yang terasa panas.
Panas mentari siang bolong benar-benar menyengat kulit. Jam tangan hitam kesayangan Miss Pohon menunjukan pukul 12.30. Kami bergegas menuju hutan belantara dimana banyak nafas kehidupan terjaga dengan baik dan dibutuhkan.
Suasana hutan berantara nampak sudah ramai. Kursi di ruang buku umum nampak sulit untuk disinggahi, maka diputuskan terduduk pada pojok rak buku agama. Lesehan diatas lantai hutan belantara yang putih dan dingin. Dengan sebuah buku di tangan Miss Pohon dan aku sendiri sibuk dengan gadget mencari sinyal wifi.
Beberapa mahasiswa nampak sibuk mencari buku pada celah rak lain disudut rak buku agama. Lalu pada rak buku yang sedang kami jadikan tempat tongkrongan mencari dan mengacak-acak hipotesis yang sering kami mainkan, kami terduduk dengan santai. Seakan tak memperdulikan akan ada mahasiswa atau mahasiswi yagn mau mencari buku tentang hadits.
Jenuh dengan media sosial, ku putuskan untuk beralih pada buku. Berat dengan buku Hadits ku pasang muka manyun yang menyebalkan yagn membuat Miss Pohon beranjak dan mencari buku yang ringan dibaca dan tak perlu berfikir berat tuk mencerna maksud dari buku itu.
Dengan sebuah buku di tangan, aku mulai membaca menghadap ke arah masuk menuju rak. Hingga tiba-tiba masuk seorang mahasiswa dengan kaos kerah dan bermotih belang lebar dengan tiga kombinasi warna belang. Sosok cowok yang disebut oleh Miss Pohon "Bakal Calon Sahabat" dan disingkat atau sering disebu dengan "BCS". Dengan senyum merekah nan ramah dia tawarkan. Dan reflek kami balas senyum itu.
Tak lebih dari sepuluh detik dia sudah beranjak pergi tak jadi ke rak hadits membawa senyum dengan ringan. Oh... Mengesalkan!!! Kenapa kami tersenyum? siapa kami? kami hanya sebatas tahu bukan mengenal jadi rasanya tersenyum tak berha. Lalu kenapa tadi tersenyum?
Ah lupakan!!!
Setelah kami jenuh dengan pojok rak buku. Akhirnya kami memilik sebuah meja dengan 6 kursi di ruang agama. Belum kami nyaman, kami disuruh menjaga komputer di ruang komputer yang mau ditinggal shalat padahal lagi download oleh adik kecil yang notabene adik tingkat beda prodi prodi dan beda jurusan. Dan setelah selesai shalat kami putuskan kembali duduk di ruang baca agama yang sepi, hanya ada penjaga, dan dua mahasiswa yang sedang terduduk dengan jarak berjauhan.
Jenuh dan lelah melanda, kami sepakat memutuskan untuk tidur dari pada mengganggu orang disekitar kami yang sedagn sibuk dengan laptop dan bukunya. Kami menggunakan buku dan tangan sebagai bantal. Yah ini memang tidur seadanya pelarian rasa jenuh.
Mungkin satu jam atau mungkin lebih. Aku terbangun dengan perasaan yang aneh. Rasanya ruang gerakku dipersempit. Rasanya ada seseorang yang terduduk disebelahku selain Miss Pohon disamping kiriku. Ah siapa orang ini?
Dengan menyipitkan mata yang masih berat untuk terbuka aku berjuang memastikan siapa yang ada disamping kananku. Oh Allah... nampak seperti sosok cowok. Siapa? Palingan bukan orang yagn aku kenal. sebentar, jaz almamater? iya almamater Kampus, seluruh mahasiswa juga punya, jadi sah saj kalau dia pakai almamater di sini. Tapi tunggu, ini sosok orang yang aku kenal bukan? rasanya sosok ini tak asing, setidaknya mungkin satu fakultas denganku. Dengan seolah tak kuasa membuka mata dan takut kalau tidurnya samapi ngeces, kupastikan orang ini.
Taaaarraaaaa.... Dia adalah anak Fakultasku, beda Prodi. Salah satu sosok cowok yang sering menjadi tema pembicaraanku dengan Miss Pohon. Sosok cowok yang masuk draf anak rajin (walau sekarang sudah berubah). Salah satu penghuni hutan yang dulu terlihat menarik dengan buku dan komputer dihadapannya (sekarang sibuk dengan dunianya). Yah sosok yang aku tahu dan Miss Pohon ajak kenalan di hutan belantara. Sosok yang sering dikirimi salam oleh Miss Pohon. Ngasih nomor ke Miss Pohon, walau sampai detik ini tak dihubungi oleh Miss Pohon. Dan sosok yang akhirnya dihindari oleh Miss Pohon.
Reflek, kualihkan muka  dan memasang muka mengantuk berharap bisa pasang adegan tidur lagi. Dengan muka dihadapkan ke Miss Pohon. "Jangan bangun Miss Pohon, tidurlah yang nyenyak seperti putri tidur, kali ini aku tak punya ide tuk membantumu menghindar dari mahluk ini" kata hatiku berharap. Namun yang terjadi adalah Miss Pohon terbangun dan langsung arah mukanya menuju ke sosok cowok itu yang stay cool dengan buku dihadapannya.
Oh Allah, apa yang harus aku lakukan? ada dalam posisi seperti ini bukan inginku. Miss Pohon nampak mencoba tidur kembal. Hingga akhirnya aku memutuskan menegakkan mukaku dan kebangun dari tidur.
Dengan sedikit cemas takut habis ngeces, walau tak ada. Syukurlah he he he :)
Aku terbangun yang disusul oleh Miss Pohon. Mau tak mau aku menuggu langkah selanjutnya. Apa yang akan dilakukan Miss Pohon? Bakal nyapa ngga? Dialog apa yang akan mereka cakapkan? Kata apa yang akan keluar dari dua orang ini saat situasi mengejutkan terjadi. Dan untukku, AKU TERJEBAK DIANTARA KEBISUAN.
Tak ada kata, hanya tata-tatapan dariku dan Miss Pohon. Hingga kami memulai percakapan yang sok asyk. Akhirnya mau tak mau ku putuskan untuk mencari tema pembicaraan. Dimulai dengan menengok arah belakang yang kebetulan rak anak kesehatan. Ku edarkan keseluruh rak, mencari judul menarik. Hingga sebuah buku biru tebal menarik perhatianku. Dan judulnya adalah "Kesehatan Kandungan". Tidak, tidak lucu kalau aku membaca itu. Lalu ku putuskan edarkan mataku ke buku lain, walau asli penasaran dengan buku biru tebal itu. Akhirnya ku putuskan membaca buku yang isinya asli mumetin dengan istilah-istilah kesehatan yang aku tak pahami.
Sekitar lima belas menit berlalu, tak ada dialog apapun dari mereka. Tak ada sapa dari Miss Pohon. Dan tak ada sapa dari cowok ini (asli ngga bohong mereka saling kenal). Dan aku yang berada diantara mereka seperti satir penghalang. Oh... ini menyedihkan, asli mau ketawa? ini bukan hal yang lucu, ini lebih ke arah membingungkan. Mungkin mencari tema mulai dari buku yang berat untuk aku baca. Buka youtube nonton kartun P-Man, lalu Chibi Maruko Chan, dan status sosial medianya teman. Pokoknya jangan dia.
Untungnya dia ngga lama, ngga sampai jam 16.00 jadi ujian kami tak perlu berat-berat sangat. Tapi untukku ini melelahkan terjebak dalam situasi yang tak diinginkan. Sekenario terindah Allah atau mungkin teguran agar tidak menjadikan PERPUSTAKAAN sebagai tempat tidur.
he he he he he he :D

Rabu, 04 Oktober 2017

STORY OF MY WORD

MONSTER MATA EMPAT

Perkenalkan jenis mahluk baru yang baru sajs ditemukan, yang baru saja ngerusak mood yang dari tadi pagi sudah rusak. Mood yang emang sudah goyang, mood yang melemah, dan mood yang asli dalam kondisi mendung menjelang grimis.
perkenalkan jenis mahluk egois, yang maunya menang sendiri, mahluk yang maunya keren sendiri, dan parahnya keren diatas kerjaan orang lain. Yah keren atas jerih payah orang lain gitulah.
Ok... Ok... penjabarannya akan terlalu panjang. Kenalkan saja dia adalah mahluk ini MONSTER MATA EMPAT. Monster serem yang mempunyai empat mata, monster yang selalu waspada dan pintar mengambil peluang dikala kesempatan dan kaum lemah nan ngalahan ada. Mahluk yang mementingkan dirinya diatas kepentingan orang lain dan atas usaha orang lain. Ini levelnya jauh dari mahluk egois, lebih dari egois. Egois mending mementingkan hal sendiri atas usaha sendiri, terlihat keren sendiri atas usaha sendiri. Ini??? lebih mengerikan dari itu.
Hey? yang harus diketahui adalah Monster Mata Empat ini adalah sama-sama mahluk Allah yang bikin orang pengin makan. Orang makan orang kayak Zombie. Pokoknya mengesalkan sekali.
Mahluk ini ngga perlu dihindar, cukup diantisipasi, cukup dihati-hati.
Masih dari depan atau dari belakang atau kanan maupun kiri. Mahluk ini? nyerang dengan cara sok keren dan menjatuhkan orang lain (menyeramkan bukan?).
Masih Ingat?
"Balas dendam itu bukan dengan melakukan hal yang sama terhadap orang tersebut. Karena jika melakukan hal yang sama apa perbedaan aku dengan Monster Mata Empat?"
Terlanjur sakit hati, asli sakit banget. Air mata ini bukan benda yang beku. Bahkan kesabaran tak berbatas ini tak mampu kutangani.
balas dendamnya dengan apa?
Dengan do'a, iya denga do'a karena do'a orang yang teraniyaya mustinya dikabulkan.
Besok aku terima NGALAH. jangan diartikan kalah ya? biarin dia yang menang dengan sejuta senjata yang dia punya, yang awal munculnya keren tapi lama-kelamaan jatuh. Aku? cari lahan yang lain sajalah.
Dan air mata seakan mau tumpah, tau kenyataan yang mengerikan ini, terlalu mengerikan memang. Hingga akhirnya aku kecewa dan terluka.
Kecewa?
Makanya jangan berharap pada manusia kalau ujungnya pasti kecewa, jadi ikhlaskan. Ada Allah SWT yang akan mempermainkan situasi dan kondisi agar mendukung.
Allah Terimakasih

Selasa, 26 September 2017

SALAH TAFSIR

SALAH TAFSIR


Entah apa yang terjadi, jalan apa yang sedang dilalui. Titik demi titik yang dilalu tak tergambar dengan jelas. Jalan panjang apa yang harus dilalui? keyakinan mana yang harus dipercayai? aku terdampar dalam rasa dan keyakinan yang tak berpihak.
Aku mencari kebenaran atas pembenaran yang tak kupahami. Inginku lari dan tak kembali, tapi aku sadar bukan hanya bait puisi bermajas yang terluka dan menderita tapi seutuhnya hati ini. sejujurnya aku akan salah jika merasa benar, maka kututup rapat hati ini dan memilih untuk berlari. menghindari dan tak mencoba untuk menghadapi.
Jalan mana yang harus dituju, jika semua abu-abu. Maka pemikiranku tentangmu semakin kuat. Apa yang kau tanam dalam otakmu adalah apa yang kau lihat dan apa yang aku simpulkan, entahlah...
Hingga akhirnya, mungkin aku akan salah tafsir, salah menafsirkan setiap laku yang kau ciptakan. mungkin aku akan salah membaca setiap laku yang kau pamerkan. Nyatanya sekarang aku menafsirkan kita saling menyakiti. Melakukan semua yang sebetulnya bukan kita, melakukan apa yang sebetulnya tak suka kita lakukan. Melakukan demi dilihat aku dan sebaliknya.
Entah persepsi apa yang ingin kita ciptakan. rasanya masing-masing dari kita ingin membuktikan satu rasa. masing-masing dari kita punya rasa yang sama. Dan mungkin, bahkan keyakinan kita sama atau bahkan kita melakukan dengan tujuan yang sama.
Satu, dua, dan mungkin ketiga kalinya, aku bahkan lupa. yang jelas kita saling menyakiti, bukan suatu kepastian yang kita yakini hanya benih benci yang terpupuk dengan subur. Hingga mungkin jika tafsiranku benar, besok atau besok kita saling mengetahui untaian-untaian penyesalan yang akan terangkai.
Tapi aku lebih berharap salah tafsir, walaupun diakhir akan berbeda cerita yang tak sama. Tapi mungkin bahkan cerita kita akan lebih indah. Tak ada lagi saling menyakiti, berharap dan saling mencari. Dan jika aku salah tafsir, itu akan jauh lebih baik karena perlahan lingkunganku memang tak mampu menerima perlakuan dan semua tingkahmu.
Tenang aku masih sama seperti dicerita awal jika aku masih sangat amat sadar aku siapa. jadi berlakulah senyaman yang kau mau agar bahagia itu tercipta dengan syahdu semanis madu.

Jumat, 26 Mei 2017

CEWEK BAPER

CEWEK BAPER


Judul macam apa ini?
Saat hati tak sinkron dengan otak yang terjadi adalah pikiran ngaco yang ngga jelas nemu idenya dimana. Whatever lah aku cuma tahu aku bahagia dengan caraku, mungkin sedikit menyusahkan orang lain namun inilah aku. Senang menciptakan dunia sendiri saat yang lain asyk dengan dunia yang begitu ramai dan dengan hiruk pikuk yang padat.
Ok-ok jangan kebiasaan deh melenceng dari judul.
kemarin udah nulis tentang cowok CAPER yang bikin ilang feeling dang pengin ngelempar sendal. Ngga adil kalau ngga bahas cewek, cowok dan cewek kan saling melengkapi jadi bahas cewek juga biar terkesan adil gitu.
Cewek makhluk ALLAH yang terkenal pakai perasaan. Sedikit-sedikit pakai perasaan, dikit-dikit pakai perasaan. Perasaan udah, perasaan sakit banget, perasaan kok gitu, perasaan aku ngga nyakitin, perasaan aku ngga kayak gitu, perasaan aku ngga gendut, perasaan jadi gendut, perasaan kok bajunya udah ngga pada muat. terus-terusan pakai perasaan.
Entahlah sudah kodratnya pakai perasaan, sampai kadang lupa caranya pakai logika. Oh dunia kalau apa-apa diperasaan mah sakit hati mulu genk. Ok apa cewek selalu salah?
Ngga ngerti, rasanya ngga pernah paham masih terlalu sering pakai hati dan akhirnya BAPER. Kadang masih nyalahin cowok juga sie. Padahal ya yang namanya cowok:
Ngecat tiap hari ngga berarti cinta dan sayang, mungkin dia bosan dan ngga punya teman chat dan ngga punya kerjaan. Dan mungkin bisa jadi teman chatnya cuma 1 cewek (please yang gini emang selalu bikin baper)
Cowok terlalu peduli, jangan BAPER ya cewek cowok itu ngga cuma peduli dengan satu cewek cek dulu deh toko sebelah siapa tahu dipeduliin juga.
"Habis cowok itu baik banget sama aku"
Please cowok emang baik sama semuanya, mungkin itu emang sikapnya.
"Dia itu selalu ada buatku, pas aku minta dijemput dia ada, pas aku minta dicariin buku dia juga mau"
Sekali lagi dia memang baik, lagian ngga ada salahnya ngebantuin orang. Dan satu lagi tadi kamu minta bantuan ke dia kan? dia sedang ngga sibuk ngga ada salahnya kan bantuin ngga usah dimasukin ke hati deh...
Udah-udah stop deh baperin cowok yang belum tentu baper, paling level awal dia cuma penasaran ngga lebih. Mungkin juga cuma butuh selingan.
Ngga paham ngga mau BAPER
#Keep_Istiqomah
#Dilarang_Baper

Selasa, 23 Mei 2017

COWOK CAPER

COWOK CAPER


Cowok Caper?
Jenis macam apa cowok ini? jenis makhluk apakah ini? jenis spesies barukah?
entahlah...
Mungkin jenis cowok yang lagi ngehits gitu.
cowok adalah makhluk ALLAH SWT yang tercipta sebagai pelangkap, pendamping, dan pembimbing. Cowok juga makhluk yang seharusnya menjaga cewek secara full (baik hati maupun fisiknya). Kalau cowok masih hobby nyakitin cewek mending ke laut aja (mancing kek, berlayar kek, nyari ikan juga boleh asal ngga usah nyakitin cewek deh). Kalau ngga keluar dari planet Bumi aja nyari atau buat planet baru.
Cowok makhkluk yang lebih banyak menggunakan logika dibanding perasaaan (apa benar?) dan katanya cewek pengguna perasaan (apa benar?) whatever lah. Perasaan hukum itu tak berlaku-laku amatlah, bebas mau gunaain apapun sebutuhnya semampunya gitu. Hidupkan bukan pasal perasaan, perasaan, dan perasaan. termasuk cowok hidupnya juga bukan sekedar pasal logika, logika dan logika kan???
Whatever... mau jalanin dengan model dan macam apa, dengan teknik dan metoda apa yang penting jangan pernah lupa untuk bahagia. Ok... Ok... Ok jadi ngelantur keluar dari judul kan?
Cowok CAPER (cari perhatian) oh no? ada? ada banyak ngga usah disebut namalah, takut ganggu privasi gitu. Yah secara kenyataan sie ngga paham-paham banget metode dan cara cowok caper, lagian sebetulnya ngga terlalu peduli cuma terganggu habis bikin risih si ya. Ok lah fine kalau capernya level sedang, biasa, dan menengah, lah ini level luar biasa menyebalkan (pengin ngelempar sepatu tapi sayangnya sepatu satu-satunya dan lagi dipake, masa gue nyeker kan kagak lucu).
Ok lah dia memang sukses menarik perhatian gue, tapi jujur narik perhatian untuk nimpuk mukanya dan bilang "bisa ngga diem ngga usah ngikuti gue! bisa ngga diem ditempat dan ngga usah ngerusak pemandangan gue!" nah sebelum kata-kata itu sepatunya sudah tak timpuk duluan. Yah Alhamdulillah masih punya titik kesabaran jadi ngga kejadian (dan itu hanya khayal yang fiktif).
Untung saja di moment itu sikap cueknya masih kuat coba kalau sudah ngga kuat matilah cerita hidupku.Coba kalau level sabar dan cueknya di level "LOW" mau dikata apa coba, yang aku sebut sebagai khayalan itu bakal jadi kenyataan, jangan please jangan mau ditaruh dimana muka bulatku ini.
Kesel ngga sie?
Cerita kongkritnya gini, kan suatu siang yang terik disebuah gedung fakultas yang memanjang. Dalam sebuah urusan menacari sebuah kelas, aku keluar (posisiku ada di arah kiri gedung) tak sengaja (dan tak diharapkan) ada sosok cowok itu di arah kanan gedung. Awalnya aku kira dia tak sadar keberadaanku dan tak akan menghiraukan keberadaanku (dalam hari berdo'a jangan sadar, kalaupun sadar keberadaanku tolong jangan samperin dong) hap... hap... hap do'a itu tak terwujud, dengan langkah santai dia menghampiriku yang sedang asyk dengan hp dan selesai menyapa temannya.
Ok dia menyapaku itu akhirnya aku juga harus menyapanya. Dugaan mulai menyergap, aku kira bakal pergi ternyata tidak juga, berdiri dengan santainya (dan mungkin menyusun kata) di depanku. Temannya memberi jarak agar dia bisa duduk, tapi nyatanya jarak itu hanya dia plototin dengan seksama, hingga akhirnya aku mulai benci keadaan dan pergi untu memastikan sebuah kelas yang kebetulan ada di sebelah kanan gedung. Yah dengan langkah gontai aku melangkah meninggalkan tanpa pamit, dan entah bagaimana ceritanya dia juga ada di arah kanan gedung, kali ini menarik perhatian dengan menjaili temannya (ngga nyangka ya dia bisa jail juga) pokoknya kejadian selanjutnya lebih menyebalkan lagi ngga mood nyeritainnya habis dia itu ihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh......... MENYEBALKAN!!!!!!!!
Udah dasarnya ngga suka cowok caper, lebih suka dia yang biasa saja, ngga usah neko-neko deh. yah emang sie suka sama cowok yang ceria tapi cerianya alami ya ngga perlu di buat-buat. Be your self Boys, cewek itu ngga perlu cowok caper tapi perlunya cowok yang perhatian, gampangkan. ngga perlu cowok yang punya sejuta cewek tapi cuma perlu cowok yang setia pada satu cewek, ngga usah nyari perhatian kalau mau diperhatikan ngga gitu caranya, kalau kayak gitu mah adanya bikin ilang feeling terus benci, males ngelihat mukanya, males ketemu orangnya. go away deh...

Jumat, 19 Mei 2017

AWAL MENULIS (BELAJAR MENULIS UNTUK ANAK-ANAK)

Perkenalkan aku huruf vocal terdiri dari lima huruf, aku adalah a, i, u, e, dan o. Setelah kelima huruf vocal perkenalkan juga aku huruf konsonan b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z. Semasa kecil kita diperkenalkan 26 huruf itu, berawal mengenal satu persatu, hanya sekedar melihat, mengucapkan dan akhirnya menggoreskan huruf-huruf itu disebuah buku.
Masa pengenalan huruf biasanya diadakan pada masa taman kanak-kanak sedangkan pada masa Sekolah Dasar sudah mulai diperkenalkan yang namanya menulis kata, membuat kalimat dan akhirnya menjadi paragraph. Masih ingat saat tahun 2000 an awal, guru memberikan tugas membuat kalimat dari 1 kata contohnya dari kata. Dari satu kata itu peserta didik harus membuat kalimat.Dalam pembuatan kalimat diperhatikan benarsusunan kalimat SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan).
Contoh:
Sapu
Ani membeli Sapu di pasar
S          P          0       KT
Namun kenyataan di lapangan tak seindah perencanaan. Ada penghalang dalam proses pembelajaran tidak semua anak mampu menulis dalamsekali, dua atau tiga kali pembelajaran perlu berulang-ulang dan harus dilakukan secara intensif. Pada taman kanak-kanak sudah diajari menuliskan dengan memulai menebalkan huruf.  Jadi pada saat mereka memasuki sekolah dasar setidaknya mereka sudah memiliki kemampuan untuk menulis namun masih sangat dasar.
Walaupun sedari taman kanak-kanak sudah diberi pengenalan cara menulis tidak menutup kemungkinan ada segelintir anak didik yang belum mampu menulis. Karena setiap kemampuan anak berbeda-beda dan tingkat minat mereka yang tak sama juga menjadi faktor yang melatarbelakangi kemampuan menulis yang berbeda-beda.
Dalam setiap kelas yang dihuni oleh banyak siswa akan ada banyak karakter. Ada anak yang suka mencoba, rajin, patuh terhadap perintah guru, malas dan bandel atau nakal.Untuk anak yang berkarakter baiki kalaupun mereka belum mampu menulis mereka akan berusaha untuk belajar caranya menulis sampai bisa. Bagaimana dengan mereka yang malas dan bandel?
Untuk mereka yang belum mampu menulis dan kurang minat terhadap menulis mungkin dengan sekali-kali memberikan reward berupa gambar bintang atau mungkin sesuatu yang bisa membuat mereka tertarik dan semangat mengikuti pembelajaran menulis. Guru bisa memberikan reward kepada pesertadidik yang memiliki tulisan yang paling benar, paling rapi dan paling cepat boleh diberikan reward. Namun jangan terlalu sering memberi reward, ditakutkan pemberian reward secara terus-menerus dapat membuat persepsi bahwa melakukan sesuatu untuk mendapatkan imbalan.
Bagaimana dengan mereka yang sudah berusaha maksimal namun belum juga mampu menulis? seorang guru layaknya memberikan perhtian lebih dengan memberikan jam pelajaran tambahan pada saat istirahat, namun jika tidak memungkinkan komunikasikan kepada orang tua peserta didik jika anaknya belum mampu menulis dan perlu bimbingan khusus. Jangan sekali-kali seorang pendidik memberi label buruk kepada peserta didik karena label itu akan melekat pada anak-anak.

KIAT-KIAT DALAM MEWUJUDKAN USAHA

Dalam mewujudkan suatu usaha diperlukan yang namanya kiat-kiat atau suatu jurus agar usaha yang dilakukan tak jadi sia-sia. Perlu kiat-kiat yang super agar hasil dari usaha berwujud kesuksesan yang nyata. berikut beberapa kiat-kiat mewujudkan usaha menjadi nyata bukan sekedar angan belaka:
1. Dimulai dari niat
Segala sesuatu harus dimulai dari niat, tanpa adanya niat enyahlah semangat. Niat itu hukumnya super-duper penting, tanpa adanya niat apalah arti usaha tak akan terstruktur dengan rapi. Yah pokoknya niat, niat, dan niat dulul deh. Urusan yang lain kan bisa nyusul, ngekor dibelakang.
2. Baik dan lebih baik mempunyai kerangka berfikir
Apa sie kerangka berfikir? makhluk macam apa? wujudnya seperti apa? (bawel amat tanya mulu, hehehe just kidding, just kiding, biar isinya ngga serius-serius amat). Saya mengartikannya sebagai suatu susunan pemikiran dimana kita bisa menggunakan unsur 5W + 1H untuk menyusunnya.
a. What (apa)
Apa usaha yang akan kita jalankan?
b. Where (dimana)
Dimana usaha itu akan dijalankan?
c. Who (siapa)
Siapa yang akan menjadi subjek dan objek dari usaha tersebut?
d. Why (Mengapa)
Mengapa usaha tersebut harus ada?
e. When (Kapan)
Kapan usaha itu akan dijalankan?
f. How (Bagaimana)
Bagaimana usaha tersebut akan dilakukan?
Ok... Ok setelah pertanyaan tersebut tersusun maka akan muncullah kerangka berfikir yang memudahkan suatu usaha berjalan dengan baik atau tidak.
3. Pandai-pandailah membaca situasi dan kondisi
Penting-penting, penting banget belajar membaca situasi dan kondisi sekitar. Bagaimanapun juga lingkungan mempengaruhi suatu hal dapat dikatakan berhasil atau tidaknya suatu usaha yang sedang dijalankan.
situasi lingkungan memiliki peranan yang besar tanpa kemampuan ini apalah arti sebuah usaha. bisa-bisa perjuangan tak akan sebanding lurus dengan hasil pencapaian.
4. Pilih strategi terbaik
Strategi? satu kata yang tak kalah pentingnya untuk melakukan sebuah usaha. karakter manusia yang berbeda-beda dengan unsur budaya yang berbeda jelas memerlukan strategi yang berbeda-beda pula. cobalah untuk memilih strategi terbaik dari yang baik-baik. jangan pernah berfikir melakukan strategi yang buruk, karena imbasnya juga akan buruk.
5. Resiko
Ada dampak baik, ada dampak buruk dalam melakukan suatu kegiatan. Perhitungan resiko yang akan dialami jika melakukan usaha ini. jangan hanya memikirkan keuntungan pribadi namun perhatikanlah keuntungan bersama. berusahalah untuk berani dalam mengambil resiko, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan ini beresiko, ini tidak dan ini beresiko.
6. Action
Ingat usaha tanpa adanyan tindakan (action) apalah artinya. suatu tindakan sangatlah penting, action sangatlah penting wujudnya dinanti setelah niat, kerangka berfikir, strategi yang baik dan pertimbangan resiko tercipta.
7. Do'a
Apapun usahanya do'a tak boleh tertinggal dan terlupa. do'a sangatlah penting karena tanpa do'a apalah artinya sebuah usaha. bagaimanapun kita hanya mampu berusaha namun hasil tetap di tentukan oleh ALLAH SWT, jadi berdo'a juga amat sangat begitu penting.

Hussss..... dari tadi bahas usaha apaan sie??? dagang es doger? dagang martabak unyu? dagang apaan sie? bisnis online? kiat khusus MLM? halah macam apa ini. bukan, bukan, bukan... ini bahas usaha kok, usaha untuk mendapatkan apapun (yang baik-baik ya_ red.) ini bukan cuma buat bisnis tapi juga kiat untuk melakuan usaha yang lainnya juga...
selamat mencoba :,)

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...