Kamis, 01 November 2018

STORY MY WORD

WALAU


"Mungkin, kita diciptakan untuk saling mengenal. Lalu bertukar kata, hingga ujungnya terdiam. Kita juga ditakdirkan untuk saling diam, walau di titikku bertanya kabar tentangmu. Lalu, dititik aku merasa rindu walau akhirnya aku hanya mampu menghindarimu"

  Apa kabar kamu?
  Aku tahu, kau masih baik-baik saja bahkan lebih baik dari kondisiku. Terutama kondisi fisikku. Kau juga masih terlihat bugar, walau tak kutemui sudut wajahmu.
   Maafkan aku...
   Ku mohon, maafkan aku yang selalu menghindar darimu. Aku tak tahu, tapi aku tak mampu bertatap mata denganmu. Aku hanya takut. Bukan, bukan, aku tidak takut cinta kembali menjatuhkanku atas namamu. Tapi, aku takut luka yang bersal dari harap. Itu perih...
   Maafkan aku hati...
   Aku tak mungkin berjuang memenangkanmu, jika akhirnya terluka jelas lebih nyata terlihat akan ada.
   Maka dari itu, aku membiarkan semua berjalan sesuai dengan pemikiranku. Menghindarimu, Menganggap seakan tak pernah ada kamu. Dan membiarkan aku jadi buruk dianggapanmu.
   Hey, aku memang buruk. Iya, kau pasti lebih paham tingkat keburukanku. Udah ga cantik, tapi sok jual mahal, sombong, jutek, galak, cerewet, bawel, dan banyak lagi. Bukan tipikel cewek idaman yah?
   Galacy yang kau punya jauh lebih indah, menawarkan lbih banyak warna-warni mimpi tentang idaman. Aku percaya, aku tertinggal banyak dari mereka. Dan aku tak akan berusaha menjadi mereka.
   Kelak, akan aku ceritakan kau pada anak keturunanku. Seorang mahluk Allah yang biasa saja untukku mampu membuatku begitu terinspirasi. Membuat banyak kata berjajar di kertas putih.
   Kau hebat dan aku menyebalkan. Pasti akan sangat mengesalkan mengenai sosokku. Ada ketika membutuhkan dan pergi dengan caci yang seharusnya tidak dilontarkan. Lebih dari itu, aku membosankan bukan?
   Percayalah, aku mampu merindukanmu. Memikul rindu yang tak ringan ini. Tapi untuk menemuimu? aku lebih suka mencari cara untuk menghindarimu. Lebih dari itu, aku juga lebih suka mencari kabarmu dengan caraku bukan bertanya langsung padamu. Karena kau tahu, aku benci terkoneksi denganmu. Sangat benci, karena terluka tersebab kecewa atau menyesal.

Minggu, 28 Oktober 2018

STORY MY WORD

SEMANGAT BERJUANG


"Disebuah titik yang jauh dan panjang. Jangan lihat aku kebelakang. Aku sudah tak ada disana lagi. Aku sekarang berada pada titik dimana aku baik-baik saja. Bersama titik mereka, berbondong-bondong beruang. Bersama sebagain mereka berjalan menuju arah yang kami perjuangkan. Dan dari titik yang mampu melihat kau berjuang"

Kamu hebat, kamu masih sanggup menginspirasiku. Walau awalnya inspirasiku sekelompok mereka.
Semangat beruang Alienku, Berjuang untuk tujuan yang harus kau capai. Berjuang untuk urusan yang harus kau selesaikan.
Definisi berjuang untukku masih sangat luas. Yah, yah, yah berjuang dalam wujud apapun itu. Sebagain mereka beruang untuk apa yang mereka tuju. Sebagian mereka yang lain berjuang mempertahankan apa yang mereka miliki.
Ah berjuang itu terlalu luas. Intinya berkorban dan terkadang harus mengorbankan seseorang. Berkorban dalam dimensi berjuang.
Pada sebagian mereka berjuang untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Tapi, lupa mempertahankan kelangsungan image mereka pada sebagain lain.
Ok, jika pada titik ini mampu berkorban. Tapi, pada titik lain tidak ada kata berkorban. Malah seakan boros mengeluarkan apa yang dipertahankan. Demi penampilan!!!
Sebagain mereka pada titik ini juga lupa kalau masih ada yang dikorbankan lebih sadis. jangan ditanya, aku tidak membuat session tanya jawab yah. Entah, mungkin berjuang agar merasa memiliki derajat yang sama hingga terus mengorbankan sebagian yagn lain. Padahal, kalau berhitung tentang prioritas? jelas itu tidak perlu diprioritaskan. ayolah. Kenapa mampu memprioritaskan kebutuhan dan pengeluaran?
Semangat berjuang untukmu sebagian dari mereka. Semoga usahamu tak mengorbankan korban lain.
Sebagain yang lain, berjuang menuju tujuan yang mereka tuju. berjuang dan mengorbankan waktu luang dan waktu senggang. Berusaha berlari menuju jalan yang dituju. untukku terlihat telat, tapi aku pastikan untuk mereka itu adalah waktu yang paling tepat yang pernah ada.
Dan alienku yang masih setia menjadi inspirator sederhanaku. Kau luar biasa dengan cara yang kau pamerkan. Tak perlu kau tahu, kemarin terbesit rasa rindu untukmu. Yah Sang Pencipta selalu punya cara agar aku menyelesaikan rinduku. Dan seharusnya kau selalu paham kalau aku punya cara untuk menghindari sapa denganmu.
Jadi, bolehkah aku memanggilmu Alienku? Asing untuk di Bumi dipertanyakan keberadaannya dan mengancam keberlangsungan hidup bumi.
"Kau dan aku diciptakan di dunia ini untuk saling mengenal, membisu"
Semangat juang alienku, aku tahu kau akan baik-baik saja. Jadi, aku tak perlu mengkhawatirkanmu, Walau, aku lebih suka mengkhawatirkanmu dibanding khawatir dengan diriku sendiri.

Kamis, 25 Oktober 2018

STORY OF MY WORD

SEMANGAT BERJUANG


Jalan panjang yang terkisah luas. Aku berhenti pada titik sudut datar yang begitu melelahkan. Menemukan kawanan mereka pada titik itu. Dan menemukanmu pada titik lain. Semangat berjuang semoga Allah senantiasa melancarkan urusan dan segala kisah hidup tentangmu.


Akhir kisah kuliah, akhir dari kisah aku dan kamu bukan? jelas pada galaxy lain kita ga akan pernah bertemu lagi. Memandang dari jarak cm itu ga akan terkisah lagi. Mencarimu di titik itu juga tak akan lagi ku lakukan. Lalu menunggumu pada titik favoritku? sudahlah itu pekerjaan adik tingkat, bukan untuk menunggumu tapi untuk menunggu seseorang yang lain.

Kamis, 18 Oktober 2018

STORY OF MY WORD

CELENGAN LELAH

"Jangan tanya rindu itu apa dek? aku tak pernah mampu mendefinisikannya. Jangan tanya rindu itu seberat apa dek! Aku tak punya Om Dilan yang mampu menanggungnya"


Bukan itu yang ingin aku tulis. Bukan tentang kisahmu dek. Bukan tentang rindu yang ku emban dek, bukan itu.
Jangan tanya apa yang ingin aku lakukan dek! jangan tanya. Aku hanya ingin marah dengan keadaan dan ingin menangisi semua kesalahan yang seakan aku yang berporos. Ah, dunia terlalu mengerikan untuk diceritakan. Terlalu banyak drama dalam kisah yang memilukan. Perkara manusia bertopeng itu mengesalkan.
Ah tidak, aku masih punya pelarian yang indah. Tempat bersandar dari segala lelah. Bukan tapi tempat melepas penat yang kian menumpuk. Jadi yang menumpuk itu celengan rindu atau celengan lelah?
Bayangkan jika semua terungkap? ah apa peduliku. aku bukan satu-satunya orang yang berjuang peduli. Aku hanya ingin berbuat jadi baik. Perkara kau bagaiman aku tak pernah ingin peduli. Jadi, baiknya aku juga berhenti memperdulikan lingkungan yang tak memperdulikanku.
Mari membuat rencana A, B, dan C untuk kembali ke zona nyaman. Tempat dimana malaikat tak bersayapku duduk tenang berharap duniaku baik-baik saja.

Sabtu, 18 Agustus 2018

STORY OF MY WORD


TERKONEKSI

“Bayaran yang mahal untuk kesalahan yang aku perbuat. Dampak berat yang harus aku tanggung dari salah yang ku ukir”


Kita terpisah jarak yang berbeda. Tak boleh ada rasa yang bersemyam di lubuk hati yang terdalam bahkan yang terdasar. Aku boleh saja pernah mencintaimu atau menyalahkan cinta yang pernah menjatuhkan hatiku atas namamu. Tapi, bukannya semua juga atas kehendak salahku?
Aku harus selalu membayar mahal setiap kesalahan yang aku perbuat. Mahal-semahal mungkin. Bahkan untuk kesalahan kali ini.
Tak seharusnya kita kembali terkoneksi dalam maya. Tak seharusnya kita kembali terkoneksi dalam baris kata lagi. Tidak!!! Sebesar apapun rindu yang menyapa untuk bersarang.
Aku tak ada pada prioritas atau bahkan apapun yang kau tahu. Aku bahkan tak ada pada seonggok pedulimu. Aku siapa? kau siapa? mungkin selama ini benar-benar takdir yang menyapa kita. Mungkin selama ini kebetulan yang lebih memihakku. Mungkin selama in aku dipermainkan oleh apa yang aku rasakan.
Aku dipermainkan apa yang seharusnya tak kau yang ada disana. Entahlah, aku tak pernah paham. Setiap komunikasi atau apapun yang menyebab pada dirimu aku tak sanggup menerka walau sejuta burukmu mulai terkuak.
Kau tak seindah pandang pada jarak yang serupa dan seumpama. Kau terlalu jauh dari galaxy yang aku idamkan. Kau terlalu jauh dari jarak yang tak seharusnya tercipta. Kau bukan wujud mimpiku, bukan wujud harap dari berpuluh tahun yang ku bangun.
Kau hanya apa yang tak pernah aku pahami untuk tidak aku pedulikan, seharusnya. Kau melesat jauh dari antariksa yang tak seharusnya ada. Ah, tidak tentangmu bukannya selalu terlihat berkesan diawal berujung mengecewakan. Karena harapku terlalu tinggi?
Mari kita hitung sepersekian detik dan jalan yang harus kita temui. Mari kita hitung seberapa dalam luka yang tertoreh dari setiap kata yang kita mainkan.
Mau kau atau aku yang menyudahi? Aku tak berani terluka terlalu jauh. Tapi, aku tak berani melepas semua sementara. Bahagia coba tak ku raih. Ku tinggalkan begitu saja pada tempatnya. Berharap, semua akan sejajar pada semesta yang sama.
Jangan berhenti dari setiap kata yang kumainkan. Mari kita cari tema pembicaraan hingga kita lupa waktu. Tapi, aku takut terluka. Ujungnya juga aku tahu, kau mengakhiri semua dengan tema yang usai.
Planet pada garis edarmu terlalu banyak. Aku kalah tatap dari jajaran pandang yang kau mainkan. Aku kalah tema dan kalah menarik. Aku juga tak ingin berjuang ada. Yang aku perjuangkan adalah menghapus semua dari kisah yang tak semestinya.
Apapun niat awalku. Jika kau yang disana? Kecewa yang lebih membayangku. Luka yang lebih mengekor mengikutiku.
Aku sudah siap untuk terdiam membisu dengan kecewa yang membayang. Baiklah aku akan mencoba berdamai pada keadaan. Aku akan berdamai pada rasaku. Aku akan berdamai pada egoku. Dan aku akan berdamai pada nyata tak seindah harap sosokmu.
Akan aku dengarkan kisahmu. Akan aku baca setiap larikan dari kata yang kau mainkan. Setidaknya, aku punya banyak pembaca dari kisahku. Jadi, aku akan belajar menjadi pembaca dari kisahmu.
Tidak lebih dan tak boleh lebih. Aku hanya seorang pembaca bukan pendengar dari kisahmu. Aku tak akan berjuang menciptakan rasa nyaman atau kebiasaan pada dirimu. Aku juga tak berjuang tahu tentang dirimu. Aku hanya ada seperti ada untuk teman-temanku yang lain.
Bagaimanapun juga aku masih tahu diri. Aku masih menunggu seseorang yang siap menjadi bagian dari dunia dan akheratku. Sosok yang dia belum di jawa. Dia masih penempatan di luar jawa. Maka kami belum dipertemukan. Sosok amanah bapak. Mahluk Allah yang indah dunia bahkan akheratnya. Bukan hanya seorang ksatria negara tapi seorang ksatria surga. Bukan hanya sekedar bertameng atas nama besar sosok malaikat tak bersayap tapi karena memang pantas untuk diperjuangkan.

Rabu, 18 Juli 2018

STORY MY WORD


SETIDAKNYA


Setidaknya aku pernah menjadi semoga yang kau Aamiinkan dalam munajat panjang dimalam-malam syahdumu. Setidaknya, aku pernah menjadi yakin yang kau ikhtiarkan dengan doa. Setidaknya, aku pernah menjadi yang tercantik dipandangan yang kau tundukan.


Setidaknya, aku hanya punya kata itu. Aku tak berdaya ketika aku ketinggalan kisah. Kau telah jauh melangkah menuju jalan yang kau pilih, aku? Percayalah telah sukses menghapus derita dijatuhkan cinta atas nama yang tak pernah pantas untukku.
Bukannya dulu aku begitu takut duga mengenai cinta itu nyata. Dan setelah itu memang nyata, aku takut dan setelahnya aku kehilangan sosokmu yang ditelan takdir. Kau bahagia dengan takdir Tuhan yang begitu indah. Dan aku disinipun bahagia dengan takdir Tuhan yang selalu indah dan berpihak padaku.
Karena kau adalah ketakutan yang mengusai mayoritas benakku. Kau juga sebagaian dari ketakutan yang kuhindari. Aku punya Allah. Doamu tak kalah, tapi kau pantas mendapatkan yang terbaik. Sosok 180o dari lingkaran penyempurna agama untukmu adalah sosok yang terbaik. Memiliki kualitas hebat yang jauh dariku.
Jauh-jauh hari, aku yang kau beri tahu. Jauh-jauh hari aku yang teriak girang mendapat kabar taarufmu diterima. Aku yang amat bahagia ketika kau diterima oleh sosok bidadari dunia dan akherat macam mba-mba itu. Dan untuk selanjutnya masih aku yang amat antusia mengenai pertemuan antara kau dengannya. Aku bertanya komentarmu mengenai sosoknya, walau aku tahu kau tak akan seberani diriku menatap mata lawan jenis. Percayalah, aku benar-benar bahagia untuk takdirmu yang sekarang.
Maaf, detik itu aku mengulik masa lalu kita. Mengulik tentang 7 tahun diammu. Mengulik ketidak pedulianku atas juangmu. Aku tak bodoh dan aku tahu rasamu. Tapi, aku menghindar karena aku tak mau biasa pada kita berubah. Aku suka diperjuangkan, diperjuangkan disaat yang tepat. Diperjuangkan dengan cara yang tepat.
Mungkin kau sempat menunggu waktu. Memberimu peluang untuk berjuang. Atau bahkan kau pernah benar-benar berjuang dengan cara yang tak pernah aku hargai. Kau hebat untuk takaranmu. Dan aku merasa berharga pernah berada ditempat sepenting itu dihatimu.
Untuk selanjutnya, aku kehilanganmu. Aku kehilangan biasa kita. Rasanya terlalu cepat. Ketika aku tak perlu takut mengenai dugaku, ketika aku mulai mampu menganggapmu seorang kakak yang merangkap jadi teman tapi aku harus menjaga jarak. Aku tak mungkin sebebas dulu, jarak diantara kita harus nyata. Kau adalah nahkoda dari sebuah kapal yang harus kau kuasai melawan badai dan ombak kehidupan. Aku tak boleh jadi hiu yang merusak kapal yang kau bangun dan kau kemudikan dengan doa dan jalan yang lurus.
Aku kehilangan dirimu dari cerita. Tapi, kita tetap teman kok. Teman sekelas ga lebih. Teman reunian kalau aku sudah punya pasangan agar acara bukber ada yang nemenin.
Kau hebat, aku hanya sendiri dalam sepi dan hampa bermodal kata setidaknya. Aku bahagia seperti ini. Rasanya lepas dan bebas, tiada beban. Jikalaupun kecewa itu juga hanya sejenak terobati tawa yang lebih sempurna.

STORY OF MY WORLD


CINTA MONYET RASA KUBURAN

“Aku masih ingat setiap jengkal tentangmu, setiap gerak darimu, dan beberapa hebatnya kau mempengaruhi hidupku. Setiap sudut pelataran sekolah kita memang sudah banyak berubah dan berganti. Tapi, untuk semua sudut kenang yang tertoreh masih teringat diotak pelupaku.”

Aku kembali pada kenang Sembilan tahun silam, tepat disaat aku mengetahui keberadaanmu. Di sudut sekolah yang asri, luas dan tenang ternyata sosokmu ada. Sosok yang menyita bertahun-tahun perhatianku. Sosok yang pernah menjadi sumber semangatku. Dimana kamu sekarang?
Kalau bukan setelah waktu yang cukup panjang. Aku tak berani jamin apakah aku berani duduk di ruang tamu ruang tata usaha dan kantor guru. Dulu, semua tindakku terlalu ku perhitungkan dan kubatasi hingga diam adalah pilihan terbaik.
Aku pernah berdiri denganmu di lapangan upacara itu. Yah pasti dengan jarak yang cukup jauh tentunya. Kau bertengker pada tata suryamu, aku ada di barisan belakang tata suryaku. Aku mengedar pandang tuk menangkap sosokmu dari arah diamku. Ah cinta monyet lucu, terlebih untuk di kenang.
Ku selusuri depan ruang kelasmu, tapi tak seperti Sembilan tahun silam aku tak menemukanmu di teras depannya. Tak seperti Sembilan tahun silam, aku juga tak bisa duduk di depanmu untuk mengikuti jam pelajaran tambahan.
Selanjutnya, ku temukan sudut favoritku tuk mencarimu dengan semua sistem planet di tata suryamu. Dari kaca jendelaku, aku mampu menemukanmu yang sedang bercanda dengan teman-temanmu. Aku suka mencuri waktu tuk memandangmu dari kejauhan berharap tak pernah ada yang menyadarinya. Dan kau harus tahu, aku selalu menang karena mereka tak pernah menyadari ulahku. Ya Allah aku benar-benar terjebak kenang. Aku sudah tak ada disudut itu, kau pun juga galaxy kita benar-benar sudah berbeda. Jauh dan sangat jauh.
Lalu akhirnya, ku selusuri seluruh lorong kelas. Aku kembali ke masa 2009 dimana aku menemukanmu tanpa rasa. Karena, rasaku terkonsen ke gerombolan kakak kelas. Dulu kau berdiri disana berbaris rapi dengan seluruh penghuni sistem tata suryamu bukan? aku dulu beberapa kali melihatmu disana.
Oh iya, aku ingat ruang depan BK yang dulu dibuat untuk  memampang nilai try out ujian nasional. Bukannya, dari sana aku mampu melampaui batasku. Berawal dari rasa sebal selalu berada diposisi peringkat pararel dibawahmu, hingga di try out akhir namaku berada di jajaran kedua. Aku hebatkan? Bahkan, dulu guru kita saja kaget dan tak menyangka he he he J sampai detik ini aku juga ga nyangka kok, terimakasih cinta monyet rasa kuburan.
Dan harus kau tahu, di depan kelasmu udah ada gazebonya. Kalau saja jaman kita sudah ada mesti itu bakal jadi tempat nongkrongnya kalian. Atau mungkin genk lain.
Kau masih ingat jalanan panjang yang mengitari lapangan upacara? Aku masih ingat bertemu denganmu disana. Kita berpapasan, kau dengan sarung yang menyelempang di lehermu. Lalu, kau menarik sarung itu untuk digerakkannya seperti pecut ke salah satu teman kelasku. Itu waktu sholat dhuha benar? Ah tidak aku hanya mampu memandangimu dan berharap kau tak pernah tahu dag, dig, dug hatiku yang rusuh bukan kepalang. Dan yang harus kau tahu, setelah kejadian itu aku jadi sosok yang luar biasa hebat di kelas. Aku? Seakan tahu banyak hal di luar materi pembelajaran, aku? Dipuji guru bahasa Indonesiaku. Kok bisa yah? Kau hebat mempengaruhi hidupku, penyuntik semangat dan kepercayaan diri yang lain.
Tadi, aku mencari pohon rambutan yang dulu sebelum jam tambahan dimulai pernah kau jarah bersama segerombol temanmu. Pohon itu sudah ditebang. Dulu selesai aku sholat dzuhur kau sedang dengan segerombol temanmu berjuang mendapatkan beberapa biji rambutan matang. He he he J sekarang aku juga senang menjarah beberapa buah di kampus tercintaku, bukan ngikutin kamu karena anggap saja pemikiran kita sama walau beda waktu “sayang kalau ga dipetik, nanti jadi mubazir ga ada yang panenin,” gitu aja ya biar cepet. He he he J
Dan aku sampai pada titik yang membuat cinta menjatuhkanku atas namamu bersama titik-titik gerimis yang syahdu. Yang tak pernah ku lupa dan membuatku terjebak dalam kenang lebih dalam. Lalu memaksaku mengingat rasa yang pernah membuatku tak karuan. Di sudut jalan tempat wudhu, kau pernah mengorbankan dirimu untuk terkena rintikan air hujan bukan? aku masih ingat dengan hal itu. Ya Allah, rasa bersalahku mendarat dengan indahnya. Dengan cara sederhana bahkan kau memenuhi hatiku hingga kurun waktu yang panjang empat atau bahkan  lima tahun. Ah tidak, nyatanya setiap yang coba datang mendekat selalu masih ku banding dengan sosokmu. Kecuali sosoknya yang akhirnya mampu memenangkan perbandingan yang selalu ku buat. Yah, aku baru bisa membuka dan mengganti nama pada hati, pikir, dan khayalku di semester 3 awal kuliahku, 2016 yang lalu. Kau hebat….
Perpustakaan, dulu adalah tempat pelarianku di waktu istirahat. Dulu, aku bisa dengan mudah menemukanmu di sana. Aku tahu kau ada disana sehabis menyambangi kantin, kau disana hanya sekedar untuk membaca tabloid bola. Atau aku tak pernah tahu.
Dan hingga detik ini, aku tak pernah tahu mengapa aku begitu mengagumimu. Hingga rasanya, gugusan banyak planet dari tata surya lain tak sehebat dan seindah ahlakmu. Kamu yang pintar, kamu yang rajin, kamu yang rapi, kamu yang aktif, kamu yang memasuki semua kriteria cowok yang aku cari. Kamu……
Cinta monyet rasa kuburan. Baiklah, mungkin rasa beberapa tahun yang lalu itu benar-benar cinta, tapi rasa kuburan. Kuburan? Iya, sunyi, senyap dan hanya aku yang disana. Rasa itu aku pendam sendirian tanpa tahlilan (karena aku tak pernah berani menyebutmu dalam munajat singkatku).
Dan akhirnya rasa itu juga mati dan terkubur. Tergerus waktu dan jarak. Kita terpisah jauh dari cerita, aku tak pernah menemukanmu lagi dalam nyata. Dan aku juga tak pernah berani menyapamu dalam maya. Dalam mimpi? Kau tak pernah memunculkan diri.

Kamis, 31 Mei 2018

STORY MY WORD

TAK KENAL SEHARUSNYA TAK NYESEK


Aku melihatmu pertama kali saat memasuki sebuah ruangan yang selalu aku suka aromanya. Sebuah ruangan yang selalu aku suka setiap sudutnya. Sebuah ruangan dengan ketenangan yang hakiki. Dan sebuah ruangan yang selalu aku kunjungi kala hatiku sepi atau bahkan terlalu ramai dengan hingar bingar keadaan yang memaksaku pergi.
Aku tak tahu namamu, aku tak tahu semua tentangmu. Tapi, tunggulah hitungan detik, aku akan mengenalmu dengan detail pada setiap titik.
Kau yang? yang aku lihat dengan langkah tegap penuh percaya. Memasuki ruangan hampaku, menyita perhatian singkatku, rasanya tidak singkat tapi panjangku. Menyita secerca konsentrasiku untuk melihat arah langkah kaki mana yang kau tuju. Yah kau menuju larikan rak buku yang terpasang rapi dan bau debu. Lalu kau duduki sebuah kursi favorit yang selalu aku tuju setiap kesini. Sudut dimana aku pernah menunggu seseorang untuk datang dan dia datang. Dan sudut dimana aku menunggu seseorang untuk datang dan berbagi tentang hatinya tapi tak juga pernah datang.
Lalu kau terduduk dengan dua buah buku yang kau ambil di rak buku tadi. Konsentrasiku tertuju padamu, semua tentangmu. Bahkan, arah mataku tak ingin berhenti darimu. ah, kamu siapa dirimu. Pun dirimu memiliki konsentrasi tersendiri, indah sungguh indah dan memukau batinku.
Hingga akhirnya kau datang lagi masih dengan caramu menyita perhatianku. Indah tapi tak seharusnya kau juga mengenai rongga hati juga karena tak kenal seharusnya tak nyesek. Kau boleh saja hadir dan menyita pandangku tapi seharusnya kau tak menyerang sesak dadaku. Kan jadi nyesek, tapi kita ngga kenal itu ga adil.

Rabu, 30 Mei 2018

STORY MY WORD


DUGA ITU BERNILAI BENAR


Aku tersenyum sendiri di bawah langit mendung Wonosobo. Udara pagi ini terasa hangat dan sejuk walau nyatanya langit mendung menemani langkah lemahku. Antara enggan mengerjakan tugas dan enggan latihan diakhir pekan mengelola dan menyudutkan pikirku. Tapi, tugas mendeadlineku, aku tak mungkin berhenti dan terdiam membiarkan mereka berlalu tanpa penyelesaian pasti dariku.
Sudahlah, kemarin sudah terjadi. Isak tangisku sudah pecah dibuat dongkol oleh teman kelompokku. Karena usaha sampai tengah malamku sia-sia tiada arti rasanya. Ditambah rencana pinjam orang, tolong dimana sisi hebat kalian? Mandirilah sedikit teman. Jangan bergantung dengan orang lain!
Dari kisah ini membawaku meminta maaf kebanyak orang yang dikenal. Mereka syok bukan kepalang ketika tiba-tiba aku minta maaf. Mereka menyangkaku akan segera meninggalkan dunia ini (biasanya tanda-tanda orang meninggal mendadak giru si ya). Padahal tidak, aku hanya terlalu lelah dengan keadaan. Aku kecewa pada teman kelompokku yang membuat aku merasa tak dihargai. Dan aku rindu pada kakak lelakiku mas Salafan yang bahkan terlahir dalam keadaan tak bernyawa (aku selalu salut dengan ibuku untuk hal ini, mengandung selama 9 bulan namun melahirkan bayi tanpa nyawa). Aku juga merasa lukaku kali ini pasti juga ada sebabnya. Ini karena aku menyakiti banyak orang yang menyebabkan aku juga tersakiti.
Yah aku minta maaf dengan orang-orang yang dekat denganku. Orang-orang yang sering aku susahin, kedua orang tuaku, keluarga kecil mbaku dan teman-teman masa SMKku.
Diantara barisan itu ada dia teman SMKku, ah tidak dia lebih suka dipanggil musuhku. Mahluk Allah yang sampi detik ini masih aku bilang kalau dia saklek. Membenarkan pahamnya tanpa toleransi paham orang lain. Dari dia Cuma pinter ilmu dunia sampa dia pintar ilmu akherat/agama aku tetap tidak suka caranya mendebat orang lain. Memasakkan kehendak dan banyak hal yang tak kupahami.
Yah akhirnya kami chat. Kami membahas tentang nikah. Dan hingga ujungnya kami membahas cerita tahun 2010 dimana awal kami saling mengenal dan diorbitkan pada satu tata surya.
Dari jaman 2010 sampai sekarang aku juga tahu dia memendam rasa untukku. Dia pengin banget tuh aku datang bukber, Cuma pengin ketemu aku. Dan dia akhirnya bisa move on ga tahu di tahun kapan.
Yang jelas, dia jujur ditahun 2018 tepatnya 11 Ramadhan 1439 H. Pikir saja selama 8 tahun dia menyembunyikan rasanya. Kalau seorang cewek, aku rasa itu wajar. Kalau ditanya kenapa aku? Jawabannya karena aku jutek. Jawaban macam apa itu?
Dia memang ngeselin, tapi sukses buat aku bahagia kok. Denger dia sedang ta’arufan dan bakal nikah di tahun ini. Aku? Girang bukan main. Dan setelah itu senyum-senyum sendiri karena duga selama 8 tahunku bernilai benar. Jadi apa yang aku tahu dan sekedar aku duga itu benar. Dari dulu dia memendam rasa lebih dari sekedar teman.
Percakapannya dengan salah satu teman kami, aku tak salah dengar memang membicarakanku. Perkataan temanku selepas olahraga itu memang benar. Pujiannya didepan kelas didepan teman-teman ROHISnya itu emang nyata. Dan dia ingin ikut ekstra PMR itu karena ada aku? Itu juga mesti benar. Tapi kalau mau ikut ROHIS gara-gara aku semoga ini Cuma dugaku. Dan jangan sampai dia “Say no to pacaran before akad” juga gara-gara aku. Luruskan niatnya ya Allah.
Aku suka dia jujur diwaktu yang tepat. Disaat dia menemukan bidadari dunia dan akheratnya yang itu bukan aku. Karena jika masih aku titik yakinnya?  Maka ceritanya akan lain, aku akan bermuram durja dan berjuang menghindarinya mati-matian. Terlebih hatiku disinggahi dia yang jarak tata suryanya lebih dekat denganku.
“Hai kau yang menyinggahi hatiku tanpa permisi, seharusnya kau sadar diri. Kau harusnya pergi dari hatiku, kau seharusnya tak berdiri disitu jika kau tak berjuang dan memilih berdiam, karena YAKINKU adalah aku YAKINMU”
Jadi? Kau mau seperti dia? Jujur dikala moment yang tepat, mungkin saat aku telah memiliki yakin yang lain. Atau kau tunggu kita berbeda galaxy. Aku tak berharap mengulangi kisah yang sama. Karena harus kau tahu, aku memang tak memiliki rasa lebih untuk dia. Sedangkan, untukmu aku berharap banyak. Jadi, jika yakinku benar, tolong berjuanglah, tolong berkatalah dan bertindaklah. Aku tak mungkin terus-menerus mempermainkan diriku dalam duga dan menunggu bertahun-tahun.
Untuknya:
Sakinah, Mawadah, Waramah dan Barokah
Terimakasih telah mengajarkan ku tentang sebuah arti melepaskan dan arti diam…
Aku suka sekenarioku dengannya……..

Selasa, 15 Mei 2018

SALAH TAFSIR

ALLAH, HALALKAH RASA INI?


Bagaimana bisa cinta kembali menjatuhkanku atas namamu? Bagaimana bisa aku kembali menggenang dalam bayang tentangmu lagi? Bagaimana bisa duniaku selalu tentangmu? Hingga lelah diubah menjadi resah.
Allah, Halalkah rasa ini?
Bagaimana bisa sesak membayang cerita pada sekenario sederhana. Ketika resah teralalu berkuasa pada rasa. Hingga berat melangkah dengan sejuta kecewa. Aku lelah, aku resah. Ingin rasanya memberontak pada keadaan. Lalu mengorasikan rasa, hanya saja aku takut kecewa pada harap yang bahkan tak seumpama.
Aku tak mungkin menjelaskan padamu rasaku. Aku tak mungkin menunjukan padamu resahku. Aku tak berhak untuk semua tindak dan laku atas terdasar kamu. Untuk semua ego yang membuat aku lari dari kenyataan. Aku akan berhenti menyalahkanmu, walau nyatanya pikirku masih terus pada titikmu. Aku akan lebih maju beberapa langkah darimu. Aku akan berjuang semampuku.
Kau? tak seharusnya menyeberang pada jurang beda ini. Kau seharusnya tetap bertengker pada galaxymu. Biarkan kita terpisah ribuan juta tahun cahaya. Toh, itu lebih baik. Mungkin resahku tak akan kembali tentangmu. Dan kau tak perlu aku salahkan ketika aku lari dari duniaku.
Allah, Halalkah rasa ini?
Tak seharusnya kau membuatku begitu tersiksa dengan berjuta kenyataan yang membuatku takut dijatuhkan cinta atas namamu. Seharusnya kau hanya sosokmu, sosok yang memiliki sejuta lebih tanpa embel-embel banyak hal. Seharusnya, kau tetap kau yang sederhana tanpa semua yang kau miliki sekarang.
Allah, Halalkah rasa ini?
Jika nyatanya aku terus-menerus terluka dan meresah. Terkadang aku ingin menyalahkan keadaan bahkan takdir. Tapi, aku paham semua ilusi ku sendiri. Terkadang aku ingin menyalahkanmu, tapi nyatanya aku tak mampu. Aku tak mungkin menyalahkan orang yang tak bersalah. Orang yang hanya mengukir cerita sesuai dengan jalan cerita yang dipilih.
Jangan bergerak, diamlah pada tempatmu. Nyatanya, aku sendiri tak mampu bergerak untuk muju atau bahkan mundur. Menikmati setiap sekenario yang terjadi masih pilihan terbaik untukku. Walau, sejuta lelah menyelimuti batinku.
Ingin ku teriakan semua lelahku. Tapi aku sadar, itu tidaklah berguna, percuma! Aku hanya akan menghancurkan keadaaan dan membuat semua kenyataan semakin rumit. Aku hanya perlu berdiam, mencelotehkan rasaku dalam celoteh panjangku dan dalam rangkaian kalimat tanpa makna. Aku hanya perlu mendoakan semesta tak mendukung aku dan kamu menjadi kita. Aku hanya perlu menjadi penonton dan orang serba tahu atas kisah yang kau ukir dengan banyak bidadari surga.
Aku tak berhak atas rasa ini. Jadi, halalkan aku merasakan hal ini.  sementara, hal ini terlalu menyita waktuku, menyita lelah bahkan resahku. lalau, membuyar konsentrasiku.
Jadi, halalkah rasa ini untukku?

Kamis, 03 Mei 2018

STORY MY WORD

NING KAYLA


Siang bolong, kalau ning Kayla libur itu artinya yah diganggu putri ibu yang umurnya sekitar 9 tahun Desember tahun lalu. Jangan tanya diganggunya seperti apa, tidur pasti akan terusik. Yah dengan ajakan maina atau diganggu ditempat tidur.
Siang ini dia menggangguku dengan cara mengusiku, melempar bunga-bunga yang dia dapati di depan ndaleme  Ibuk. Aku sudah mulai terbiasa bangun tidur siang dengan keadaan seperti kuburan baru penuh dengan bunga.
"Keyla!" teriaku tahu siapa yang menaruh bunga.
Dia pasang muka lugunya dengan cengengesan di samping dipan susun.
"Oh ngedoain yah? kalau mba dulu yang mati nanti mba bakal datangin Keyla jadi hantu," kataku menakut-nakutinya.
Untuk beberapa kesempatan kami sepakat untuk berpindah kealam lain dalam waktu bersamaan. Alasannya, agar kita tidak saling menakuti ketika jadi hantu. Kesepakatan dengan anak-anak yang selalu sukses membuat aku tersenyum.
Siang ini dia begitu usil, membawa double tip sisa micro teaching diliburan semester lalu. Aku tahu double tip itu akan dia mainkan, pulang mungkin dalam wujud habis. Aku harus ikhlas karena ujungnya pasti akan sama seperti cotton bud yang tak tersisa dan tak diketahui ujungnya dimana. Pikiranku sudah negatif dulu memang dengan dia. Namun, ujungnya aku ikhlaskan lebih baik aku diam diladeni? tidur siangku hilang.
Dia sedang lumayang bertanggungjawab kali ini. Dia serahkan uang dua ribu rupiah sebagai pengganti harga double tip yang mau dia mainkan. Aku tak tahu berniat apa anak ini. Dia anak yang kreatif dan usil dengan ulahnya. Jangan tanya dia selalu punya banyak hal yang tak dapat aku jelaskan. terkadang...
"Keyla jelek, tapi jelekan mba," aku melongo mendegar pernyataannya.
"Mba cantik, tapi aku lebih cantik," yang ini tak kalah bikin melongo.
Anak kecil macam apa dia? anak kecil yang memiliki kecerdasan musik, anak kecil yang lebih menggunakan otak kanan dibandingkan otak kirinya.
Lalu setelah siang itu, dia menghilang dalam hitungan ribuan detik akhirnya muncul kembali. Disore hari yang biasa suasana kota ini tak terlalu cerah. Dia muncul dan mendekatiku.
"Mba nanti naik? sholat berjamaah?" tanyanya sederhana.
"Ga," kataku bohong.
Tolong, jangan tiru ini.
"Serius mba?" tanyanya sedikit kesal dan kecewa.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Ada deh," katanya.
Hingga magrib tiba, peraturan ditempat kami memang diwajibkan berjamaah dikala magrib, isya dan subuh. Aku naiki tangga lantai dua ndaleme ibuk. Ada yang beda pada aula tempat kami berjamaah, ada hiasan dari kertas kreb. Dan terlihat Keyla sedang menangis.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia terus melanjutkan rengekannya.
"Subhanallah," teriakku kagum melihat dekorasi aula yang berbeda.
Aula didekorasi dengan penuh semarak dan sederhana tapi ngena.
"Ini Keyla yang buat?" tanyaku setelah mengelar sajadah dibagian paling belakang shaf.
Dia menangis dan memindahkan sajadahku disebelahnya.
"Key!" teriakku keras tak ingin berada persis dibelakang imam shalat.
Mengalahlah dari pada dia semakin menjadi air matanya.
Lalu setelah selesai sholat dia menunjukan sebuah gambar yang terdiiri dari dua mata, hidung dan sebuah senyum yang dia sematkan dengan kertas krab. Sebuah gambar yang besar, dan jika itu diibarakan sebuah wajah itu wajah yang luas seperti wajahku.
"Itu gambarnya mba," katanya yang kebetulan terdengar sampai shaf belakangku membuat kami tersenyum dan bahkan tertawa.
"Kok mba sendirian?" kataku melihat gambar itu sendirian dan rasanya tak enak pada teman-temanku.
"Ga kok mba, mba ga sendirian kan ada Allah ada bintang-bintang juga," katanya menunjukan tulisan Allah yang dia buat dari kertas krab.
Iya benar kata Ning Keyla aku tak pernah sendirian aku punya Allah. Hampir saja air mataku menetes. Aku yang sedang merasa sendirian dan tepuruk tersebab keadaan yagn seakan tak membelaku. Aku bangkit dari kata sederhananya. Dia benar, gadis kecil yang usilnya minta ampun ini benar, aku tak sendirian aku punya Allah dan Allah selalu bersamaku. Aku peluk dia, yah seperti biasa dia akan melepaskan itu, kalau ga aku juga digigit.
Terimakasih Ning Keyla, saat sedih aku akan selalu ingat, bahwasanya aku tidak sendirian....

Rabu, 02 Mei 2018

STORY MY WORD

1965 DD


Jalan panjang apa yang sedang aku lalui, seakan keadaan enggan berpihak padaku. Seakan kau masuki galaxyku, seakan kau mengedar pada galaxyku. Nyatanya? iya bukan kau memang memasuki galaxyku. Entah dengan tujuan atau alasan apa yang sedikitpun tak kupahami. Andai kau tahu, aku ingin berhenti namun kau selalu melintasi galaxyku. Aku ingin mundur, tapi aku selalu gagal. Aku ingin maju tapi aku tak mampu. Aku tak mampu melukai planet-planet pada galaxymu dan galaxyku. Aku tak mungkin menjadi tersangka,karena harus kau tahu aku tahu rasanya jadi korban.
Ayo jelaskan padaku? duduklah bersamaku, akan aku dengarkan semua keluh kesah dalam hidupmu. Agar aku tahu dan paham semua yang terlintas pada benakmu. Agar aku tahu rasaku dan rasamu tak sama dan tak untuk disamakan.
Hari itu, hari yang tak pernah aku duga akan ada. Aku kira cukup galaxyku yang kau jelajahi. kenyataannya sekenario kita juga mendekatkan jarak yang ada bukan? aku tak berani menyebarang pada 2.000.000 tahun cahaya. Tapi, kau ada pada galaxyku. Itu dirimu bukan? sosok nyatamu bukan?
Dan ketika keadaan membuat kita pada satu tempat yang sama dalam kurun waktu berjuta detik yang kita punya. Pada 172800 detik lebih kesempatan untuk membagi cerita yang kita punya, aku hanya menuggu moment dan seakan kaupun sama.
Berapa moment yang kita dapat? jangan tanya jika apa yang kita lakukan sama. Jika, kau melakukan hal yang sama denganku maka apa yang kita dapatkan adalah suatu hal yang sama. Jangan tanyakan apa yang aku tunggu, bukankah kita menunggu hal yang sama?
Aku lelah! berhentilah! diamlah! pergilah!
Aku tak mungkin terus mengedar pada garis edar dimana pada orbit itu ada dirimu. Jika aku mampu aku memilih berhenti dan pergi dari cerita. Tapi nyatanya kau bukan yang memilih untuk ada pada galaxy itu? jelaskan! kumohon jelaskan padaku, jelaskan dengan rangkaian kata, berhentilah untuk memamerkan tatap yang kau punya. Aku tak pernah paham dengan tatap mata yang selalu kau pamerkan, seakan ada aku pada dua bola mata bulatmu. Tapi, nyatanya tidak bukan?
Pagi itu....
Embun memamerkan semerbaknya, semangat juang liburan dan wisata hati itu memuncak disetiap benak. Aku? dengan cara sedehanaku, menatap dan menyiapkan 2,5 hari 2 malam dengan sederhana dan seadanya. Aku tak perlu mencari yang tak aku butuhkan, nyatanya aku masih punya banyak hal yang mampu melengkapi 2,5 hari 2 malamku tak perlu ku paksa ada jika nyatanya tak ada.
Semua semangant dengan persiapan maksimal mereka, aku menjadi penonton terbaik dari baiknya penonton. Membawa semua yang aku butuhkan bukan aku inginkan. Rasanya tak perlu ku paksa ada pada ketiadaan yang tak kupunya.
Kita terpisah ruang, tapi keadaan membuat kita bersama bukan? kau pada galaxymu dimana ada aku dengan sekenario yang begitu menjebakku. Lihatlah ada aku pada cerita perjalananmu, karena keadaan memaksa kita tuk terdiam dalam ribuan detik bersama.
Aku tahu, pagi ini belum ada dirimu. Kau masih dengan gugusan-gugusan planet lain yang sejenis denganmu. Ku orbitkan diamku pada bulan disatelitmu. Sosoknya yang menyambut pagiku, dengan tawa ramah yang dia tawarkan tak lupa sederhana yang dia punya tanpa paksaan.
Aku tak tahu bagaimana selanjutnya jalani detik demi detik dimana dititik orbit ini ada dirimu. Aku terdiam, jangan salah aku terdiam bukan karena ada dirimu. Tapi sungguh ketika aku terduduk pada perjalanan panjang aku lebih memilih diam pada garis edarku, aku lebih memilih menawarkan bayang dan berjuta khayal pada otak dan imajinasiku.
Aku tahu kau ada pada titik edarmu, terduduk dengan? dengan apa? aku tak paham. Aku tak tahu sejatinya sosokmu bukan? Ah aku tak peduli kau duduk disebelah mana yang penting bukan dibelakangku persis.Yah syukurlah batasan dalam agama kita membuat aku terselamatkan dari berbagai cerita.
Detik demi detik itu berlalu dengan begitu dan seperti itu harusnya. Tak ada sapa diantara kita, karena nyatanya kau terdiam pada titikmu, begitu juga denganku terdiam pada titikku. Aku masih berharap jikalaupun galaxy kita sama, aku masih bisa membedakan kau dalam dimensi yang berbeda. Jangan tanya kenapa? Kau enggan mempertanyakan banyak hal padaku, kau lebih suka menunggu keadaan akan berpihak padamu, walau nyatanya tidak bukan?
Hingga moment itu datang...
"Hushhhh... Hushhh... Hushhhh..."
(Aslinya panggil namaku)
Aku menengok kebelakang walau rasanya enggan.
"Apa?" tanyanku dengan nada yang selalu ku tawarkan padamu.
Karena aku lupa jadi ramah, entah tapi rasanya biarlah kau hidup dengan kesan awal itu hingga ukir cerita tentang kita berakhir dengan sempurna. Dimana kau dengan cerita kehidupanmu dan aku dengan cerita kehidupanku.
"Waras?" tanyanya dengan tatap mata dan seuntai (semoga seuntai bahagia yang kau rasa).
"Ini tanya kabar atau tanya kondisi jiwa?" tanyaku merendahkan nada suaraku yang sekarang seakan berfikir dan lebih lembut.
"Dua-duanya," jawabmu dengan tatap yang masih sama.
Kalau boleh aku menawar, percakapan singkat itu boleh ada tapi alangkah baiknya bukan hal itu yang kau tanyakan atau bukan sekedar itu yang kau tanyakan. Bukan alasan agar lebih lama, tapi aku rasa kau tahu kabarku baik-baik saja.
"Kalau fisik, yahhh baiklah, tapi kalau kejiwaan? ayo cek ke Rsj yang terdekat saja," kataku dengan mantap namun sedikit memberikan pertimbangan dengan nada seaakan bingung.
Dan? hanya tawa yang kau pamerkan. Aku meminta persetujuan atau aku akhiri obrolan ini. Yah, nyatanya merangkai kata denganmu memang takan panjang dan berlangsung lama. Entah aku terkalahkan keadaan atau aku yang memang tak kau harapkan.
Entahlah....
Selanjutnya, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kita berbatas pada galaxy yang kita orbiti, aku tak berhak memilih atau bahkan menyebrang. Aku kira sapamu yang pertama dan terakhir. Dan nyatanya, kau masih memiliki kesempatan. Kau masih mempunyai tempat untuk menyapaku, dan luar biasanya dilingkungan seramai itu??? Luar biasa. Tapi sayangnya itu galaxyku bukan pada galaxymu. Aku tetap tak memperhitungkan nilai juangmu. Itu bukan cara berjuang bukan?
Lalu pada pagi propinsi lain berteman segelas indomilk, kau ada pada garis edar itu. Tapi tetap aku terselamatkan dengan benteng-benteng yang ada pada galaxy ini bukan? aku terselamatkan dari banyak hal yang tak seharusnya.
Dan pada moment yang paling aku tunggu, kau ada. Tapi keberanianku menciut saat aku ingat mengenai banyak hati pada planet-planet yang mengedar pada galaxyku dan galaxymu. Aku tak mungkin memberanikan diri melukai banyak planet pada galaxy itu. Aku tak mungkin menyeberang dan berjuang untuk hal yang sebetulnya bukan aku. Bukan karena aku takut kecewa, bukan karena aku takut terluka. Bukannya terluka dan kecewa tersebabmu aku sudah biasa? jadi mengapa aku taku. Aku hanya bertugas menjaga hati mereka, selebihnya aku tak pernah diijinkan menjadi tersangka. Kalau aku saja bisa terluka, apalagi mereka? mereka juga punya hati yang sama-sama bisa terluka. Jangan tanyakan hati dan rasaku aku sudah lelah menduga setiap gerakmu.
Dan dari perjalanan itu, wahai cowok caper yang ku kenal sederhana diawal. Kau memang sederhana, aku percaya itu. Kau yang terlihat biasa saja dengan ilmu agama yang sejujurnya tinggi. Dan kau yang ketiak aku melihat kearahmu? aku merasa malu, seakan aku bercermin. Dan pada 172800 detik yang tak aku pahami sedikitpun, aku berterimakasih pada sekenario yang membuatmu ada dalam cerita walau selanjutnya aku lelah bertubi-tubi dijatuhkan cinta atas namamu.
Aku ingin berhenti!
Aku ingin mundur!
Aku tak tahu jalan panjang apa yang sedang aku lalui, semua tentangmu masih membuatku merasa lelah. Jika aku tak terijin untuk mundur, berhenti dan pergi jadi tolong kau sajalah yang melakukan itu.

Selasa, 17 April 2018

STORY MY WORD


PADA TITIKMU

"Aku tidak benar-benar pergi, aku masih ada di sudut lelahmu. Aku hanya ingin sederhana, ketika aku mampu mengembalikan semua kesemula. Kembali keawal cerita saat keadaan masih milikmu. Dan aku ingin membuktikan hipotesa siapa yang diakuratkan kebenarannya."

Jangan tanyakan rasaku, proyek menghapus biasa dalam 21 hari tak mudah untukku. Aku benar-benar memulai semua dari awal cerita. Aku menjadi aku yang asing dengan semua yang kujalani. Aku yang lebih memilih berteman sepi dalam sendiri. Dan aku adalah aku yang nampak egois dengan langkah berteman sepi.
Aku tak mungkin memilih atau bahkan kembali keawal cerita. Aku telah memulai tak mungkin berniat mengakhiri sebelum akhir yang ku batasi. Aku tahu, ternyata kau masih pada titikmu. Aku yang terkesan meninggalkanmu. Semua pilihanku, aku tak mungkin mengusik setiap detail cerita yang seharusnya bermakna untukmu. Aku tak mungkin menarikmu ke dalam kisah semu penuh tafsir palsuku.
Aku tak mungkin menjebakmu dalam kisah yang seharusnya tak ada dirimu disana. Aku akan ada, tapi tidak menjadi bayangmu. Aku akan ada tapi tidak dengan semua biasaku, aku ada tidak lagi untuk merepotkanmu. Aku beranikan berjalan sendiri berteman sepi.
Toh untuk banyak hal kau sudah mengajariku arti berani menghadapi. Toh, tak ada mahluk Allah yang harus aku hindari lagi untuk menyelamatkan rasa dihati. Aku rasa sudah saatnya aku menjalankan amanah bapak. Sudah saatnya aku jalan dengan kedua langkah kakiku, menghadapi dunia dengan privasiku menyimpan semua lelahku dalam doa dan ketakutan yang mewujud mimpi.
Rasanya berat untukku, tapi aku tak mau pilihan lain. Aku harus berjalan, aku harus lanjutkan cerita yang lalu harus disudahi. Aku akan menjadi aku dengan aku yang sepi dan sendiri. Melangkah penuh makna dalam gores inspirasi yang lebih nyata. Aku simpan marah, lelah dan canggungku. Aku simpan sejuta cerita yang pernah terukir. Aku tak tahu, tak perlu waktu lama akan kau dapatkan apa yang kau impikan. Akan kau gantikan aku pada posisi itu. Dan dia tak akan merepotkanmu melebihi aku merepotkanmu dari segala sudut.
Nyatanya aku kalah dari cerita, aku terkalahkan lelah tersebab planet dari galaxy lain yang membuatku tak mampu terdiam membisu. Aku masih membutuhkanmu pada galaxyku. Aku menyerah dan mengaku kalah, usahaku menghapus biasa dalam 21 hari telah gagal. Aku akui aku kalah dari jalan cerita yang kumulai. Aku berhenti, tapi jangan salah aku tak menghapus biasa pada apa yang tercipta.

Rabu, 04 April 2018

SALAH TAFSIR

DAN KAU LAGI

"Tolong jelaskan sedikit padaku, aku tak tahu langkah apa yang harus aku tempuh. Aku dengan tuntutan otakku yang memaksaku membahagia kedua orang tuaku. Dan kau hadir setelah rasa itu usai, untuk apa?"


Aku tak mau tahu apa urusanmu, karena jelas aku sudah berhenti dan rasaku kemarin sudah mati. Aku tak mau peduli dengan caramu, karena pada setiap langkahmu itu bukan aku. Aku berhenti pada titik aku dimana semesta kita tak seharunya kembali sama.
Kenapa kau kembali mengedar pada titik aku? Ah tidak, kau juga punya rasa tak nyaman sehingga ada kamu pada titik itu. Ah, rasanya aku masih ingin tidak percaya, tapi itu pasti nyatanya. Maka seperti itu kenyataannya, aku akan tetap jadi aku yang ku rencanakan diawal semester dan kau harus tahu rasa yang usai itu adalah wujud penguat dari otakku untuk menyakinkan hatiku. Kau sama sekali tak sedikitpun pantas untuk aku perjuangkan.
Aku tak boleh teralihkan atas sosokmu, aku harus tetap memegang juangku. Bahwa nyatanya harus ada cita Ayahku yang harus ku wujud. Aku harus membahagiakan kedua orang tuaku, mereka prioritasku sekarang. Aku tak boleh kembali terjatuh atas namamu atau apapun tentangmu. Kau sudah mulai belajar mengerdar pada titiknya, maka lanjutkan juangmu. Seperti semester-semester yang lalu aku akan tetap menjadi aku yang memilih menonton setiap sekenario yang terangkai berperan utama dirimu.
Aku hanya masih terkejut dengan kenyataan tentangmu. Walau dugaku merangkai dengan rangkai yang benar. Aku rasa kau lebih berguna pada tempatmu sekarang dan aku akan tetap tenang berdiri kokoh pada opsiku dengan senang. Percayalah, kau tak perlu memastikan nyatanya aku baik-baik saja tanpa cerita kita.
Aku yang memilih melangkah mundur dari cerita kita. Aku yang akhirnya dihempas kecewa dari kisah kita. Dan aku adalah sosok yang dikejar cita Ayahku, aku harus temukan sosok yang membuat Ayah dan Ibuku bahagia, sosok yang dapat dipercaya kalau semua akan baik-baik saja. Sosok cita-cita Ayah. Menantu idaman Ayah, yang bahkan aku tak tahu cara menemukannya.
Dan sosok idaman Ayahku itu jelas bukan kamu. Dia sosok yang "Coba saja anak Ayah cowok pasti sudah Ayah perjuangkan menjadi prajurit negara, membela negara dan menjaga negara tanpa melupa agama," kata Ayahku suatu sore. Jelas kata Ayahku lebih sederhana dari itu, tapi maknanya sama. Dan pasti kau tahu, aku terlahir menjadi seorang perempuan, yah perempuan yang untuk masuk kemiliteran dipertanyakan, bukan apa tapi karena fisikku yang tak sekuat mimpi-mimpiku.
Aku rasa buntu untuk hal itu, aku lebih mendamba anak teknik yang melogika dengan caranya. Tapi nyatanya garis edarku ada pada titik-titik edar yang kau sebrangi. Itu terlalu melalahkan bukan? Dan nyatanya aku harus sadar bahwa semua yang terangkai jelas adanya, bukan suatu kebetulan tapi semua punya penghubung yang menghubungkan yang memang seperti itu bukan sekedar imaji atau bahkan tersebab aku. he he he aku tertawa dan memutuskan terhenti pada titik aku, mengusai jalan cerita yang pernah kita rangkai.
Dan kau lagi, tak usah sukses membuat cinta menjatuhkanku. Tetaplah jadi kau yang harus bediri pada titikmu. Aku tak akan jadi seperti kemarin yang pernah kau temui, aku akan jadi aku dengan caraku. Jadi mari kita tetap berteman, tapi tetap tanpa rasa. Aku dengan caraku, yang puas menjadi penonton. Dan jalankanlah semua yang ingin kau mainkan, karena aku tahu berhenti juga pasti sama untukmu bukan wujud suatu pilihan.
Aku yakin kau akan lebih bermanfaat dan berguna ditempatmu sekarang yang mau tak mau aku harus bilang kalau itu juga semestaku. Aku tak akan mengganggumu, aku tak akan menganggapmu ada, karena yah kamu harus tahu, aku harus belajar dari pengalaman. Nyatanya aku tak mungkin membuat kesalahan yang sama, aku tak mungkin membuatmu sama dengan dia dan aku tak mungkin terjebak pada jalan cerita yang sama, ahhhhh tak lucu, tak menarik bukan?
Dan karena lagi, lagi, dan lagi kau. Maka aku putuskan untuk? aku adalah aku, aku yang baru, aku yang mulai tak percaya dengan lingkunganku dan aku yang mulai lelah dengan semua yang aku jalankan. Maka aku mau tak mau aku akui, kau adalah sebagian alasanku untuk tak meninggalkan titikku sekaang. Bukan karena disana ada kau, tapi karena aku tak mau dibilang dan dikatain.
"Kamu pindah gara-gara ada dia?" kata semestaku.
Tidak!!!!!!
Aku tak mau mereka memiliki banyak anggapan lagi tentang sejenak pertemanan kita. Sejenak aja ga usah lama-lama aku lelah kalau kelamaan. Ha ha ha...
Ah nyatanya tidak lucu, semua yang berhubungan denganmu bukan lelucon hanya kekecewaan yang mengisah. Dan jadi semalam itu kau? yahhhh...
Yah, yah, yah, lagi, lagi, lagi, dan lagi dugaku meluncur padamu. Mau bagaimana lagi, sosokmu yang bisa berbuat seperti itu. Padahal kalau saja kau bisa lebih ramah, lebih sederhana, lebih berwibawa, lebih bijaksana, mungkin kau masih mempesona walau yang ku cari tetep saja prajurit negara. Ingat aku harus membahagiakan kedua orang tuaku, perkara dijatuhkan cinta itu urusan waktu dan tindak laku.
Lagian mana mungkin Allah ngga punya prajurit negara yang baik hati, rajin menabung, tidak sombong, dapat dipercaya, berwibawa, dan beragama pastinya. Percayalah, Allah pasti punya itu dan salah satunya untuk aku. Aamiin...
Yah mau bagaimana lagi, dan lagi kau belum masuk kategori mantu idaman Ayah, belum masuk sederhana versi Mae. Jadi aku tak mau membangun harap pada puing-puing harap yang sudah dileburkan stunami. Aku berhenti, aku memilih mencari dan bahagia dengan cara lain. Mengenai banyak hal, ahhh mari kita berteman dan cukup bekerja sama urusan lainnya? aku dengan duniaku yang aku tak tahu mana dulu yang harus aku singgahi dan kamu dengan duniamu yang terserah kamu dan lagi aku tak mau peduli.

STORY MY WORLD

SELASA, RABU
(Part 5)

"Pada lisan yang tak terkehendaki, pada lelah yang menyerah amarah. Dan ketika rasa menyerah ingin berkata sudah. Lalu sekenario tulisan berbentuk pesan yang terus membayang"

 Hari lalu mungkin usai dan akupun percaya jika hari ini akan usai. Lelahku akan tersudahi, sakit hati dan fisikku akan ku sudahi. Aku harus usai, tak mungkin terjebak dalam pikiranku sendiri, terlalu melelahkan. Aku tak mungkin terus menjadi yang bukan aku, terjebak dan terjelembab dalam luka yang bahkan aku tak tahu obatnya.
Jangan kira semua sudah berakhir. Bukan cuma perang mulut yang hampir membawa perang fisik di dalam kelas, tapi juga mungkin akan ada perang status jika aku tak menahan egoku. Jika aku hanya berfikir detik ini, jika aku hanya berfikir cara melampiaskan emosiku. Aku tak berhak, aku tak mungkin membalas story itu. Jalan satu-satunya aku diam dan melanjutkan hariku.
Seakan menjadi sebuah pulau yang baru saja terkena stunami, aku harus mampu memungut sisa-sisa reruntuhan yang mungkin masih bisa aku pertahankan. Aku juga mungkin masih bisa memungut serpihan-serpihan barang berharga yang lebih berharga dari apa yang aku punya Senin kemarin.
Aku melanjutkan aktivitasku sesuai dengan kebiasaanku, habis makan lalu shalat di kosan Pohon. Tapi masih terlalu berat, aku tak sanggup menahan air mataku.
"Ya Allah berat sekali ini, Ya Allah kenapa respon mereka seperti itu? Ya Allah kenapa harus aku? Aku lelah, Aku lelah," ucapku tak sanggup menahan air mataku yang tak beku. "Allah bekukan air mata yang cair ini, kuatkan hati yang lemah ini, hamba tak sanggup, tapi Engkau yang akan menyanggupkan hamba," Kataku sembari sesenggukan di kamar kosan Pohon, sementara itu Pohon masih mengambil air wudhu.
Aku tak sanggup menahan air mataku, yang tadi rencananya mau ditahan jangan sampai ketahuan Pohonpun gagal. Pohon mengedar pandangan dengan penuh iba, aku hanya mampu sesenggukan dan mencoba membuat senyum, walau aku gagal.
Hingga akhirnya sebuah kontak di WA-ku membuat tabletku bergetar. Aku membuka, ternyata sebuah pesan dari Karang.
"Maafin ya Bumi, barangkali aku nyinggung kamu," tulisnya pada pesan itu.
"Ga papa menghibur kok, tapi dy jangan dibercandain kasian."
"iyaa ok, maaf juga karna aku ga melihat dan merasakan, tapi mau tidak mau aku harus percaya kan keberadaan dia, ya semoga dari kejadian ini aku dan semunya bisa belajar untuk menghargai."
"Malah jangan sampai melihat dan merasakan he he he," jawabku dengan nada bercanda, seakan aku baik-baik saja tak marah sedikitpun.
"Hahaha cukup kamu aja ya," katanya ditambah dua emotikon orang botak melet.
Aku hanya membalas emotikon tertawa lebar, berharap percakapan ini berakhir. Lalu aku sampaikan pada Pohon mengenai pesan-pesan yang aku peroleh dari Karang. Pohon hanya tersenyum dan mengijinkanku untuk tetap membalasnya.
Aku pikir, karang sudah selesai dengan tugasnya. Aku dan pohon berhipotesis jika dia sedang jadi perantara untuk melihat kondisiku sekarang. Aku tak paham, tapi aku berharap kalau setelah dua emotikon tertawa lebarku dia akan berhenti menghubungiku.
"Saya mau minta maaf karena tadi bersikap seperti itu dan tidak sepantasnyaq, tapi niat saya cuma nggak ingin ada pertengkaran karna semua ikut bicara, maaf mbak Bumi," sebuah pesan dari Miss Calm yang membuat tablet sunyiku kembali bergetar.
Saya meminta pendapat Pohon, lalu setelah mendapat ijin membalas WA dari Miss Calm maka ku putuskan mulai menyusun kata. Bukan apa-apa, dalam kondisi amarah keputusan apapun akan salah, aku butuh pohon sebagai penasihat agar keputusan yang aku ambil bukan berdasar amarah tapi dari kenetralan.
"Dan mengapa saya ga bukak kesempatan yang lain bicara karena pada dasarnya saya ngga mau muter-muter terlalu jauh, terlalu menyita perhatian kalian terlalu banya, menyita waktu kalian terlalu banyak, (karena habis statistik itu lape, "Yang namanya laper emosinya mesti naik masalah kecil saja mendadak jadi besar," jare mae aku) he he he," kataku tak lupa tiga emotikon tertawa terbahak-bahak. "Ga usah minta maaf, dari kemarin tak cari yang salah ujungnya jatuh yang salah aku kok, yang tadi minta maaf banget buat semuanya, selasa besok ketemukan? tenang bakal biasa aja kok, tapi kalau ada yang pengin duduknya berjarak efek karena ada dy ngomong ga papa, atau ada keluahan apapun tentang saya ngomong aja ga papa kok," tulisanku panjang lebar, sok bijak dalam hati nyesek.
Aku mulai berfikir jika para perantara yang disuruh nanyain aku, mungkin wujud peduli mereka padaku. Atau pikiran dan perasaanku yang benar, kalau hasil wawancara via pesan WA sedang mereka publikasikan pada grup tanpa aku itu?
Aku tak mendapat balasan dari Miss Calm, dia centang satu. Entah mungkin dia sedang sibuk dengan urusannya atau mungkin sedang sibuk ikut berdiskusi digrup masih dengan topik pembahasan aku.
Akhirnya pesan Karang kembali memaskui tabletku.
"Unik," katanya dilengkapi dengan sebuah senyum emotikon.
"Aku tak paham dengan begituan, yang jelas aku nyaman jadi aku," kataku sedikit menyerah dengan keadaan.
"Hehe iya, ya bener lah, harus jadi diri sendiri juga, yang kadang bagi yang lain bertentangan," Katanya lagi.
Ah aku tak paham, apa kepribadianku bertentangan dengan kepribadian mereka? apa maksudmu Karang? Aku tak paham, aku tak mau tahu, aku terlalu lelah menghadapi nyata yang nyatanya tak berpihak padaku sedikitpun.
Yah akhirnya aku membuka tablet yang telah lama aku matikan. Aku isi daya dan akhirnya kembali aku nyalakan. Sekitar tengah malam aku membalas pesan dari Miss Calm yang aku yakin selarut ini pasti sudah berlayar di dunia mimpi.
"Iya mbak maaf banget tadi sampai nggedor meja padahal mejanya ga salah kasian, tapi beneran niatnya ga becara semua soale suasana ngga enak, saranku tapi mbak, jangan berfikiran kalau kita ngehindar dari mba dan Pohon. kita ga pernah ngehindar," katanya.
Kalian ga ngehindar dari kami, kamipun sebetulnya tak ingin menghindar dari kalian. Tapi kami ingin lebih memperjuangkan kenyamanan kalian tanpa kebrisikan kami. Kami hanya ingin beberapa dari kalian tenang tanpa suara dari kami, itu saja bukan karena kami menghindar dari kalian.
"Iya ga papa, habis statistik pantesnya spaneng, yah salah waktu juga, tapi ga mungkin ditunda rasane powl ngerasa bersalah ga nyaman sama keadaan dibandingkan cuma jadi secret reader yang aslinya adalah tokoh yang dibicarakan mending keluar saja dari grup, terus miki lagi, kalau keluar dari grup ga ijin nanti jadi pertanyaan," kataku merangkai kata dalam hati kalut tak karuan, "Eh bukan secret reader tapi silent reader, tolong bantu doanya semoga besok aku sama seperti kalian, jadi biasa tanpa sosok berbeda, jadi Bumi yang sama sebelum selasa, yang hanya Bumi tanpa dia, aamiin," tulisku memohon doa dari mereka.

Jumat, 19 Januari 2018

STORY MY WORD

SELASA, RABU
(Part 4)

"Tak mungkin ku jelaskan rasaku, tak mungkin ku ceritakan rasaku jika akhirnya semua berujung paham yang berbeda"


Pagi yang melelahkan datang menghampiri, setelah semalam suntuk tak tidur berkualitas dan Diare. Ku putuskan bersiap menghadapi kenyataaan, tak mungkin aku menghindar terlebih untuk alasan yang tak masuka akal. Aku tak ingin jadi penakut terlebih pengecut, aku mungkin ahli lari dari kenyataan tapi kali ini yang berawal harus diakhiri, jika bukan hari ini pasti semua akan tetap sama atau lebih mengerikan dari resiko yang sudah ku perhitungkan semalaman suntuk.
Muka pucat yang bukan hasil modifikasi make up dan memang bukan dibuat-buat, muka suntuk dan mau tak mau tak mungkin bisa menyembunyikan rasa sakit dari Pohon. Terlebih tubuh letih dan lemah yang tak mau mengalah ini tak baik, benar-benar tak baik bisa ganti hari? ini bukan Selasaku yang selama semester ini begitu menyenangkan dan selalu membuatku sukses tersenyum dari pagi hingga sore hari. Kenapa minggu ini Selasanya begitu menyiksa?
Pagi harinya menunggu jam kuliah, kuhampiri perpustakaan dengan rasa yang sungguh sudah tak kuat menahan beban perasaan. Antara merasa terintimidasi, takut dan semua yang tak baru pernah aku rasakan. Kutaruh tas usangku pada rak tas yang disediakan pihak hutan, lalu kuhampiri Pohon yang asyk dengan buku didepannya.
"Hah capai, hari ini aku mau minta persetujuan dan minta tolong," kataku sembari duduk di kursi favorit Pohon.
"Apa kak?" tanyanya menghiraukan bukunya dan terfokus padaku.
"Hari ini aku mau minta maaf di depan kelas, ga peduli respon mereka apa gimana? terus kalau boleh nanti minta tolong untuk jagain pintu kelas, pokoknya jangan sampai ada yang keluar kelas sebelum aku selesai ngomong bisa?" kataku meminta.
"Ok, bisa Kak," katanya memantapkan hatiku.
Setengah hatiku tinggalkan hutan belantara menuju kelas. Masih ada rasa enggan yang sebetulnya lebih mencerminkan sikap cemen tapi semua harus dihadapi. Kalau bukan hari ini kapan lagi?
Sebelum jam kuliah dimulai ku putuskan menyambungkan koneksi wi-fi ku. Sebuah pesan dari Karang masuk.
"Hahaha," tulisnya tanpa spasi.
"Alhamdulillah Karang ketawa, Bahagia terus Karang, jangan pasang muka jutek + berangkat telat powl," ketikku pada layar smartphon lalu ku kirim.
Jam menunjukan pergantian mata kuliah, mau tak mau apa yang sudah terjadi kemarin membuat berat rasanya menghadapi hari ini. Tapi aku tak mungkin menghindar, aku tak punya alasan untuk menghindar dan aku tak mungkin menghindar untuk melukai perasaanku dan memperpanjang masalah lagi.
Respon mereka benar-benar luar bisa saat pertama bertemu denganku setelah kejadian itu. Ada yang memasang muka takut, salaman terus pergi. Ada yang saling pandang seperti memberi kode. Ada yang menghindar tak mau bersalaman pura-pura tak melihat. Si Paranormal yang terlihat berkomunikasi dengan dia. Dan dari semuanya aku tahu mereka takut padaku, bukan tapi pengikutku. Aku ditakuti? tidak dibenci itu lebih cenderung kemungkinan yang mari kita benarkan.
Dua mata kuliah beralalu, ku putuskan diam selama mengikuti perkuliahan. Tak ada guna berkata jika di mata mereka hanya ketakutan terhadap sosokku. Tak ada guna bergerak aktif jika pada nyatanya bukan karena menghargai namun melukai. Aku memilih diam selama pembelajaran dan terus menggambar emotikon tertawa sebanyak yang aku mampu. Yang pertama itu adalah caraku membuat aku bahagia, yang terakhir jelas itu caraku melarikan diri dari semua perasaan dan pikiran yang benar-benar membuatku tak fokus.
Perkuliahan selesai, ini perkuliahan hari terakhir. Anak-anak meminta sesi foto kepada bapak dosen. Aku beranjak dari bangkuku yang disusul Pohon, kami menuju pintu segera merealisasikan rencana permintaan maaf kami.
"Teman-teman minta waktunya sebentar boleh?" pintaku pada mereka yang masih ribut dengan foto-foto.
"Boleh," kata beberapa anak.
Sisanya yang lain merengek minta pulang, ada karena capai, karena suatu urusan dan karena emang hobby pulang.
"Untuk kejadian kemarin, aku minta maaf karena kesalahan yang aku perbuat jadi kejadian kemari ada, karena ketledoran dan betapa pecicilannya aku maka kemarin perkuliahan jam terakhir kita ga nyaman, belum lagi kalian harus menggunakan waktu kalian buat bahas aku di grup, maaf teman-teman, bukannya aku tak tahu apa yang kalian bahas dan siapa yang kalian bahas, tapi tolong bisa tidak hargai perasaanku? jujur dengan apa yang kalian bicarakan di grup aku merasa terdiskriminasi, aku cuma manusia biasa yang bahkan seorang penakut, kejadian ini hal baru untukku, besok kalau kalian bertemu murid yang tertimpa nasib yang sama denganku tolong dampingi dia jangan diskriminasi kelebihan yang lebih pada suatu hal yang tak diharapkan," kataku panjang.
Ruang kelas mendadak seperti suasana ESQ (Emosional, Spiritual, Iq). Aku sukses menarik perhatian mereka, mereka terdiam. Ku pandangi Paranormal dan calon Bu Nyai, aku cuma ingin tahu respon mereka. Aku cuma ingin lihat sosok dewasa yang menjadi panutan kaya calon Bu Nyai akan berlaku seperti apa. Lalu yang aku tahu Paranormal pasti paham perasaanku. Tapi nyatanya tidak, mereka sama saja pandangan mereka memang terlihat mengerti perasaanku namun nyatanya  tidak, mereka sama seperti kebanyakan.
"Bukan seperti itu!" teriak Iwak yang tadinya  konsen dengan hpnya.
"Maaf, tapi aku tak membuka forum diskusi, di sini aku cuma ingin minta maaf," kataku tak ingin mendengar pembelaan atau apapun tentang  story dan percakapan mereka di grup tentang kejadian selasa kemarin.
"Ga bisa gitu dong mba kami juga ingin bicara!" kata si Polos yang biasanya bijak dan diam mendadak terllihat brutal, bukan menyeramkan lebih pada oh jadi ini aslinya dia.
"Udah! udah! udah!," teriak si Dora sembari mendebrak meja.
Kali ini ruang kelas berasa forum rapat DPR, kisruh penuh emosi dan panas. Aku? tetap tak ingin siapapun berkata-kata kecuali aku. Ini forumku dan aku cuma ingin minta maaf bukan meminta penjelasan atau dimintai maaf balik. Perkara mereka mau memaafkan atau tidak itu urusan mereka aku tak mau ambil pusing pun tak mau ambil untung.
Komting mendekatiku seakan melindungi. Yah kewajibannya mentertibkan kelas, mengurus dan mengelola kelas dengan baik. Udah kewajibannya yang seharusnya dia jalankan sedari tadi tapi nyatanya tadi dia itu:
"Kok kayak bau kembang ya?" tanya Komting kepada seorang teman saat akan melintas di hadapanku. Oh Tuhan, kuatkan hati yang lemah ini dan bekukan air mata yang cair ini aku tak mungkin menangis saat ini. Ini belum saatnya aku menangis, aku tak mungkin menggunakan air mataku untuk mencari iba dan aku tak butuh iba dari mereka aku cuma butuh maaf dari mereka.
Dan akhirnya suasana tenang kembali setelah Dora lebih mirip monyetnya yang ada di film kartun dibanding Dora sendiri di film kartun. Terlalu anarkis mereka, mungkin aktivis kampus saja tak seanarkis mereka (aku yakin kalau mereka baca tulisan ini mungkin mereka akan marah ulang padaku, tapi nyatanya aku benar-benar tak pernah berada pada situasi yang kalian pamerkan padaku wahai sesungguhnya gadis-gadis lembut, ramah nan baik hati, mari jaga sikap).
"Maaf sekali lagi, tapi aku disini ga mau buat  forum, aku cuma mau minta maaf dan mau minta ijin keluar dari grup kelas, nanti kalau ada info tentang kelas tolong kabari lewat pesan pribadi lagi," kataku lalu kutoleh Pohon meminta persetujuan untuk menyudahi atau lanjut, Pohon mengode agar aku menyudahi saja "Baik sekali lagi mohon maaf," kataku sebelum akhirnya ku tinggalkan kelas dengan sejuta ekspresi dan omongan yang sudah tak kutahu lagi.
"Kenapa ga dari dulu saja!" teriak Uztadzah.
Entah teriakan ini untuk siapa? tapi keyakinanku ini untukku. Mendengar teriakan itu aku mengambil nafas panjang berjuang mati-matian seakan aku baik-baik saja walau nyatanya aku benar-benar terluka. Ajang minta maafku terasa semakin menyesakkan dada.
Ku putuskan untuk makan di warung makan sederhana favorit kami. Berharap ada Dancow, setidaknya dia mungkin bisa mengalihkan sedikit perhatianku dari masalah ini. Obrolan tentangnya selalu saja menarik, karena keunikan caranya dan mungkin karena kami tak pernah serius ngobrolin dia selalu berujung pada bercanda. Tapi nyatanya tak ku temukan dia pada sudut warung makan itu. Iya, dia sedang ada kuliah.
Aku terduduk di depan Pohon, aku benar-benar kesal. Kami bahas ekspresi satu-persatu dari teman-teman di kelas. Hingga hipotesis-hipotesis tentang teriakan ustadzah yang menjurus padaku. Aku benar-benar emosi, hingga Pohon mengingatkanku untuk mengontrol emosi dan jangan menangis, maka ku putuskan membuka hp. Ku aktifkan data yang sedari tadi off, kulihat sebuah story dari ustadzah, "hal yang memalukan" ini story untukku? ini story dibuat beberapa menit yang lalu? yang memalukan aku? jadi minta maafku memalukan? jadi usaha mengumpulkan nyali selama semalam suntuk ga ada harganya? cuma memalukan? berani minta maaf berarti memalukan? mengakui kesalahan hal yang memalukan?
Apa yang sebetulnya mereka pikirkan? apa yang sebetulnya terjadi dengan semua ini. Tolong seseorang jelaskan. Tolong kamu yang bukan dari bagianku ataupun bagaian mereka tolong jelaskan? tolong jelaskan? meminta maaf dengan mengumpulkan sejuta keberanian dinilia memalukan? jadi kita belajar kurikulum 2013 yang lebih mengedepankan aspek karakter kemana? lalu bagaimana dengan revolusi mental yang digadang Pak Jokowi kalau meminta maaf di depan kelas dinilai sebagai hal memalukan???
to be continue...

STORY MY WORD

SELASA, RABU
(Part 3)

"Aku tak mungkin meminta kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu merasakan apa rasaku. Dan aku tak mungkin menjelaskan pemahamanku pada kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu banuyak karena aku hanya punya satu mulut. Jadi kuputuskan diam dan menutup mata seakan semua yang tertulis dalam maya itu bukan aku. Tapi maaf aku tak sanggup otakku terlalu liar untuk tak menyangka dan hatiku terlalu rapuh tuk tak terluka"

 Hari sudah sore tak mungkin kupaksa Pohon bertahan denganku dan tak mungkin aku bertahan di kampus sedang aku sendiri punya kewajiban yang lain. Aku tak punya banyak pilihan tapi aku punya ketentuan. Hidupku tak sebebas burung diluaran sana, tapi aku punya peraturan yang harus aku laksanakan dan aku punya kewajiban yang merupakan pilihan.
Kami Pulang ke tempat berteduh masing-masing. Pohon mengantarku karena teman-temanku sudah berlalu pulang. Aku tak tahu kucoba ukir senyum walau gundah itu masih jelas terasa di hatiku. Bukan suatu hal biasa dan lumrah yang aku alami, ini terlalu luar biasa untukku.
Sebuah pesan masuk di Hpku. Aku lihat notifnya, yah dari salah satu mereka yang berada di ruang 102 tadi. Luar biasa cewek secuek dia mengirimiku sebuah pesan. Yah tak perlu banyak berprasangka jelas ini karena kejadian tadi diang mau apa lagi coba, dia yang tergolong mereka akan ada ketika mereka butuh jika tidak butuh aku tak terlihat, tak terhiraukan itulah saya.
"Hayoh," pesannya dengan dua buah emotikon berbentuk hantu.
Yah mari kita panggil dia Karang, bukan karena dia sekuat karang tak terpecahkan hanya saja dia terlihat keras tak terlunakan dengan wajah yang tak ramahnya.
"Apa sie?" tanyaku polos seakan tak tahu apapun, "Hayoh apa sie? ga diabsen sama Dosen? yah udah resiko bolos kuliahkan?"
"Hihi," balasnya masih dengan emotikon hantu duanya.
Yang saya sayangkan adalah kenapa hanya dua emotikon hantu, seharusanya tiga aja biar ganjil gitu, Allah suka yang ganjil dan sayangnya dia ga tahu kalau aku suka tiga. Cuma dua itu emotikon kayak pacaran saja berdua mulu ga nambah-nambah.
"Apa si?"
"Rapapa kok wkwkw."
"Aku kira ada apa."
"Hahaha."
Sudah malam ku putuskan mematikan hpku karena hp yang sudah lebih dari satu tahun ini conectornya bermasalah. Harus dimatikan terlebih dahulu baru bisa masuk dayanya.
Sebelumnya ku buka grup terlebih dahulu yang ternyata sedari tadi sibuk membahas kejadian 102 tadi siang. Grup powl ramainya bahkan bahasan tentang tugas terlihat tak terhiraukan semua terfokus pada kejadian tadi siang.
"Walah itu perlu di Alfatehahi ya?" tanya Ustadzah kelas.
"Tadi itu namanya Ije," kata Penderek Ustadzah kelas menyebutkan nama sosok kecil yang mengikutiku.
"Hahaha," ketawa Paranormal mengomentari pembicaraan penghuni kelas "Hooh jenenge Ije."
"Ok, terimakasih Paranormal," sambung Penderek Ustadzah kelas.
"Eyu ndak?" Kata Mba Iwak menambahi.
Eyu yang dia maksud cantik atau ayu dengan bahasa Alay.
"Hooh dy ayulah," jawab Paranormal yang nyatanya dia yang bisa lihat.
"Cantikan mana sama kamu?" tanya Mba Iyu yang akhirnya muncul di percakapan kelas.
"Apa-apaan si, mesti kalau aku bolos ada saja kejadian di kelas," kata Ustadzah kelas menyesali ketidakberangkatannya.
Susah untuk mengenyampingkan percakapan dan ketakutan mereka terhadap kejadian di 102. Aku berjuang menarik nagas melegakan rasa namun rasa itu masih berat. Sesak rasanya, rasa yang tak terdefinisi berat tak mudah untuk di tanggung. Ingin ku hiraukan kejadian 102 tapi itu suatu hal yang tak mudah rasanya benar-benar sungguh berat. Kenapa sedari tadi mereka membicarakanku seakan aku tak ada? aku tahu mereka menganggapku tak tahu bahwa yang mereka bicarakan aku, tapi tolong aku ada disitu. Aku tahu percakapan kalian, aku tahu maksud kalian, tolong hargai aku, aku paham dan rasanya hati ini mulai tergores. Oh sudahlah hati jangan terluka, sudahlah otak jangan berfikir semua baik-baik saja besok.
Aku mencoba mengalihkan pikirku, ku chat Pohon. berharap pikirku beralih namun nyatanya aku gagal. Fokusku masih sama pada 102 dan pada percakapan mereka di grup yang menganggapku seakan tak ada. Belum usai dengan percakapan-percakapan itu, mereka pasti juga membicarakanku dibelakang itu, belum lagi story WA yang mereka buat menyesakkan, sungguh menyesakan.
Lalu pada akhirnya tersebab pikirku maka mata ini sungguh tak mampu terkalahkan oleh lelah badan setelah aktvitas seharian. Sungguh mataku menolak tertutup padahal lelah ini begitu menyiksa. Belum lagi ketakuatanku dengan sosok yang mengikutiku, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasa nyaman berada pada lingkungan itu terasa mengikis ditambah lagi dengan kejadian ini? ah aku bahkan tak ingin berjuang untuk paham dengan kejadian ini atau berjuang untuk mengerti. Aku yang biasa tertidur di dipanku sendiri, malam ini memutuskan berpindah ke dipan sahabatku.
Saat pikiran dan rasaku tak mendukung, mendadak aku diare. Yang  biasanya malam-malam berani ke kamar mandi sendirian mendadak jadi penakut. Lalu mata yang tak mampu terpejam ini membuat otak bekerja dengan sejuta pemikiran-pemikirannya.

STORY MY WORD

TUGASKU Tugasku hanya berbuat sebaik mungkin. Jika caa dan hasilnya tak memuaskan dan salah di mata orang lain, aku bisa apa? Aku buk...